Senin, 16 Desember 2013

Minggu 5: PELUANG

Catatan Tika Lembar 27: Rencana Ati

Setelah Tika dan Bunda berbagi rencana masa depan sekarang tinggal Ati dan Cikal.
“Aku yang akan cerita sekarang.... aku duluan ya Cikal.” Ati langsung mengambil inisiatif, Cikal langsung mengiyakan dan dalam hatinya Cikal kagum pada perubahan-perubahan yang terjadi dalam diri Ati. Sekarang ia berani berkomunikasi dan tidak takut mengambil inisiatif.
“Aku akan membangun bisnis di kampung bersama dengan kakak dan aku akan mulai melibatkan diri walaupun aku masih ada di Hong Kong sekarang. Aku terinspirasi oleh mbak Richa Susan dan mbak Wartilah yang sudah memulai bisnis sejak mereka di Hong Kong dengan bekerja sama dengan keluarga. “Ini 5 anak tangga masa depan yang aku rencanakan..” Ternyata Ati sudah membawa selembar kertas dan ia menunjukkan itu kepada teman-temannya.

Anak Tangga 1 (2013-2015)
Membantu kakak mengembangkan usaha warung dan memanfaatkan halaman rumah dan warung supaya lebih produktif.

Kemudian Ati menjelaskan:“Aku punya seorang kakak dengan beda usia 12 tahun namanya Ami. Dia yang merawat aku waktu kecil...aku punya banyak kenangan manis dengan dia. Kak Ami sudah berkeluarga dan meneruskan tradisi kami bertani bersama suaminya. Sekitar 2 tahun lalu jalan di depan tanah kami diaspal dan mendadak menjadi lebih ramai. Kak Ami dan suaminya mendapatkan ide untuk buka warung.....sudah 1 tahun lebih tapi begitu-begitu saja. Setiap hari hanya sekitar Rp 100 ribu yang didapat....Kak Ami pernah berkata di kampung mencari Rp 100 ribu saja koq susah. ..” Ati diam sejenak lalu meneruskan.
“Setelah aku belajar di MS dan bertemu teman-teman pikiranku terbuka. Aku pikir kak Ati melakukan cara yang keliru.....kalau dalam memancing kak Ati dan suami sudah beli umpan dan dan alat pancing tapi ternyata itu semua tak cocok dengan ikan yang ingin ditangkap...untuk orang sekampung warung mereka ini kemahalan harganya sedangkan untuk orang kota yang lewat di depan warung....aku kira tampilan dan menunya juga tidak cocok. Serba tanggung begitu....jadi yang datang adalah orang-orang kepepet...penduduk kampung yang kehabisan makanan atau orang kota yang kepepet lapar sehingga berhenti warung kak Ati...hanya sedikit pelanggannya...” Ati rupanya terus menyimak sewaktu di kelas maupun selama mereka berdiskusi. Ia sekarang pandai menganalisa dan menghubungkan apa yang telah dipelajari dengan bisnis kakaknya.

“Aku akan mendiskusikan hal ini dengan keluarga kak Ati dan aku akan mengusulkan anak mereka Arman agar mulai dilibatkan. Aku juga minta mereka memanfaatkan kolam yang ada di belakang warung dan banyak pohon buah yang ada di belakang warung. Disana juga ada kandang-kandang binatang. Aku minta mereka pertimbangkan membuat kebun binatang mini. Orang kota kan jarang sekali lihat kambing...lihat sapi...lihat bebek dan angsa. Seharusnya dari kebun dan kolam yang di belakang warung ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk menarik pelanggan...khususnya pelanggan dari kota...” Ati sangat mantap menjelaskan dan kemudian ia menutup dengan kalimat.” Sebelum usaha warung kak Ati penjualannya dari Rp 100 ribu sehari naik sampai Rp 500 ribu perhari aku tidak akan pulang kampung.....Aku mau praktek bisnis dari jauh...aku akan jadi konsultan bisnis kak Ami membantu dia membesarkan usaha. Aku sengaja membuat target ini untuk membakar semangatku selain itu aku ingin memastikan pada saat pulang kampung aku sudah 50% sukses... Sudah ada yang dikerjakan.....tinggal melanjutkan dan meningkatkan supaya aku tak perlu bingung saat di kampung....” Teman-teman Ati kaget juga dengan pernyataan ini, Ati menunjukkan sebuah cara berpikir yang logis dan hati-hati. Ia bercita-cita sekaligus mengelola risiko dengan baik.

“Aku kira rencana Ati ini masuk akal dan cerdas...........aku kenal seorang teman yang begitu pulang langsung buka usaha dan mendapatkan banyak kesulitan...dia tidak paham situasi lapangan...siapa pelanggan dan siapa-siapa pesaing utama juga tak diketahui dengan baik. Selain itu ternyata menggalang kerja sama dengan keluarga juga perlu waktu...kalau tiba-tiba mereka bisa kaget. Kemudian ketika semua masalah terjadi mereka baru sadar bahwa mereka tidak punya teman diskusi di kampung. Akhirnya dia kembali ke Hong Kong.....Hmm..ini sebuah cara yang kreatif yaitu menggalang kerja sama dengan keluarga atau teman di Indonesia sementara masih kerja di Hong Kong. Boleh juga ya diceritakan kepada teman-teman lain barangkali saja cara ini cocok juga untuk mereka...” Tika mencoba menyimpulkan dan kemudian meminta Ati melanjutkan ke anak tangga yang ke 2.

Anak Tangga 2 (2015-2017)
Membuka warung Keluarga Bahagia 2 bekerja sama dengan keponakan atau teman yang memiliki visi dan semangat yang sama.

Ati menunjukkan Anak Tangga ke 2 sambil menjelaskan.
“Dengan ikut membesarkan usaha bisnis kak Ati maka aku akan mendapatkan 3 hal sekaligus. Pertama aku akan mendapatkan pengalaman membesarkan usaha bisnis. Yang kedua dengan dikembangkan maka nama warung itu akan makin terangkat ...jadi mereknya mulai dikenal. Ketiga aku sudah melatih keluarga kak Ati termasuk Arman keponakkannu. Inilah juga balas budiku kepada kak Ati.....” Pernyataan Ati ini juga sebuah pencerahan bagi para sahabatnya. Ternyata dengan melakukan bisnis bersama dengan keluarga juga ada manfaat yang lain yaitu melakukan pelatihan secara tidak langsung. Ke 4 sahabat ini makin asyik mendengarkan dari Ati.

“Langkah selanjutnya adalah membuka cabang dari warung tsb...oh ya sebelumnya aku akan beri nama warung itu...aku akan usulkan nama warung itu adalah Keluarga Bahagia.....artinya ini adalah warung dari orang-orang yang bahagia untuk membahagiakan pelanggan...bahagia melalui makanan yang enak dengan harga pantas ... serta tempat bermain anak yang alami dan bersih di belakang warung....”
“Sip....sip....kreativitas sudah mulai kelihatan...” Akhirnya Cikal tak tahan juga untuk berkomentar. Demikian juga Bunda tiba-tiba bertanya karena penasaran.
“Ati... aku dengar nih dari teman-teman.....katanya sulit mengatur saudara dalam bisnis...gimana tuh solusimu....?” Ati kemudian meneruskan dan menjelaskan.
“Aku kenal Arman...dia anak baik...namun sebelum aku ajak membuka usaha bisnis..aku akan katakan kepada dia beberapa syarat. Pertama bisnis perlu komitmen dan aku minta dia berdedikasi membangun usaha ini. Dia akan jadi pemilik bersama dengan aku jadi mental dan perilaku harus seperti entrepreneur. Kedua kalau di 2 tahun pertama dia juga tidak serius ikut mengembangkan warung yang pertama maka aku tidak akan mengajak dia bersama aku membuka warung yang ke 2...walau saudara dekat aku harus tegas...dan tegas itu harus di depan dan bukan di belakang...nanti banyak masalah kalau diurusnya dibelakang...” Ati kemudian menunjukkan anak tangga dia yang ke 3. Rencana ini membuat sahabat-sahabat Ati geleng kepala karena untuk para sahabatnya bisa memiliki sebuah usaha bisnis yang sukses sudah membuat mereka puas tapi Ati ternyata sudah punya impian dan upaya bagaimana mengembangkan warung Keluarga Bahagia dari satu hingga banyak...masing-masing warung akan punya nomor.
“Wah bagaimana caranya ya......?” Mereka semua bertanya dalam hati dan tak sabar mendengar rencana Ati berikutnya.

(bersambung)

Minggu, 15 Desember 2013

Minggu 5: PELUANG

Catatan Tika Lembar 26: Rencana Bunda

Bunda sekarang mendapat giliran untuk menceritakan rencana hidup.
“Aku membagi kehidupan dalam beberapa anak tangga dengan tujuan akhir memiliki usaha katering sendiri. Anak tangga yang pertama adalah kerja magang di usaha katering yang ada di Hong Kong..aku akan belajar disana...aku ingin tegaskan bahwa aku bukan hanya belajar sampai bisa tapi harus ahli dan hebat dalam hal ini. Itu anak tangga yang kedua jadi seseorang yang hebat dalam memasak Chinese Food.....seandainya di Hong Kong ada lomba masak Chinese Food diantara orang asing....maka aku akan ikut dengan target juara. Untuk mencapai itu...masih ingatkan dengan Teresa teman dari Chen anak terkecil dari Bobo? Aku dikenalkan oleh Chen karena aku mencari informasi...dan Teresa memimpin sebuah usaha katering di Hong Kong...aku sudah bertemu Teresa aku katakan aku mau magang...kerja ngga digaji tidak apa..aku katakan setiap libur aku sanggup kerja 4 jam tanpa dibayar...untuk aku ini kursus gratis...untuk Teresa ya tenaga kerja gratis...tentu ia tak akan menolak. Aku akan kerjakan ini dalam waktu 1 tahun ke depan....melalui Teresa aku akan mencapai anak tangga pertama dan kedua”

“Seterusnya...?”Ati tak sabar mendengarkan.
“Hmmm...seterusnya adalah anak tangga ke 3 yaitu kerja perusahaan katering di Semarang supaya aku bisa serumah lagi dengan anakku dan aku targetkan jadi kepala koki masakan Chinese Food...aku tidak mau dari bawah lagi sebagai tukang cuci piring....aku akan buktikan bahwa aku sanggup jadi kepala koki...aku akan ceritakan bahwa aku magang di Hong Kong di perusahaan katering. Untuk sasaran ini upaya aku selama 1 tahun ini adalah membina hubungan dengan pengusaha katering di Semarang.....aku sudah berkomunikasi dengan mantan bossnya Tiara temanku dulu...boss ini punya usaha katering di Semarang dan akan dapat pesanan untuk pabrik milik orang Hong Kong...aku sudah kontak dia dan mengatakan dalam waktu 1 tahun aku akan bisa membantu dia...aku katakan paling sedikit 100 resep akan aku kuasi. ....aku benar-benar nekad deh....Jadi anak tangga yang ke dua adalah jadi kepala koki untuk katering khusus Chinese Food. Upayanya adalah magang di Teresa dan kumpulkan resep paling sedikit 100 resep dan terus berkomunikasi dengan pengusaha katering di Semarang...” Bunda tampak sekali memiliki rencana yang jelas.

“Jadi kau...kembali jadi pegawai...bagaimana cita-cita entrepreneur mu Bun...?” Tika bertanya dengan rasa heran.
“Cita-cita itu tetap ku pelihara dan tetap menyala...itu rencana berikutnya setelah nanti aku 3 tahun bekerja di tanah air....selama aku bekerja nanti aku akan bekerja bukan sekedar untuk gaji...aku bekerja untuk BELAJAR dan BERTUMBUH MAKIN SIAP...aku sengaja tidak mau langsung buka usaha katering.......aku harus jujur pada diri sendiri aku belum siap....aku masih perlu belajar....setiba aku di tanah air aku mau memiliki waktu dan perhatian yang cukup untuk anakku....aku mau prioritaskan anak dulu...aku tidak mau di tahun-tahun pertama di tanah air aku pontang panting mengurus usaha bisnis yang baru lahir sehingga anakku kembali tak mendapatkan perhatian....masih ingatkan pak Ucec mengatakan ada 3 jalur masa depan yaitu ENTREPRENEURSHIP (jadi entrepreneur), EMPLOYABILITY (jadi pekerja professional) & EDUCATION (meneruskan pendidkan). Aku mengambil dulu jalur employability atau karyawan sebagai sasaran pertama di tanah air namun pikiran jiwaku tetap menuju posisi entrepreneur...itu akan aku capai posisi entrepreneur secepatnya 3 tahun dan selambatnya 5 tahun setelah aku kerja di perusahaan katering. Inilah anak tangga ke 4 untuk aku.....”

“Wah..ternyata kau membuat sebuah jalinan anak tangga yang kreatif...mengkombinasikan berbagai hal tapi ujung-ujung nya menjadi entrepreneur....aku salut Bun..” Dengan tulus Ati memberikan pujian.
“Jadi jumlah anak tanggamu ada 4 ya Bun....” Demikian Cikal ingin memastikan.
“Tidak...tidak aku punya 5 dan barangkali tahun depan jadi 6 atau 7...hidup terus bergerak dan aku ingin terbang lebih tinggi....”Bunda menjawab dengan terseyum.
“Sekarang apa anak tangga ke 5 yang sudah kau pikirkan Bu...?” Tika bertanya dengan rasa ingin tahu.
“Anak tangga ke ...adalah membangun usaha bisnis bersama anakku semata wayang...sebuah usaha bisnis yang mengakar dari bakat dan talenta anakku....aku ingin memiliki usaha bisnis yang dibangun bersama dia...aku akan membantu dia bagaimana memulai dari nol dan kemudian menumbuhkan jadi besar.........aku ingin mewariskan ilmu entrepreneurship kepada anakku....bukan usaha bisnis yang aku wariskan tapi ilmunya......inilah hadiah terindah yang ingin aku berikan kepada anakku” Bunda menjawab dengan mata sedikit berkaca karena teringat pada anaknya.

(bersambung)
Minggu 5: PELUANG

Catatan Tika Lembar 26: Rencana Bunda 

Bunda sekarang mendapat giliran untuk menceritakan rencana hidup.
“Aku membagi kehidupan dalam beberapa anak tangga dengan tujuan akhir memiliki usaha katering sendiri. Anak tangga yang pertama adalah kerja magang di usaha katering yang ada di Hong Kong..aku akan belajar disana...aku ingin tegaskan bahwa aku bukan hanya belajar sampai bisa tapi harus ahli dan hebat dalam hal ini.  Itu anak tangga yang kedua jadi seseorang yang hebat dalam memasak Chinese Food.....seandainya di Hong Kong ada lomba masak Chinese Food diantara orang asing....maka aku akan ikut dengan target juara. Untuk mencapai itu...masih ingatkan dengan Teresa teman dari Chen anak terkecil dari Bobo? Aku dikenalkan oleh Chen karena aku mencari informasi...dan Teresa memimpin sebuah usaha katering di Hong Kong...aku sudah bertemu Teresa aku katakan aku mau magang...kerja ngga digaji tidak apa..aku katakan setiap libur aku sanggup kerja 4 jam tanpa dibayar...untuk aku ini kursus gratis...untuk Teresa ya tenaga kerja gratis...tentu ia tak akan menolak. Aku akan kerjakan ini dalam waktu 1 tahun ke depan....melalui Teresa aku akan mencapai anak tangga pertama dan kedua”

“Seterusnya...?”Ati tak sabar mendengarkan.
“Hmmm...seterusnya adalah anak tangga ke 3 yaitu kerja perusahaan katering di Semarang supaya aku bisa serumah lagi dengan anakku dan aku targetkan jadi kepala koki masakan Chinese Food...aku tidak mau dari bawah lagi sebagai tukang cuci piring....aku akan buktikan bahwa aku sanggup jadi kepala koki...aku akan ceritakan bahwa aku magang di Hong Kong di perusahaan katering. Untuk sasaran ini upaya aku selama 1 tahun ini adalah membina hubungan dengan pengusaha katering di Semarang.....aku sudah berkomunikasi dengan mantan bossnya Tiara temanku dulu...boss ini punya usaha katering di Semarang dan akan dapat pesanan untuk pabrik milik orang Hong Kong...aku sudah kontak dia dan mengatakan dalam waktu 1 tahun aku akan bisa membantu dia...aku katakan paling sedikit 100 resep akan aku kuasi. ....aku benar-benar nekad deh....Jadi anak tangga yang ke dua adalah jadi kepala koki untuk katering khusus Chinese Food. Upayanya adalah magang di Teresa dan kumpulkan resep paling sedikit 100 resep dan terus berkomunikasi dengan pengusaha katering di Semarang...” Bunda tampak sekali memiliki rencana yang jelas.

“Jadi kau...kembali jadi pegawai...bagaimana cita-cita entrepreneur mu Bun...?” Tika bertanya dengan rasa heran.
“Cita-cita itu tetap ku pelihara dan tetap menyala...itu rencana berikutnya setelah nanti aku 3 tahun bekerja di tanah air....selama aku bekerja nanti aku akan bekerja bukan sekedar untuk gaji...aku bekerja untuk BELAJAR dan BERTUMBUH MAKIN SIAP...aku sengaja tidak mau langsung buka usaha katering.......aku harus jujur pada diri sendiri aku belum siap....aku masih perlu belajar....setiba aku di tanah air aku mau memiliki waktu dan perhatian yang cukup untuk anakku....aku mau prioritaskan anak dulu...aku tidak mau di tahun-tahun pertama di tanah air aku pontang panting mengurus usaha bisnis yang baru lahir sehingga anakku kembali tak mendapatkan perhatian....masih ingatkan pak Ucec mengatakan ada 3 jalur masa depan yaitu ENTREPRENEURSHIP (jadi entrepreneur), EMPLOYABILITY (jadi pekerja professional) & EDUCATION (meneruskan pendidkan). Aku mengambil dulu jalur employability atau karyawan sebagai sasaran pertama di tanah air namun pikiran jiwaku tetap menuju posisi entrepreneur...itu akan aku capai posisi entrepreneur secepatnya 3 tahun dan selambatnya 5 tahun setelah aku kerja di perusahaan katering. Inilah anak tangga ke 4 untuk aku.....”

“Wah..ternyata kau membuat sebuah jalinan anak tangga yang kreatif...mengkombinasikan berbagai hal tapi ujung-ujung nya menjadi entrepreneur....aku salut Bun..” Dengan tulus Ati memberikan pujian.
“Jadi jumlah anak tanggamu ada 4 ya Bun....” Demikian Cikal ingin memastikan.
“Tidak...tidak  aku punya 5 dan barangkali tahun depan jadi 6 atau 7...hidup terus bergerak dan aku ingin terbang lebih tinggi....”Bunda menjawab dengan terseyum.
“Sekarang apa anak tangga ke 5 yang sudah kau pikirkan Bu...?” Tika bertanya dengan rasa ingin tahu.
“Anak tangga ke ...adalah membangun usaha bisnis bersama anakku semata wayang...sebuah usaha bisnis yang mengakar dari bakat dan talenta anakku....aku ingin memiliki usaha bisnis yang dibangun bersama dia...aku akan membantu dia bagaimana memulai dari nol dan kemudian menumbuhkan jadi besar.........aku ingin mewariskan ilmu entrepreneurship kepada anakku....bukan usaha bisnis yang aku wariskan tapi ilmunya......inilah hadiah terindah yang ingin aku berikan kepada anakku” Bunda menjawab dengan mata sedikit berkaca karena teringat pada anaknya.

(bersambung)

Jumat, 13 Desember 2013

Catatan Tika di Kelas Dasar Mandiri Sahabatku

MINGGU 1: Tema Road Map & Anak Tangga Masa Depan

Catatan Lembar 2: Menjadi Pahlawan Untuk Diri Sendiri.

Diskusi dengan teman-teman di Kelas Dasar membuat Tika mulai memikirkan dirinya sendiri. “Kata mereka di tanah air kami ini pahlawan devisa..... itu bagus tapi sekarang tiba saatnya aku jadi pahlawan untuk diriku sendiri...”. Demikian pikiran itu seketika muncul di dalam benak Tika. Pelajaran sepanjang pagi sampai sore memberikan pencerahan dan juga kejutan-kejutan. Ia membuka kembali catatan-catatan yang dibuatnya ketika mendengar dan menyimak apa yang dibagi oleh pelatih/mentor dari UCEC (Universitas Ciputra Entrepreneurship Center), antara lain:
• Kita semua pasti akan jadi tua dan jangan jadi orang tua yang miskin, tidak punya teman, sakit-sakitan lalu masuk neraka pula.
• Kita semua akan masuk ke masa depan dan kelak di masa depan sana akan ada “jaman gak bisa”. Mulai dari ngga bisa lihat jauh, nga bisa lihat dekat, ngga bisa makan sembarangan, ngga bisa jalan cepat terus setiap tahun bertambah ngga bisa nya sampai akhirnya ngga bisa nafas lagi. Jangan sampai nanti di jaman ngga bisa kerja kita tidak punya uang sedikitpun untuk membiayai kehidupan.
• Orang gila adalah orang yang melakukan hal yang sama berulang-ulang tapi mengharapkan hasil yang berbeda. Ini kata mbah Einstein.
• Saya adalah orang yang paling bertanggung jawab terhadap masa depan saya.
• Saya dapat mengubah masa depan bila belajar, berubah dan berinovasi dengan melakukan ilmu entrepreneurship.
• Ilmu entrepreneur adalah mengubah kotoran dan rongsokan jadi emas. Atau yang tak berharga diubah jadi berharga.
• Caranya adalah mengembangkan kreativitas dan inovasi.
• Cita-cita yang tinggi bisa dicicil jadi sasaran-sasaran yang lebih sederhana dan dilakukan berurutan sehingga jadi anak tangga menuju sasaran yang jauh lebih tinggi.
• Setiap sasaran harus dicapai melalui upaya-upaya.

“Hmm...pikiran tanpa tindakan tidak membawa kemana-mana..” Tika kembali bertekad. Ia harus berani membangun impian besar kemudian menjadikan impian itu sebuah sasaran besar yang terukur selanjutnya mengembangkan sasaran-sasaran kecil berdasar sasaran besar itu dan akhirnya dengan bergerak dan bertindaklah yang akan membawanya ke impian tsb. Sebagai seorang anak petani miskin tidak pernah ada dalam impian Tika memiliki sebuah usaha sendiri. Menjadi majikan demikian banyak orang mengatakan, menjadi pengusaha atau entrepreneur itu yang disebut-sebut di Kelas Dasar adalah sesuatu yang terlalu besar untuk Tika yang berijazah SMP. Namun hari Minggu tgl 17 November 2013 menjadi hari yang berbeda karena adalah kali pertama dia berani mengatakan kepada dirinya “kenapa tidak..?” Ya kenapa tidak menjadi majikan dan meninggalkan status buruh dengan sengaja. Dengan hasrat meluap ia menuliskan dalam lembar Road Map bahwa 5 tahun lagi ia akan ada di Yogyakarta, berkumpul bersama adik dan sepupunya, menjadi entrepreneur yang mengelola warung lesehan, punya penghasilan sama seperti di Hong Kong. Lalu apa ya berikutnya...? Bagaimanakah sasaran besar ini dibagi jadi sasaran-sasaran kecil? Tika yang sudah lama meninggalkan bangku sekolah memang tidak mudah menganalisa dan berpikir seperti mengerjakan PR di masa lalu. “Kalau ngga sekarang kapan lagi..” Itulah suara yang berteriak dari kedalaman hatinya dan itulah yang membuat Tika meneruskan menulis dan tiba di lembar yang ke 3.
Catatan Tika di Kelas Dasar Mandiri Sahabatku

MINGGU 1: Tema Road Map & Anak Tangga Masa Depan

Catatan Lembar 1

Tika akhirnya memutuskan untuk ikut Kelas Dasar Mandiri Sahabatku berkat ajakan yang gigih dari seorang teman sekampung yang pernah ikut kelas sebelumnya. “Pelatihan seperti apa lagi sih.....”. Demikian ia berpikir namun setelah mempertimbangkan kegigihan temannya dan pelatihan Mandiri Sahabatku itu gratis akhirnya tgl 17 November 2013 lalu ia datang juga ke Hotel Reinesance di Wanchai. Begitu ia datang rasanya Tika disambar geledek karena pertanyaan-pertanyaan dari para pelatih membuat dia berpikir ulang apa arti pengalaman hidupnya selama bekerja di Hong Kong selama 12 tahun terakhir ini. Begitu banyak pikiran baru yang membuat dia jadi terhenyak dan menanyakan kembali apa yang ia sudah terbiasa lakukan selama ini selama bertahun-tahun dan begitu lama.

“Apakah aku akan mengakhiri karir hidupku yang begitu berharga sebagai pensiunan BMI...?”.
“Kalau ada pilihan lain yang bisa aku perjuangkan apakah aku akan tetap memilih jadi BMI..?”
“Kenapa aku membiarkan hidupku selama 12 tahun melakukan hal yang sama berulang-ulang...?”
“Bisakah aku memiliki ijazah STM (Sanggup tidak Miskin)...?”
“Apakah aku bisa...?”

Hari Minggu itu Tika belajar bagaimana mengungkapkan impian dalam bentuk sasaran. Berbeda dengan sekedar impian yang indah sasaran adalah tujuan yang dapat kita ukur secara waktu maupun besaran angka yang lain. Contoh sasaran adalah sbb:

• Tahun 2018 saya ingin buka Warung Lesehan dengan kapasitas 50 tempat duduk.
• 5 tahun lagi saya ingin punya toko sembako dengan penjualan perhari mencapai Rp 2 juta.
• Akhir tahun 2018 saya akan buka katering dengan penjualan minimum Rp 10 juta per bulan.
• Di akhir kontrak yang ke 2 atau 4 tahun lagi saya akan buka usaha kolam gurame dengan 2 kolam untuk 500 ekor bibit.

Tika juga belajar bahwa kita tidak perlu takut membuat sasaran yang besar karena sasaran yang besar dapat kita bagi jadi sasaran-sasaran yang lebih kecil yang saling tersambung dan makan lama makin meningkat mendekati yang besar. Bukankah sasaran yang besar itu bila kita merintisnya tahap per tahap dengan setia maka akan mungkin tercapai, nah itulah yang sekarang jadi kesadaran baru Tika. Sebagai contoh seorang anak umur 6 tahun ingin jadi sarjana. Bisakah? Pasti bisa asalkan sasaran-sasaran lebih kecil berikut ini ia dapat capai yaitu dapatkan ijazah SD, lalu ijazah SMP, lalu ijazah SMA dan terakhir ijazah Perguruan Tinggi. Tika mengakhiri lembar pertama catatan belajarnya setelah menyelesaikan pelatihan minggu pertama di Kelas Dasar Mandiri Sahabatku dengan mengatakan kepada dirinya sendiri:”Tiba saatnya aku jadi tour leader untuk hidupku sendiri, aku ingin memiliki pilihan-pilihan dalam hidup ini, merancang hidup seindah mungkin dan berani membayar harga dengan kerja keras atau belajar keras sekalipun....” . Sekarang lembar 2 sudah ada di tangannya. Tika merenung sejenak ada banyak hal yang ada di kepalanya. Sekarang apa yang harus aku tulis berikutnya...? Ia kemudian menghubungi teman-teman sekelasnya di Kelas Dasar itu dan bertanya apa saja yang mereka dapatkan di hari pertama.


Catatan Tika di Kelas Dasar Mandiri Sahabatku

MINGGU 1: Tema Road Map & Anak Tangga Masa Depan

Catatan Lembar 3: Mengembangkan Sasaran-Sasaran yang Lebih Kecil

Sekarang Tika sudah memiliki sebuah sasaran besar untuk hidupnya yaitu memiliki dan mengelola sebuah warung lesehan di Yogyakarta, di kota tempat dimana adiknya tinggal kelak 5 tahun lagi. Tika mencatat apa saja yang ia butuhkan untuk bisa sukses memiliki dan mengelola warung lesehan itu. Ia memikirkan sasaran-sasaran lebih kecil apa yang harus ia capai untuk pada akhirnya bisa memilki sebuah warung lesehan, ia kemudian membuat catatan di buku hariannya sebagai berikut:

• Untuk ada warung lesehan harus ada lokasi yang tepat yaitu lokasi yang banyak dilewati orang atau dekat dengan tempat keramaian. Jadi punya lokasi yang tepat adalah salah satu sasarannya.
• Untuk sukses perlu paham dan mengerti dunia bisnis. Harus belajar dari orang-orang yang sudah sukses menjalankan usaha bisnis. Tika kemudian mencatat bahwa dia harus ikut MS (Mandiri Sahabatku) sampai selesai.
• Tika juga menyadari bahwa selain unsur bisnis secara umum dia juga harus paham bagaimana mengelola warung lesehan dengan baik. Ia perlu tahu tentang jam operasional, cara mengatur menu, cara melayani pelanggan, dimana saja bahan baku dibeli, bagaimana mengeloa karyawan, bagaimana berpromosi, apa saja kebiasaan pelanggan di Yogya dll. Untuk itu Tika memutuskan untuk jadi orang yang sangat paham bisnis kuliner sama seperti orang yang pernah mengerjakan bisnis itu selama 1 tahun.
• Tika kemudian mulai membayangkan warung lesehannya seperti apa ya? Ternyata tidak gampang juga nah sekarang dia berpikir bahwa dia perlu ada yang membantu dalam merancang warung lesehan itu. Tika kemudian mencatat bahwa dia harus memiliki sebuah rancangan warung lesehan yang indah, asri namun murah sebagai sasaran. Harus ada yang menggambar tapi siapa yang akan menggambar ini semua..?
• Sekarang ada banyak hal yang ternyata harus dilakukan. Tika mulai memikirkan berapa modal yang harus ia keluarkan. Ternyata secara kasar dia harus punya Rp 200 juta untuk bangunan, peralatan dan modal kerja. Tapi itu belum termasuk harga tanahnya. Dia bisa menabung mengumpulkan Rp 200 juta tapi bagaimana dengan biaya untuk lahannya? Tika kemudian memutuskan bahwa dia harus bisa menabung selama 5 tahun ke depan sampai sebesar Rp 200 juta dan mendapatkan mitra usaha yang dapat menyediakan tanah.

Sekarang sudah ada daftar sasaran berikutnya bagaimana daftar sasaran ini menjadi sebuah urutan sasaran. Mana yang harus didahulukan mana yang harus berada paling belakang? Ini membutuhkan waktu cukup lama untuk Tika memikirkannya dan ia diam sejenak sebelum masuk ke lembar yang ke 4.
Catatan Tika di Kelas Dasar Mandiri Sahabatku

MINGGU 1: Tema Road Map & Anak Tangga Masa Depan

Catatan Lembar 4: Menyusun Sasaran Menjadi anak Tangga Masa Depan

Sekarang Tika punya ke 5 hal tsb dan memikirkan bagaimana mengurut sasaran-sasaran ini. Tika berpikir sungguh-sungguh dengan menyediakan waktu dan juga berdiskusi dengan teman-temannya. Inilah yang jadi pertimbangan-pertimbangan Tika dalam membuat urutan:

1. Membangun diri jadi entrepreneur adalah sebuah peristiwa besar dalam hidupnya. Ia akan dan harus membuat keputusan-keputusan penting dalam hidupnya yang memiliki dampak besar dan juga risiko tersendiri. Tika sadar ia harus mampu membuat keputusan dengan sebaik mungkin untuk itu ia membutuhkan informasi-informasi tambahan supaya ia dapat mengambil keptusan dengan tepat. Ia sadar ia lahir bukan dari keluarga entrepreneur, ia sadar ia masih miskin pengetahuan tentang bisnis jadi mendapatkan ilmu dan informasi sebanyak mungkin adalah sasaran-sasaran awal yang ia harus lakukan.
2. Ia harus mendisplin diri untuk menabung.
3. Tika akan mengambil keputusan-keputusan yang berisiko setelah ilmu bisnis warung lesehan ia kuasai dan ia akan memanfaatkan nasehat dan masukan dari orang-orang yang ahli. Supaya waktu tidak berlalu begitu saja Tika harus membuat target waktu kapan masa membangun kecakapan dan mengumpulkan informasi akan selesai dan kapan keputusan-keputusan penting harus diambil.

Dari 2 pertimbangan diatas akhirnya Tika mengambil keputusan-keptusan berikut ini:

• Langkah yang paling gampang adalah ikut Mandiri Sahabatku sebagai usaha memahami bisnis dengan beinovasi. Tika menyebut ini sebagai Sasaran 1, yaitu sasaran yang ia bisa lakukan segera.
• Setelah Sasaran 1 nanti selesai yang mana yang harus ia selesaikan? Setelah berpikir sejenak Tika memutuskan bahwa ia harus tahu lebih banyak tentang bisnis kuliner dan ini ada 2 cara. Pertama belajar dari buku, pengamatan dan cerita teman dan berikutnya adalah belajar praktek langsung di lapangan. Nah untuk praktek lapangan ia pikir tidak bisa dilakukan sekarang selama di Hong Kong. Sekarang ini di Hong Kong ia akan belajar dari buku, pengamatan dan dari teman. Itulah Sasaran 2 dari Tika.
• Sembari melakukan Sasaran 1 dan Sasaran 2 maka Tika memutuskan untuk menyisihkan Rp 2,5 juta perbulan supaya dalam waktu 5 tahun atau 60 bulan sedikitnya ia akan mendapatkan uang Rp 150 juta dan kalau ditambah bunga tabungan serta tabungan saat ini akan dicapai uang sejumlah Rp.200 juta. Inilah Sasaran 3 dari Tika.
• Sasaran 4 untuk Tika adalah magang di warung lesehan di Yogyakarta atau di sekitar Yogyakarta. Ini akan dilakukan setelah selesai kontrak kerja di Hong Kong. Untuk Tika hal ini penting sebab ia sesungguhnya bukan orang yang berani mengambil risiko. Orang bilang dia terlalu hati-hati. Nah untuk jalan amannya maka Tika memutuskan strategi “biar lambat asal selamat” yaitu belajar sebanyak mungkin sambil bergerak terus ke muka.
• Sembari melakukan Sasaran 4 maka Tika berpikir inilah saatnya mulai mencari-cari lokasi yang tepat dan murah. Ia berpikir kalau pengetahuanku makin banyak maka aku akan makin cermat dan tepat dalam memilih lokasi. Inilah Sasaran 5 dari Tika.
• Setelah Sasaran 5 apa sasaran berikutnya? Tika mulai membayang-bayangkan masa depannya kembali dan ia memutuskan bahwa dia harus bisa memperoleh gambaran sederhana bagaimana bentuk dari warung lesehan itu. Ia menutuskan untuk mencari gambar arsitektur yang bagus, asri namun murah.
• Setelah Sasaran 5 maka Tika berpikir inilah saatnya mencari mitra. Ia menuliskan bahwa Sasaran 6 adalah mencari mitra yang mau bekerja sama. Apakah menyediakan dana atau menyediakan tanah serta bangunan. Tika berpikir kalau dia datang ke calon mitra dengan pengetahuan yang banyak tentang bisnis kuliner, ada pengalaman magang dan ada gambar bangunan yang bagus tapi sederhana maka itu akan lebih meyakinkan calon mitra. Akan lebih mudah bagi mitra untuk tertarik pada gagasan Tika dari pada hanya membawa segepok “proposal”. Tika berkata pada diri sendiri:”Syukurlah, aku belajar membuat sasaran dan membaginya jadi sasaran-sasaran yang bertahap..”.

Sore itu Tika dengan wajah sumringah menulis dengan mantap satu persatu sasaran-sasaran kehidupan yang ingin dia capai dalam waktu 5 tahun ke depan. “Oh,..ternyata untuk aku ada 6 sasaran lebih kecil yang aku harus selesaikan satu persatu sebelum menyentuh sasaran besar punya warung lesehan yaitu di sasaran yang ke 7..” Itulah yang Tika katakan kepada dirinya sendiri. ‘Untung aku tidak buru-buru mengambil kesimpulan bahwa buka usaha itu yang paling penting modal, ternyata niat, nabung dan nekad tidak cukup, harus tahu dulu ilmunya supaya bisa mengambil keputusan-keputusan yang tepat...”. Sekarang Tika makin sadar betapa pentingnya belajar entrepreneurship sebelum membuka usaha. Tika mengakhiri tulisan catatan dia di lembar 4 dengan hati yang main mantap dan bersemangat.
Suka ·  ·  · Ikuti Kirim
Catatan Tika di Kelas Dasar Mandiri Sahabatku

MINGGU 1: Tema Road Map & Anak Tangga Masa Depan

Catatan Lembar 5: Mengembangkan Upaya-Upaya untuk Tiap Sasaran

Tika memulai lembar 5 catatannya dengan merenungkan kembali apa saja yang telah ia lihat dan ia dengar di hari Minggu tgl 17 November 2013 itu. Kembali ia bergumam:”Oh..baru aku mengerti apa artinya hidup yang naik keatas dan bukan dibiarkan seperti air mengalir. Dengan membuat sasaran-sasaran dalam kehidupan aku sedang naik keatas...”. Ia juga sadar sekarang apa itu yang dimaksud dengan SMA atau Semangat Masuk Akal. Bukan sekedar semangat-semangat saja untuk mengubah masa depan tapi harus ada cara yang masuk akal untuk meraih impian walau itu bertahap. Tika berkata kepada dirinya sendiri:” Asal tekun dilakukan dan dilakukan tiap hari maka aku sedikit demi sedikit akan bergerak makin dekat dengan impian itu”.

Sekarang dia melihat dan mencoba mengisi lembar kedua yang diberikan trainer UCEC di pelatihan, disana terdapat kolom UPAYA yaitu upaya-upaya apa saja yang harus dilakukan untuk mencapai sasaran-sasaran yang ingin dicapainya.

SASARAN & UPAYA

Sasaran 7: Membuka usaha bisnis warung lesehan.

UPAYA
• Untuk saat ini sungguh-sungguh mendoakan cita-cita ini dulu setiap hari dan meminta keluarga untuk ikut mendoakan.

Sasaran 6: Mendapatkan mitra untuk membangun usaha bisnis bersama.

UPAYA
• Akan menggunakan waktu selama kerja magang untuk memperluas jejaring kenalan untuk mencari calon-calon mitra untuk membuka usaha.

Sasaran 5: Mendapatkan gambar rancangan warung lesehan yang indah, asri tapi murah.

UPAYA
• Mencari informasi apakah ada teman masa SMP, teman adik, tetangga atau keluarga yang memiliki keahlian merancang bangunan.
• Mengumpulkan gambar-gambar warung lesehan.

Sasaran 4: Magang kerja di warung lesehan di Yogyakarta sambil survey lokasi warung lesehan.

UPAYA
• Komunikasi dengan adik di Yogya untuk mencari informasi warung lesehan mana yang pantas jadi tempat magang. Minta adik mencari warung lesehan yang sudah sukses.

Sasaran 3: Menabung untuk mencapai Rp 200 juta di 5 tahun lagi.

UPAYA
• Buka tabungan di Bank Mandiri.
• Ikut program Mandiri Tabungan Rencana

Sasaran 2: Memanfaatkan waktu luang di HK untuk mengumpulkan informasi sebanyak mungkin tentang bisnis kuliner

UPAYA
• Mencari teman-teman yang memiliki cita-cita yang sama dan membentuk group FB tersendiri.
• Membaca buku-buku dan berita tentang bisnis kuliner.
• Ikut bantu teman yang bisnis kuliner di Hong Kong.

Sasaran 1: Menyelesaikan Kelas Dasar dan Kelas Lanjutan dari MS (Mandiri Sahabatku) dan setelah itu ikut PEK (Pengantar Entrepreneur Kuliner) melalui online

UPAYA
• Menyampaikan ke majikan jadwal pelatihan MS supaya dapat cuti di hari-hari tsb
• Selalu datang sebelum waktu dan tidak akan absen
• Selalu membuat catatan dan melaksnakan tugas.
• Selalu memantau kegiatan kelas di FB Mandiri Sahabatku.

“Wah ...ternyata tidak terlalu sukar juga ya menulis upaya-upaya selama sudah ada sasarannya dan disertai semangat yang besar untuk mencapai cita-cita”. Kini Tika makin mantap saja memandang lembar catatan belajarnya. “Tapi bagaimana ya kalau ada yang tak terduga bolehkah diubah...?”. Kali ini Tika teringat akan pelajaran kemarin disana dikatakan bahwa lembar Road Map dan Sasaran-Upaya itu adalah rencana pribadi setiap peserta yang bisa berbeda satu sama lain dan boleh diubah kapan saja asalkan tetap naik ke atas dan menuju sasaran besar mencapai impian kehidupan.

“Seperti pesan para trainer, aku akan fokus dulu di Sasaran 1, setelah itu Sasaran 2 demikian seterusnya, lambat tapi mantap, alon-alon asal kelakon, tidak selalu jelek. Yang penting tiap hari harus bergerak menuju cita-cita...”. Tika terus memotivasi dirinya dan di akhir lembaran ke 5 catatan belajarnya kembali ia merenung. “Ah..betul juga ya ilmu entrepreneurship itu ilmu kehidupan...”Demikian Tika berkata pada diri sendiri. “Untuk membuat kehidupan kita lebih baik dengan cara ber-inovasi..” Demikian ia mencoba menduga isi pelajaran minggu 2. Malam sudah larut Tika menutup buku catatannya, hatinya lega dan nyala semangat hidupnya makin membara rasanya. Rasanya ia ingin segera mencapai minggu 2 untuk belajar lagi namun tokh itu tetap harus ditunggu jadi Tika tentunya harus segera tidur malam ini. Malam itu Tika tidur nyenyak dengan hati lega dan membiarkan pikirannya dipenuhi oleh sasaran-sasaran yang ingin dia capai sampai terbawa mimpi sampai beberapa hari kemudian.
Suka ·  ·  · Ikuti Kiriman · 22 November pukul 5:06 di sekitar Daerah Khusus Ibukota Jakarta