Jumat, 13 Desember 2013

Minggu 3: Kreativitas & Inovasi

Catatan Tika Lembar 15: Ati melakukan Transformasi

Minggu malam setelah usai pembelajaran di Hotel Reneisance dan diskusi kelompok belajar Selera Nusantara selesai dilakukan ternyata Ati tidak bisa tidur. Malam semakin larut, semua penghuni rumah telah tidur namun Ati tetap tak bisa tidur. Apa yang sudah ia lihat dan dengar menggoncang sendi-sendi keyakinan hidupnya.
“Kenapa selama ini kesulitan hidup aku ijinkan jadi kepahitan....?”
“Kenapa selama ini perkataan orang jadi pandu hidupku...?
Ati teringat pada masa kecil dia sebagai anak dari keluarga miskin yang kurang gizi. Kecil dan hitam itu sosok dia dan ejekan demi ejekan harus ia jalani dan luka batin itu memasung dirinya sendiri. Semakin diejek ia makin surut, semakin dihina ia makin memisah diri. Keping-keping masa lalu yang menyedihkan sudah menjadi sebuah penjara untuk Ati untuk bergerak maju.
“Kenapa aku tak bertindak seperti ulat?”
“Menjalani kepedihan untuk berubah bentuk jadi kepompong lalu jadi raja kupu-kupu..”
“Kenapa aku tak jadi Sylvester Stallone, mendedikasi kehidupan untuk impian yang indah..? Demikian Ati coba mengingat pelajaran dari ibu Evelyn.

Ati melihat keluar melalui jendela apartmen. Hong Kong ditengah kegelapan malam ada kerlap-kerlip cahaya dari lampu kota dan lampu gedung. Ada gelap dan juga ada kerlip cahaya ..dua-dua ada di sebuah bingkai malam yang sama. Kemana kita melihat? Kepada gelap atau kepada cahaya? Itulah pikiran-pikiran yang berpacu dalam diri Ati, akhirnya sebuah pencerahanpun tiba.
“Hidup adalah pilihan, dalam gelap kita bisa melihat cahaya..... kalau kita memilih untuk melihat cahaya maka cahaya yang akan kita lihat....ini..ini yang aku cari...kenapa bertahun sudah hanya gelap yang kulihat..padahal ada kerlap kerlip cahaya disana.....!!” Hampir Ati melompat-lompat, hampir ia berteriak-teriak, Ati hanya mengacungkan tinggi kedua tangannya ke atas, mengangkat kepala memandang ke atas dan berseru dalam suara batin terkeras.
“Hidup adalah pilihan dan aku memilih untuk melihat cahaya, aku memilih untuk naik tangga mulai malam ini...”
Dengan cepat dicarinya buku harian miliknya dan dengan sepenuh jiwa ia tuangkan pergulatan batin yang baru dialaminya dalam sebuah puisi yang ia beri judul Keping-Keping. Ya...keping-keping masa lalu pernah meraja di hidupnya dan sekarang ia putuskan bahwa Ati bersama Sang Maha Pencipta adalah pemegang kendali masa depan dan bukan lagi keping-keping masa lalu yang pilu.

KEPING-KEPING

Keping-keping itu berjatuhan begitu saja
Berserak dan tercecer dari kisah lama
Keping-keping berkata:”Biarkan aku hidup denganmu..”

Keping-keping itu mengalir begitu saja
Seakan aku adalah sebuah ceruk yang dalam dan lebar
Keping-keping berkata:”Biarkan kami menggenangi mu..”

Keping-keping itu berderai bersama air mata
Keping-keping itu meretas merampas impian
Keping-keping itu menggoda jiwa yang sepi

Sudah dua dasa warsa keping-keping mencuri kemerdekaanku
Keping-keping adalah kisah biadad yang mengendap
Keping-keping adalah luka jahanam yang meradang

“Cukup sudah kataku.....!”
“Hidup yang sekali terlalu mahal hanya jadi keping-keping”
“Mulai hari ini aku adalah seterumu..”
Keberanianku menggelora untuk melawan keping-keping

Sekarang ku tatap mata keping-keping dengan gagah dan berani
“Adalah hak ku untuk membuatmu lebih berkeping-keping jadi bubuk tanpa kuasa...”
“Jadilah kau keping-keping abu untuk angin dan ombak samudera....”
“Jadilah kau keping-keping pasir untuk anak tangga kehidupan...”

Keping-keping gentar gemetar ketika ku labrak
Keping-keping mundur ketika ku seruduk
Keping-keping tiada ketika siapkan kapak baginya

Sekarang ku tahu tak susah bertempur menghancur keping-keping
Baru aku berteriak dengan berani keping-keping sudah bergiming
Baru ku acung tinju keping-keping bersiap untuk kabur
Baru ku tahu sekarang keping-keping takut pada hati yang berani

Sekarang kuasa keping-keping melayang entah kemana
Keping-keping hanya tinggal gores tinta di buku harian tua
Keping-keping hanya jadi foto-foto lama tanpa nyawa
Lumat sudah kuasa keping punah ditelan tanah seperti kubur tanpa pusara

Desember 2013

“Apa berikutnya..?.”
“Tidak boleh berhenti sampai tulisan, harus ada tindakan...!” Demikian Ati bertekad.
Kemudian ia melihat-lihat kembali catatan pembelajarannya dan akhirnya sebuah gagasan jitu masuk ke dalam pikirannya.
“Dulu aku dikenal sebagai si Ati sunyi sepi karena terlalu banyak diam...sekarang aku mau dikenal sebagai Ati yang aktif dan ramah...”
“Dulu aku dikenal sebagai Ati bisu seribu bahasa...sekarang aku mau menjadi Ati yang cakap berkomunikasi dan berelasi....ya waktunya sekarang” Ati mulai menambah semangat untuk dirinya sendiri.
“Sekarang bagaimana anak tangganya...?” Ia lalu membuka halaman baru di buku hariannya dan inilah gagasan Ati untuk mentransformasi diri dari ulat jadi kepompong untuk terbang jadi kupu raja.
“Rumusnya adalah Senyum, Salam, Sapa & Sampaikan Pujian...atau 4S”
“Minggu ini aku mulai dengan membiasakan diri terseyum kepada sebanyak mungkin orang, minggu berikut membangun kebiasaan menyampaikan salam, selanjutnya melatih diri menyapa dengan pertanyaan yang dapat membangun percakapan dan selanjutnya adalah menjadi orang yang terbiasa memberikan pujian secara tulus...” Ati mulai terbayang-bayang bagaimana nanti ia akan melewati proses semua itu dan kemudian tumbuh jadi pribadi baru.

Malam itu walau lebih larut ia tidur Ati tidur dengan sangat nyenyak. Ia sedang membuka lembar baru untuk kehidupannya. Esok dia sudah bertekad untuk memberikan seyum terlebih dahulu kepada orang yang ia jumpai.
“Senyum itu gratis.., tak usah beli bahannya di toko untuk bisa melakukannya”
“Seyum itu hadiah indah dan paling murah yang bisa kita berikan kepada sesama”.
“Senyum itu menyembuhkan...diri sendiri dan orang lain..”
“Senyum itu adalah pintu untuk komunikasi dan relasi...”
“Senyum itu sama sekali tak sulit...lakukan Ati, lakukan Ati..”
Inilah sura hati yang menggema dalam diri Ati ketika esoknya ia jelang. Ati sedang bergerak bertransformasi menuju sosok kupu-kupu raja.

(bersambung)
Bagaimana dengan teman-teman semua apakah sudah memulai kebiasaan yang baru untuk membangun masa depan yang baru..?
Minggu 3: Kreativitas & Inovasi

Catatan Tika Lembar 15: Ati melakukan Transformasi

Minggu malam setelah usai pembelajaran di Hotel Reneisance dan diskusi kelompok belajar Selera Nusantara selesai dilakukan ternyata Ati tidak bisa tidur. Malam semakin larut, semua penghuni rumah telah tidur namun Ati tetap tak bisa tidur. Apa yang sudah ia lihat dan dengar menggoncang sendi-sendi keyakinan hidupnya.
“Kenapa selama ini kesulitan hidup aku ijinkan jadi kepahitan....?”
“Kenapa selama ini perkataan orang jadi pandu hidupku...?
Ati teringat pada masa kecil dia sebagai anak dari keluarga miskin yang kurang gizi. Kecil dan hitam itu sosok dia dan ejekan demi ejekan harus ia jalani dan luka batin itu memasung dirinya sendiri. Semakin diejek ia makin surut, semakin dihina ia makin memisah diri. Keping-keping masa lalu yang menyedihkan sudah menjadi sebuah penjara untuk Ati untuk bergerak maju.   
“Kenapa aku tak bertindak seperti ulat?”
“Menjalani kepedihan untuk berubah bentuk jadi kepompong lalu jadi raja kupu-kupu..”
“Kenapa aku tak jadi Sylvester Stallone, mendedikasi kehidupan untuk impian yang indah..? Demikian Ati coba mengingat pelajaran dari ibu Evelyn. 

Ati melihat keluar melalui jendela apartmen. Hong Kong ditengah kegelapan malam ada kerlap-kerlip cahaya dari lampu kota dan lampu gedung. Ada gelap dan juga ada kerlip cahaya ..dua-dua ada di sebuah bingkai malam yang sama. Kemana kita melihat? Kepada gelap atau kepada cahaya? Itulah pikiran-pikiran yang berpacu dalam diri Ati, akhirnya sebuah pencerahanpun tiba.
“Hidup adalah pilihan, dalam gelap kita bisa melihat cahaya..... kalau kita memilih untuk melihat cahaya maka cahaya yang akan kita lihat....ini..ini yang aku cari...kenapa bertahun sudah hanya gelap yang kulihat..padahal ada kerlap kerlip cahaya disana.....!!” Hampir Ati melompat-lompat, hampir ia berteriak-teriak, Ati hanya mengacungkan tinggi kedua tangannya ke atas, mengangkat kepala memandang ke atas dan berseru dalam suara batin terkeras.
“Hidup adalah pilihan dan aku memilih untuk melihat cahaya, aku memilih untuk naik tangga mulai malam ini...”
Dengan cepat dicarinya buku harian miliknya dan dengan sepenuh jiwa ia tuangkan pergulatan batin yang baru dialaminya dalam sebuah puisi yang ia beri judul Keping-Keping. Ya...keping-keping masa lalu pernah meraja di hidupnya dan sekarang ia putuskan bahwa Ati bersama Sang Maha Pencipta adalah pemegang kendali masa depan dan bukan lagi keping-keping masa lalu yang pilu. 

KEPING-KEPING

Keping-keping itu berjatuhan begitu saja
Berserak dan tercecer dari kisah lama 
Keping-keping berkata:”Biarkan aku hidup denganmu..”

Keping-keping itu mengalir begitu saja
Seakan aku adalah sebuah ceruk yang dalam dan lebar
Keping-keping berkata:”Biarkan kami menggenangi mu..”

Keping-keping itu berderai bersama air mata
Keping-keping itu meretas merampas impian 
Keping-keping itu menggoda jiwa yang sepi

Sudah dua dasa warsa keping-keping mencuri kemerdekaanku
Keping-keping adalah kisah biadad yang mengendap
Keping-keping adalah luka jahanam yang meradang

“Cukup sudah kataku.....!”
“Hidup yang sekali terlalu mahal hanya jadi keping-keping” 
“Mulai hari ini aku adalah seterumu..”
Keberanianku menggelora untuk melawan keping-keping

Sekarang ku tatap mata keping-keping dengan gagah dan berani
“Adalah hak ku untuk membuatmu lebih berkeping-keping jadi bubuk tanpa kuasa...”
“Jadilah kau keping-keping abu untuk angin dan ombak samudera....”
“Jadilah kau keping-keping pasir untuk anak tangga kehidupan...”

Keping-keping gentar gemetar ketika ku labrak
Keping-keping mundur ketika ku seruduk
Keping-keping tiada ketika siapkan kapak baginya 

Sekarang ku tahu tak susah bertempur menghancur keping-keping
Baru aku berteriak dengan berani keping-keping sudah bergiming
Baru ku acung tinju keping-keping bersiap untuk kabur
Baru ku tahu sekarang keping-keping takut pada hati yang berani

Sekarang kuasa keping-keping melayang entah kemana
Keping-keping hanya tinggal gores tinta di buku harian tua
Keping-keping hanya jadi foto-foto lama tanpa nyawa
Lumat sudah kuasa keping punah ditelan tanah seperti kubur tanpa pusara

Desember 2013 

“Apa berikutnya..?.”
“Tidak boleh berhenti sampai tulisan, harus ada tindakan...!” Demikian Ati bertekad.
Kemudian ia melihat-lihat kembali catatan pembelajarannya dan akhirnya sebuah gagasan jitu masuk ke dalam pikirannya.
“Dulu aku dikenal sebagai si Ati sunyi sepi karena terlalu banyak diam...sekarang aku mau dikenal sebagai Ati yang aktif dan ramah...”
“Dulu aku dikenal sebagai Ati bisu seribu bahasa...sekarang aku mau menjadi Ati yang cakap berkomunikasi dan berelasi....ya waktunya sekarang” Ati mulai menambah semangat untuk dirinya sendiri.
“Sekarang bagaimana anak tangganya...?” Ia lalu membuka halaman baru di buku hariannya dan inilah gagasan Ati untuk mentransformasi diri dari ulat jadi kepompong untuk terbang jadi kupu raja. 
“Rumusnya adalah Senyum, Salam, Sapa & Sampaikan Pujian...atau 4S”
“Minggu ini aku mulai dengan membiasakan diri terseyum kepada sebanyak mungkin orang, minggu berikut membangun kebiasaan menyampaikan salam, selanjutnya melatih diri menyapa dengan pertanyaan yang dapat membangun percakapan dan selanjutnya adalah menjadi orang yang terbiasa memberikan pujian secara tulus...” Ati mulai terbayang-bayang bagaimana nanti ia akan melewati proses semua itu dan kemudian tumbuh jadi pribadi baru.

Malam itu walau lebih larut ia tidur Ati tidur dengan sangat nyenyak. Ia sedang membuka lembar baru untuk kehidupannya. Esok dia sudah bertekad untuk memberikan seyum terlebih dahulu kepada orang yang ia jumpai.
“Senyum itu gratis.., tak usah beli bahannya di toko untuk bisa melakukannya”
“Seyum itu hadiah indah dan paling murah yang bisa kita berikan kepada sesama”.
“Senyum itu menyembuhkan...diri sendiri dan orang lain..”
“Senyum itu adalah pintu untuk komunikasi dan relasi...” 
“Senyum itu sama sekali tak sulit...lakukan Ati, lakukan Ati..”
Inilah sura hati yang menggema dalam diri Ati ketika esoknya ia jelang. Ati sedang bergerak bertransformasi menuju sosok kupu-kupu raja. 

(bersambung)
Bagaimana dengan teman-teman semua apakah sudah memulai kebiasaan yang baru untuk membangun masa depan yang baru..?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar