Minggu 4: PASSION & PELUANG
Catatan Tika Lembar 24: Menilai PELUANG Bisnis
Malam ini cuaca di Hong Kong sudah mulai makin dingin menjelang akhir tahun tapi di sepanjang Causeway Bay penuh dengan manusia lalu lalang. Promosi Christmas & New Year ada dimana-mana dan kerlap kerlip kota dunia di malam hari semakin semarak dengan musik dan warna warni hiasan menjelang tutup tahun. Di tengah kesibukan kota 4 sahabat memilih untuk berkumpul belajar bersama dan mempersiapkan masa depan. Malam ini mereka berjanji saling berbagi contoh tentang peluang bisnis yang akan mereka lakukan di tanah air. Tika menawarkan diri menjadi yang pertama berbagi:
“Aku akan mulai dulu ya...sejak aku belajar membuat anak tangga itu aku langsung sadar bahwa selama ini aku hanya memelihara mimpi yang besar tapi sedikit bertindak...langsung setelah pelajaran itu aku dapatkan maka aku menghubungi adik sepupu ku si Apu yang sekarang kerja di sebuah restoran di Yogya....aku menceritakan semua rencanaku dan mengajak dia bekerja sama membangun warung lesehan sepulang aku dari Hong Kong nanti...Apu langsung setuju..” Tika berhenti sejenak sambil berpikir menata kalimat-kalimat yang akan dia sampaikan sementara 3 sahabatnya terus memperhatikan dan mendengar dengan serius.
“Aku kemudian terinspirasi oleh pesan pelatih UCEC kepada Bunda untuk melakukan segala persiapan yang dapat dilakukan sekalipun aku masih di Hong Kong.......prinsipnya jangan menaruh semua pekerjaan pada saat kita kembali.......kalau ada yang bisa dilakukan sekarang maka lakukan sekarang.....dan kemudian aku minta Apu segera bertindak” Tika bercerita dengan lancar dan lugas.
“Apa yang kau minta Apu lakukan Tika...?” Cikal yang bersemangat tidak sabar menunggu kisah berlanjut.
“Aku minta Apu mencari lokasi yang padat dengan manusia yang perlu makan di luar rumah....apakah itu dekat kampus, kantor-kantor, proyek bangunan, pabrik ataupun tempat wisata yang ramai....” Tika menjawab sambil menunjukkan bahwa dia paham apa yang dapat disebut lokasi yang bagus untuk industri kuliner.
“Apakah Apu mendapatkannya...?” Sekarang Ati juga ingin segera mengetahuinya.
“ya Apu mendapatkan lokasi yang ramai....ada kampus dan ada pabrik garmen di dekatnya...jarang lokasi seperti ini namun kemudian aku minta Apu mendata warung atau kios makan yang berada di sekitar tempat itu. Tepatnya di sepanjang jalan Dwiwarna tempat kampus dan pabrik garmen itu berada dan kau tahu apa hasilnya....?” Tika berhenti sejenak dan bertanya.
“Semua laku...barangkali..” Bunda mencoba menebak.
“Banyak kompetisi...?” Ati juga mencoba menebak.
“Bingung...alias tidak tahu..” Cikal menjawab.
Tika kemudian melanjutkan:” Ini yang dilaporkan kepadaku bahwa di sepanjang Jl Dwiwarna ada 30 tenda makanan dan warung.....banyak ya...dan dari 30 itu ada 6 warung atau 20% yang menurut laporan Apu sangat sepi atau pasti merugi, ada 8 warung atau 40% yang pas-pasan, ada 6 warung atau 20% yang untung sedikit dan ada 6 warung atau 20% yang banyak sekali pelanggannya dan untung sangat banyak....”
“Lha...bagaimana caranya mendapatkan informasi itu apa ada sensusnya...” Bunda dengan polos bertanya.
“Tidak..tidak ada sensus tentang itu...aku meminta Apu datang tiap hari dan aku berikan uang untuk duduk makan di tempat yang paling ramai dan yang paling sepi, aku minta dia mencatat menu-menu yang paling banyak dicari, menghitung jumlah pelanggan, siapa saja mereka, berapa lama mereka makan siang, jam-jam mana saja yang paling ramai, kalau ada daftar menu yang bisa dibawa pulang ambil saja, berkenalan dengan pelanggan dan bertanya kenapa memilih warung ini...aku berusaha mengerti sebaik mungkin apa yang terjadi di lapangan..., aku tidak mau mendapatkan informasi sebanyak mungkin supaya tidak salah waktu memulai “ Tika menjawab dan menjelaskan.
“Hmm tidak gampang ya...banyak yang susah tapi ada juga yang sangat sukses....ini berita baik atau buruk menurut kalian..?” Ati bertanya
“Berita buruk....begitu banyak persaingan..” Bunda menjawab.
“Berita baik.... karena ada warung yang bisa diambil alih...” Cikal menjawab.
“Aku pikir ini dua-duanya... baik dan buruk.....berita baik nya memang betul kami dapat tawaran mengambil alih sebuah warung dengan harga murah sekali....berita buruknya...persaingan yang luar biasa dan pelanggan betul-betul memilih...mereka rela antri di tempat makan yang baik dan meninggalkan warung yang tak mereka suka...pelanggan memang betul-betul raja di jl Dwiwarna dan karena survey ini aku membatalkan rencana Warung Lesehan...” Tika langsung diam ada sedikit kesedihan di rona wajahnya.
“Wah...kau batalkan anak tangga masa depanmu Tika...duh sedih.” Bunda langsung merasa sedih.
“Yang betul Tika...apa begitu..koq sulit sih..”Ati juga jadi sedih.
“Waduh......menakutkan sih....aku juga jadi takut..”Cikal menambah.
“Wow..wow...jangan jadi sedih kawan-kawan....aku tidak membatalkan ROAD MAP aku tapi hanya mengubahnya... ... memang betul dunia nyata persaingan bisnis itu sulit dan menakutkan... aku bersyukur karena aku survey dulu maka yang sulit dan menakutkan itu sudah dapat aku ketahui sebelum aku memulai sehingga akau bisa membuat persiapan lebih baik untuk mengatasinya....ya memang itu sulit tapi aku tidak takut karena aku bisa belajar untuk mengatasinya..... ya itu tidak gampang karena itulah jauh-jauh hari aku sudah persiapan........ya itu menyeramkan namun aku akan berdiri tegak karena ....kan ada kalian semua para sahabat yang setia yang selalu memberikan dorongan dan ide kreatif...” Tika menjawab dengan percaya diri sambil matanya memandang ke 3 sahabatnya dan seyum tersungging di bibirnya. Tika lalu merentangkan tangannya dan mereka semua saling berpelukan. Pelukan persahabatan.
“Yang sulit jadi lebih gampang ya kalau ada sahabat...” Bunda berkata.
“Kalau 4 menjadi satu maka kita akan jadi kekuatan yang luar biasa karena akan saling mendorong dan menolong....:” Cikal berkata
“Aku juga...tidak akan takut karena aku punya sahabat-sahabat terbaik...” Demikian yang dikatakan Ati.
“Tika coba jelaskan lagi....kenapa sampai kau ganti gagasan warung Lesehan yang sudah kau impikan begitu lama...?” Cikal sekarang bertanya dengan rasa ingin tahu yang besar.
“Begini ceritanya...aku juga kaget mendapatkan laporan-laporan Apu...aku langsung sadar bahwa konsep warung Lesehan tidak cocok disana...karena kebanyakan orang hanya punya waktu makan yang pendek sehingga mereka butuh makanan yang praktis dan layanan cepat.....akhirnya aku sadar yang aku harus dahulukan adalah kepentingan pelanggan dan bukan keinginan aku pribadi.......warung lesehan itu seperti impian seorang anak untuk aku...aku memimpikannya hanya karena aku senang dan bangga bila punya lesehan.......sekarang aku sadar kalau ingin sukses aku harus mendahulukan kepentingan pelanggan...aku mengganti rencana supaya produk aku makin cocok dengan keinginan pelanggan.....dan jangan lupa kawan-kawan pelatih UCEC mengatakan boleh-boleh saja kita mengganti anak tangga kita yang pentingkan naik ke atas dan bukan mengalir ke bawah ” Tika menjelaskan lagi dengan lancar.
“Nah sekarang apa sih yang diinginkan pelanggan jalan Dwiwarna itu Tika...?” Kembali Bunda bertanya dengan rasa ingin tahu yang besar.
“Betul Tika...apa kesimpulan mu....ayo cerita lanjut...” Ati ikut memberikan semangat.
“Ya...aku terus berkomunikasi dengan Apu... dan Apu sangat bersemangat...setiap hari dia nongktong di jalan Dwiwarna...pagi sebelum kerja dia mampir kesana untuk mengetahui jam berapa saja para pemilik usaha jl Dwiwarna buka usaha, dia mengelompokkan warung-warung berdasarkan makanan yang mereka jual.......kalau malam hari dia tunggu sampai warung-warung tutup dan mencatat warung siapa yang paling dulu habis...dan dia juga ngobrol dengan karyawan-karyawan warung....banyak informasi yang ia dapatkan dan akhirnya setelah diskusi kami simpulkan sebagai berikut...” Tika diam sambil berpikir.
“Apa itu kesimpulannya Tika...tidak sabar nih....” Bunda langsung bertanya lagi.
“Sabar...sabar aku sedang berpikir nih....” Demikian Tika menjawab.
(bersambung)
Apakah teman-teman juga sedang mengumpulkan informasi sebanyak mungkin tentang rencana bisnis teman-teman nanti?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar