Minggu 5: PASSION & PELUANG
Catatan Tika Lembar 21: Melihat PELUANG Bisnis dari PASSION
Malam sudah larut semua majikan sudah tidur atau sembunyi di kamar masing-masing namun ke 4 sekawan masih asyik Skyping satu sama lain.
“Penjelasan Ana The Cloud dan Eka Rossyta Xa membuat aku makin paham tuh...” Tika membuka percakapan.
“Kalau begitu kita usulkan ya mereka mendapat hadiah buku...”Bunda menambahkan
“Sip..sip..setuju...penambah semangat untuk kita semua...” Ati langsung menyetujui.
“Kita diskusi lagi yuk....waktu pelajaran yang lalu itu ada cerita tentang peluang dari PASSION...aku kurang mudeng tuh...itu lho cerita tentang mba Ratih....bantu aku dong untuk paham”. Sekarang Cikal membuka topik diskusi.
Bunda yang minggu lalu tampak kedodoran dalam belajar rupanya hari Minggu kemarin sungguh-sungguh memperhatikan sehingga ia menawarkan diri untuk berbagi:”Aku coba ya....passion itu bahasa Indonesianya hasrat yang paling dalam...atau apa ya...barangkali seperti gabungan dari bakat dan cita-cita....contohnya aku dan kita semua punya passion atau hasrat yang dalam di bidang kuliner maka ketika kita melakukan apa yang jadi hasrat kita maka kita merasa bukan bekerja...bermain dan bekerja serasa menyatu..”
“Mantap-mantap....” Tika memberikan pujian.
“Kalau begitu passion ku banyak nih...aku suka masak...aku suka nyanyi...aku suka gaul..aku suka shopping..hi..hi..aku suka hiking...aku suka sepedaan....Jadi nanti aku jadi juragan resto, punya group band, punya toko, punya biro perjalanan ... ha...ha..apa begitu” Cikal berkomentar sambil berkelakar.
“Iya juga...ya...aku juga punya beberapa tuh..., bingung..bingung...” Ati juga berkomentar sama.
“Hmm....kalau begini aku coba email pak Ucec mudah-mudahan sedang online..” Tika mencoba mencari solusi. Tebakan Tika memang betul karena tak lama kemudian ada email yang masuk.
------------------------------ ------------------------------ -----
Passion atau hasrat harus dibedakan hanya dengan yang iseng-iseng atau sekedar suka. Passion itu serius. Paling tidak ada 3 ciri bahwa kegiatan tertentu menjadisebuah passion untuk kita yaitu PRIORITAS, PENGORBANAN & PRESTASI. Prioritas artinya kegiatan tsb menjadi pilihan utama kita. Bila ada beragam kegiatan yang berbenturan waktu maka yang jadi passion kitalah yang menjadi pilihan pertama. Passion seharusnya mengalahkan pilihan-pilihan lain. Yang kedua adalah PENGORBANAN artinya kita rela berkorban untuk melakukan passion kita. Apakah korban uang, waktu tidur, waktu bermain, waktu bertemu teman bahkan berani menghadapi yang sulit, yang berat dan jika perlu yang menyakitkan demi melakukan passion tsb. Ciri ketiga adalah PRESTASI biasanya mereka yang telah melakukan passionnya terus menerus, fokus dan penuh pengorbanan akan mencapai prestasi-prestasi tertentu. Jangan bayangkan prestasi itu selalu dalam bentuk piala. Prestasi adalah pengakuan dari masyarakat atau dari komunitas tentang keahliaan yang dimiliki. Itu bisa piala, itu bisa juga undangan untuk tampil, permintaan untuk mengelola atau memimpin, dipilih untuk mendemonstrasikan, diminta untuk melatih dan mengajar dll... Itulah contoh-contoh prestasi atau pengakuan publik untuk orang-orang yang konsisten pada passionnya.
Mari kita simpulkan lagi bahwa passion memiliki 3 ciri yaitu Prioritas, Pengorbanan & Prestasi...paling tidak 2 dari 3 ciri itu harus sudah dilakukan yaitu Prioritas dan Pengorbanan kalau benar-benar apa yang kita lakukan adalah passion kita. Kalau tidak seperti itu jangan-jangan apa yang kita anggap passion ternyata hanya sebuah kesenangan atau hobby yang tak serius.
------------------------------ ------------------------------ -----
“Wah kalau begini...aku harus berubah nih...rupanya masak itu selama ini baru jadi hobby belum benar-benar jadi passion..” Cikal tiba-tiba melakukan intropeksi.
“Kalau kuliner itu benar-benar passion kita semuanya maka setiap hari kita memikirkannya,..nih contoh-contohnya... kalau sedang di jalan kita lihat makanan yang laku maka kita langsung tertarik, kalau di TV ada acara Master Chef walau jam tayang malam hari maka kita paksa mata untuk nonton dan belajar, kalau ada orang ngobrol soal kuliner maka ingin ikut dengar, kalau ada buku2 tentang kuliner langsung ingin lihat dan buka jika perlu beli...passion memang harus dikerjakan tiap hari sesering mungkin dengan berbagai cara...oleh karena itulah maka aku sekarang jadi pengumpul buku resep...kalau ada orang yang sukses bisnis katering aku langsung cari dan kenalan..........jika perlu orangnya aku traktir supaya aku belajar ilmunya..”Bunda yang hatinya sudah membaja untuk pulang kampung dan sukses di bisnis kuliner memang yang paling kelihatan mengembangkan passionnya dengan serius.
“Hmmm...kalau aku tampaknya musti tambah minyak semangat nih buat passion aku...ciayu...ciayu Tika..”Tika mencoba menyemangati diri sendiri.
“Mulai hari ini apa yang jadi passion aku akan kuprioritaskan, akan ku bayar pengorbanannya dan akan ku kejar prestasinya...” Ati dengan bersungguh hati menyatakan tekadnya.
“Kita tanya yuk ke teman-teman di FB MS....apakah mereka sudah mengerjakan passion mereka dengan serius...?” Tika menutup pembicaraan sambil posting ke FB MS.
(bersambung)
Apakah passion teman-teman? Apakah itu sudah dikerjalan dengan serius?
Catatan Tika Lembar 21: Melihat PELUANG Bisnis dari PASSION
Malam sudah larut semua majikan sudah tidur atau sembunyi di kamar masing-masing namun ke 4 sekawan masih asyik Skyping satu sama lain.
“Penjelasan Ana The Cloud dan Eka Rossyta Xa membuat aku makin paham tuh...” Tika membuka percakapan.
“Kalau begitu kita usulkan ya mereka mendapat hadiah buku...”Bunda menambahkan
“Sip..sip..setuju...penambah semangat untuk kita semua...” Ati langsung menyetujui.
“Kita diskusi lagi yuk....waktu pelajaran yang lalu itu ada cerita tentang peluang dari PASSION...aku kurang mudeng tuh...itu lho cerita tentang mba Ratih....bantu aku dong untuk paham”. Sekarang Cikal membuka topik diskusi.
Bunda yang minggu lalu tampak kedodoran dalam belajar rupanya hari Minggu kemarin sungguh-sungguh memperhatikan sehingga ia menawarkan diri untuk berbagi:”Aku coba ya....passion itu bahasa Indonesianya hasrat yang paling dalam...atau apa ya...barangkali seperti gabungan dari bakat dan cita-cita....contohnya aku dan kita semua punya passion atau hasrat yang dalam di bidang kuliner maka ketika kita melakukan apa yang jadi hasrat kita maka kita merasa bukan bekerja...bermain dan bekerja serasa menyatu..”
“Mantap-mantap....” Tika memberikan pujian.
“Kalau begitu passion ku banyak nih...aku suka masak...aku suka nyanyi...aku suka gaul..aku suka shopping..hi..hi..aku suka hiking...aku suka sepedaan....Jadi nanti aku jadi juragan resto, punya group band, punya toko, punya biro perjalanan ... ha...ha..apa begitu” Cikal berkomentar sambil berkelakar.
“Iya juga...ya...aku juga punya beberapa tuh..., bingung..bingung...” Ati juga berkomentar sama.
“Hmm....kalau begini aku coba email pak Ucec mudah-mudahan sedang online..” Tika mencoba mencari solusi. Tebakan Tika memang betul karena tak lama kemudian ada email yang masuk.
------------------------------
Passion atau hasrat harus dibedakan hanya dengan yang iseng-iseng atau sekedar suka. Passion itu serius. Paling tidak ada 3 ciri bahwa kegiatan tertentu menjadisebuah passion untuk kita yaitu PRIORITAS, PENGORBANAN & PRESTASI. Prioritas artinya kegiatan tsb menjadi pilihan utama kita. Bila ada beragam kegiatan yang berbenturan waktu maka yang jadi passion kitalah yang menjadi pilihan pertama. Passion seharusnya mengalahkan pilihan-pilihan lain. Yang kedua adalah PENGORBANAN artinya kita rela berkorban untuk melakukan passion kita. Apakah korban uang, waktu tidur, waktu bermain, waktu bertemu teman bahkan berani menghadapi yang sulit, yang berat dan jika perlu yang menyakitkan demi melakukan passion tsb. Ciri ketiga adalah PRESTASI biasanya mereka yang telah melakukan passionnya terus menerus, fokus dan penuh pengorbanan akan mencapai prestasi-prestasi tertentu. Jangan bayangkan prestasi itu selalu dalam bentuk piala. Prestasi adalah pengakuan dari masyarakat atau dari komunitas tentang keahliaan yang dimiliki. Itu bisa piala, itu bisa juga undangan untuk tampil, permintaan untuk mengelola atau memimpin, dipilih untuk mendemonstrasikan, diminta untuk melatih dan mengajar dll... Itulah contoh-contoh prestasi atau pengakuan publik untuk orang-orang yang konsisten pada passionnya.
Mari kita simpulkan lagi bahwa passion memiliki 3 ciri yaitu Prioritas, Pengorbanan & Prestasi...paling tidak 2 dari 3 ciri itu harus sudah dilakukan yaitu Prioritas dan Pengorbanan kalau benar-benar apa yang kita lakukan adalah passion kita. Kalau tidak seperti itu jangan-jangan apa yang kita anggap passion ternyata hanya sebuah kesenangan atau hobby yang tak serius.
------------------------------
“Wah kalau begini...aku harus berubah nih...rupanya masak itu selama ini baru jadi hobby belum benar-benar jadi passion..” Cikal tiba-tiba melakukan intropeksi.
“Kalau kuliner itu benar-benar passion kita semuanya maka setiap hari kita memikirkannya,..nih contoh-contohnya... kalau sedang di jalan kita lihat makanan yang laku maka kita langsung tertarik, kalau di TV ada acara Master Chef walau jam tayang malam hari maka kita paksa mata untuk nonton dan belajar, kalau ada orang ngobrol soal kuliner maka ingin ikut dengar, kalau ada buku2 tentang kuliner langsung ingin lihat dan buka jika perlu beli...passion memang harus dikerjakan tiap hari sesering mungkin dengan berbagai cara...oleh karena itulah maka aku sekarang jadi pengumpul buku resep...kalau ada orang yang sukses bisnis katering aku langsung cari dan kenalan..........jika perlu orangnya aku traktir supaya aku belajar ilmunya..”Bunda yang hatinya sudah membaja untuk pulang kampung dan sukses di bisnis kuliner memang yang paling kelihatan mengembangkan passionnya dengan serius.
“Hmmm...kalau aku tampaknya musti tambah minyak semangat nih buat passion aku...ciayu...ciayu Tika..”Tika mencoba menyemangati diri sendiri.
“Mulai hari ini apa yang jadi passion aku akan kuprioritaskan, akan ku bayar pengorbanannya dan akan ku kejar prestasinya...” Ati dengan bersungguh hati menyatakan tekadnya.
“Kita tanya yuk ke teman-teman di FB MS....apakah mereka sudah mengerjakan passion mereka dengan serius...?” Tika menutup pembicaraan sambil posting ke FB MS.
(bersambung)
Apakah passion teman-teman? Apakah itu sudah dikerjalan dengan serius?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar