Jumat, 13 Desember 2013

Minggu 3: Kreativitas & Inovasi

Catatan Tika Lembar 19: Persahabatan Yang Indah

Di akhir pekan Tika, Bunda, Ati dan Cikal saling berkumpul lagi. Masing-masing membawa cerita yang mengagumkan dan masing-masing yakin akan jadi pemenang. Ati membawa cerita bagaimana dia membangun kebiasaan baru yang ia sebut 4S yaitu Seyum, Salam, Sapa dan Sampaikan Pujian. Sudah satu minggu ia berusaha melakukan secara rutin, terasa berat dan harus menahan malu namun ia sangat sadar kalau dia tak berubah maka masa depannya pasti tak akan berubah.
“Majikan kaget, teman-teman kaget dan penjaga toko langganan juga kaget...ada yang mentertawakan, ada yang menjadikan lelucon ...tapi tetap ada yang berempati dan memuji dengan tulus...”
“Lama-lama aku terbiasa dengan rasa malunya dan kemudian hilang dengan sendirinya...”
“Lama-lama terasa kegunaannya..karena dengan berani berkomunikasi aku koq jadi makin Pede...”
“Ini prestasi tertinggi dalam hidupku...metransformasi si ulat Ati jadi kepompong yang nanti akan jadi Kupu Kupu Raja...terbang tinggi dan mengejar ketinggalan..” Inilah yang dibagikan Ati kepada teman-temannya dengan begitu lancar, sambil terseyum, kepala tegak dan mata yang bersinar. Sungguh indah melihat perubahan dalam diri Ati.

Tika datang dengan cerita dan rencana ikut lomba Mudik Bareng dengan Pesawat bersama Bank Mandiri. Ia mengatakan bahwa inilah peluang untuk mengasah kecakapan menjual. Ia paham kalau ingin menjual banyak harus bisa punya prospek pelanggan yang banyak sehingga ia membentuk tim sukses dan ia sendiri menciptakan target yang tinggi untuk dirinya.
“Aku berjanji kepada diri sendiri untuk menceritakan tentang Bank mandiri kepada sedikitnya 3 orang tiap hari dan setiap bulan mencapai 100 orang...”
“Aku tahu nanti akan ada penolakan ataupun ejekan..aku siap menghadapinya....semakin besar angin menggoyang batang pohon akan semakin dalam akarnya memerambat ke dalam dan semakin kokoh batangnya membesar...angin dan badai itu akan membuat aku makin kokoh...”
“Teman-teman siap membantu aku ya...?” Demikian tekad dan ajakan Tika.
Semua teman mengiyakan dan kagum akan keteguhan hati Tika. Ia sangat percaya diri dan ingin tumbuh jadi sosok yang kokoh dan tahan banting demi cita-citanya.

Bunda menyambung dengan cerita dia membagikan cita-citanya kepada orang-orang terdekat demi mengumpulkan informasi sebanyak mungkin dan untuk mendapatkan teman-teman sebanyak mungkin. Ia ingat istilah DUIT yang diajarkan dalam pelatihan. Itu berarti Doa, Upaya, Ilmu/Ide dan Teman-Teman. Ia bertekad untuk melakukan DUIT setiap hari demi cita-citanya dapat berkumpul kebali dengan anak semata wayangnya. Mendampingi sang anak melalui masa remaja yang penuh panca roba.
“Aku tidak bisa kehilangan kesempatan menemani anakku, aku harus pulang seusai kontrak ini..”
“Setiap hari sangat berharga sebagai ajang latihan atau persiapan..... sama sekali tak boleh membuang waktu”
“Aku tidak takut menghadapi yang berat dan sulit demi masa depan anakku..”
“Aku harus meningkatkan kemungkinan berhasil jadi entrepreneur dan mengecilkan risiko gagal...dengan cari ilmu dan cari teman tiap hari”
Bunda bercerita dengan emosi yang terlihat jelas...air mata mengembang di pelupuk matanya. Cinta ibu berkobar-kobar menyalakan semangat dan membakar setiap halangan. Semua hanya hening dan ikut mendoakan Bunda.

Cikal datang dengan cerita dan laptop barunya. Semua terkagum-kagum pada inisiatif dan kreativitas Cikal sehingga bisa menaklukkan cita rasa Mr.Wagner yang adalah General Manager hotel bintang 5.
“Aku menemukan sesuatu yang sangat berharga dan aku bersyukur memahami ini ketika aku masih muda..”
“Aku belajar untuk berani mencoba dan mengambil risiko...dulu aku enggan dan malu mengambil risiko akhirnya tak ada hal baru yang aku lakukan..semuanya mengalir saja seperti biasa...hari ini seperti kemarin dan besok juga akan sama seperti hari ini..., padahal risiko tindakan yang baru tak selalu besar...misalnya kalu nasi gorengku ditolak Mr.Wagner...apa sih risikonya....tidak mungkin aku dikeluarkan dari pekerjaan gara-gara itu”
“Aku juga belajar ketika sebuah anak tangga yang lebih tinggi berhasil kita naiki maka di tempat yang baru itu ternyata ada peluang-peluang baru yang tak terlihat sebelumnya...aku bersyukur sudah melangkah naik ke tempat yang lebih tinggi..”
Cerita Cikal memang sangat menginspirasi, teman-temannya merinding dan berharap suatu kali kelak akan ada peluang yang indah yang dapat juga mereka alami.

Sekarang siapa nih juaranya...? Tika mulai membuka percakapan dan semua anggota klub belajar Kuliner Nusantara hanya saling memandang.
“Seharusnya kita semua jadi juara bukan...?”Ati yang biasa diam-diam saja sekarang berani menyampaikan pendapat pertama kali.
“Ya setiap kita adalah pemenang....Kita semua berhasil jadi pemenang mengalahkan lawan terberat dalam hidup kita yaitu...kita sendiri..” Bunda langsung mendukung gagasan Ati.
“Setuju Bunda....kita semua sudah berinovasi...menjadi entrepreneur tidak perlu menunggu sampai punya toko, warung atau katering...kita bisa lakukan itu sejak sekarang...kita inovasikan saja diri kita sendiri jadi pribadi yang lebih baik...lebih lancar berkomunikasi seperti Ati, terampil menjual seperti Tika, menumpuk ilmu dan teman seperti Bunda dan aku berinovasi di rumah majikan...kita semua pantas jadi pemenang...kita semua telah jadi pahlawan untuk diri kita sendiri..” Cikal menyampaikan kalimat-kalimat yang sangat bijaksana yang membuat dia tampak lebih dewasa dari usia sesungguhnya.

“Setuju..mantap...mantap...nah jadi siapa yang akan kita traktir hari ini, apa makan bareng lalu kita rayakan dengan bayar patungan....semua jadi juarakan.......jadi kita makan keroyokan?” Tika menyampaikan pendapat sambil tersenyum.
“Setuju...” Ati menjawab
“Sepakat..” Bunda menyahut
“Okay...” Cikal menambah.

“Kita semua akan tetap saling memberikan semangat ..”Tika menjawab sambil mendekatkan diri kepada teman-temannya
“Kita akan saling membantu....” Ati langsung mengiyakan.
“Kita akan tetap bersahabat...”Bunda juga mengiyakan
“Sekarang dan selamanya...”. Cikal juga mendukung
Ke empat sahabat itu kemudian saling berangkulan, masing-masing saling berjanji untuk membangun keberhasilan. Kerlap kerlip bintang dan cahaya bulan di langit Hong Kong menjelang musim dingin seakan ikut tersenyum menambah indah ikatan persahabatan diantara klub belajar Kuliner Nusantara.

Sementara mereka berjalan ke tempat makan Tika menyampaikan hasil kesepakatan mereka ke pak Ucec Tki pelatih di UCEC agar cerita tentang mereka ini bisa diposting di FB Mandiri Sahabatku.
“Pak Ucec Tki senang sekali mendengar akhir cerita kita ini..”Demikian Tika melaporkan
“Cerita kita ini akan di posting segera....di hari Sabtu...tapi hari Minggu pak Ucec Tki tak bisa posting namun minta cerita kita tetap berlanjut untuk di posting hari Senin” Tika melanjutkan laporannya sambil matanya tetap memandang layar smartphone karena sedang chatting dengan pak Ucec Tki.
“Lha...memangnya akan kemana pak Ucec itu....?” Bunda bertanya sambil memandang Tika. Bunda memang sangat bersemangat dia sadar bahwa kisah mereka harus terus berlanjut dan makin hari harus makin indah.
“Pak Ucec..akan ke Singapura menghadiri wisuda pelatihan entrepreneurhip di Singapura..” Sekarang Tika memberikan penjelasan.
“Oooh..begitu...titip salam ya buat teman-teman di Singapura..untuk kakNatalie Ha, untuk kak San San Development SG, semua tutor yang rajin mendidik dan teman-teman pembelajar entrepreneurship di Singapura..” Demikan Ati dan Cikal hampir berbarengan ikut memberikan komentar.

Malam makin larut ke empat sahabat saling berpisah tapi hati mereka menyatu erat. Masing-masing berjanji datang pagi-pagi di tempat pelatihan di Renaissance Hotel di Wanchai agar bisa belajar lebih awal dan duduk di bangku depan.

(bersambung)
Minggu 3: Kreativitas & Inovasi

Catatan Tika Lembar 19: Persahabatan Yang Indah

Di akhir pekan Tika, Bunda, Ati dan Cikal saling berkumpul lagi. Masing-masing membawa cerita yang mengagumkan dan masing-masing yakin akan jadi pemenang. Ati membawa cerita bagaimana dia membangun kebiasaan baru yang ia sebut 4S yaitu Seyum, Salam, Sapa dan Sampaikan Pujian. Sudah satu minggu ia berusaha melakukan secara rutin, terasa berat dan harus menahan malu namun ia sangat sadar kalau dia tak berubah maka masa depannya pasti tak akan berubah.
“Majikan kaget, teman-teman kaget dan penjaga toko langganan juga kaget...ada yang mentertawakan, ada yang menjadikan lelucon ...tapi tetap ada yang berempati dan memuji dengan tulus...”
“Lama-lama aku terbiasa dengan rasa malunya dan kemudian hilang dengan sendirinya...”
“Lama-lama terasa kegunaannya..karena dengan berani berkomunikasi aku koq jadi makin Pede...”
“Ini prestasi tertinggi dalam hidupku...metransformasi si ulat Ati jadi kepompong yang nanti akan jadi Kupu Kupu Raja...terbang tinggi dan mengejar ketinggalan..” Inilah yang dibagikan Ati kepada teman-temannya dengan begitu lancar, sambil terseyum, kepala tegak dan mata yang bersinar. Sungguh indah melihat perubahan dalam diri Ati.

Tika datang dengan cerita dan rencana ikut lomba Mudik Bareng dengan Pesawat bersama Bank Mandiri. Ia mengatakan bahwa inilah peluang untuk mengasah kecakapan menjual. Ia paham kalau ingin menjual banyak harus bisa punya prospek pelanggan yang banyak sehingga ia membentuk tim sukses dan ia sendiri menciptakan target yang tinggi untuk dirinya.
“Aku berjanji kepada diri sendiri untuk menceritakan tentang Bank mandiri kepada sedikitnya 3 orang tiap hari dan setiap bulan mencapai 100 orang...”
“Aku tahu nanti akan ada penolakan ataupun ejekan..aku siap menghadapinya....semakin besar angin menggoyang batang pohon akan semakin dalam akarnya memerambat ke dalam dan semakin kokoh batangnya membesar...angin dan badai itu akan membuat aku makin kokoh...”
“Teman-teman siap membantu aku ya...?” Demikian tekad dan ajakan Tika.
Semua teman mengiyakan dan kagum akan keteguhan hati Tika. Ia sangat percaya diri dan ingin tumbuh jadi sosok yang kokoh dan tahan banting demi cita-citanya. 

Bunda menyambung dengan cerita dia membagikan cita-citanya kepada orang-orang terdekat demi mengumpulkan informasi sebanyak mungkin dan untuk mendapatkan teman-teman sebanyak mungkin. Ia ingat istilah DUIT yang diajarkan dalam pelatihan. Itu berarti Doa, Upaya, Ilmu/Ide dan Teman-Teman. Ia bertekad untuk melakukan DUIT setiap hari demi cita-citanya dapat berkumpul kebali dengan anak semata wayangnya. Mendampingi sang anak melalui masa remaja yang penuh panca roba.
“Aku tidak bisa kehilangan kesempatan menemani anakku, aku harus pulang seusai kontrak ini..”
“Setiap hari sangat berharga sebagai ajang latihan atau persiapan..... sama sekali tak boleh membuang waktu”
“Aku tidak takut menghadapi yang berat dan sulit demi masa depan anakku..”
“Aku harus meningkatkan kemungkinan berhasil jadi entrepreneur dan mengecilkan risiko gagal...dengan cari ilmu dan cari teman tiap hari”   
Bunda bercerita dengan emosi yang terlihat jelas...air mata mengembang di pelupuk matanya. Cinta ibu berkobar-kobar menyalakan semangat dan membakar setiap halangan. Semua hanya hening dan ikut mendoakan Bunda. 

Cikal datang dengan cerita dan laptop barunya. Semua terkagum-kagum pada inisiatif dan kreativitas Cikal sehingga bisa menaklukkan cita rasa Mr.Wagner yang adalah General Manager hotel bintang 5. 
“Aku menemukan sesuatu yang sangat berharga dan aku bersyukur memahami ini ketika aku masih muda..”
“Aku belajar untuk berani mencoba dan mengambil risiko...dulu aku enggan dan malu mengambil risiko akhirnya tak ada hal baru yang aku lakukan..semuanya mengalir saja seperti biasa...hari ini seperti kemarin dan besok juga akan sama seperti hari ini..., padahal risiko tindakan yang baru tak selalu besar...misalnya kalu nasi gorengku ditolak Mr.Wagner...apa sih risikonya....tidak mungkin aku dikeluarkan dari pekerjaan gara-gara itu”
“Aku juga belajar ketika sebuah anak tangga yang lebih tinggi berhasil kita naiki maka di tempat yang baru itu ternyata ada peluang-peluang baru yang tak terlihat sebelumnya...aku bersyukur sudah melangkah naik ke tempat yang lebih tinggi..”
Cerita Cikal memang sangat menginspirasi, teman-temannya merinding dan berharap suatu kali kelak akan ada peluang yang indah yang dapat juga mereka alami.

Sekarang siapa nih juaranya...? Tika mulai membuka percakapan dan semua anggota klub belajar Kuliner Nusantara hanya saling memandang.
“Seharusnya kita semua jadi juara bukan...?”Ati yang biasa diam-diam saja sekarang berani menyampaikan pendapat pertama kali.
“Ya setiap kita adalah pemenang....Kita semua berhasil jadi pemenang mengalahkan lawan terberat dalam hidup kita yaitu...kita sendiri..” Bunda langsung mendukung gagasan Ati.
“Setuju Bunda....kita semua sudah berinovasi...menjadi entrepreneur tidak perlu menunggu sampai punya toko, warung atau katering...kita bisa lakukan itu sejak sekarang...kita inovasikan saja diri kita sendiri jadi pribadi yang lebih baik...lebih lancar berkomunikasi seperti Ati, terampil menjual seperti Tika, menumpuk ilmu dan teman seperti Bunda dan aku berinovasi di rumah majikan...kita semua pantas jadi pemenang...kita semua telah jadi pahlawan untuk diri kita sendiri..” Cikal menyampaikan kalimat-kalimat yang sangat bijaksana yang membuat dia tampak lebih dewasa dari usia sesungguhnya.


“Setuju..mantap...mantap...nah jadi siapa yang akan kita traktir hari ini, apa makan bareng lalu kita rayakan dengan bayar patungan....semua jadi juarakan.......jadi kita makan keroyokan?” Tika menyampaikan pendapat sambil tersenyum.
“Setuju...” Ati menjawab
“Sepakat..” Bunda menyahut
“Okay...” Cikal menambah.

“Kita semua akan tetap saling memberikan semangat ..”Tika menjawab sambil mendekatkan diri kepada teman-temannya
“Kita akan saling membantu....” Ati langsung mengiyakan.
“Kita akan tetap bersahabat...”Bunda juga mengiyakan
“Sekarang dan selamanya...”. Cikal juga mendukung
Ke empat sahabat itu kemudian saling berangkulan, masing-masing saling berjanji untuk membangun keberhasilan. Kerlap kerlip bintang dan cahaya bulan di langit Hong Kong menjelang musim dingin seakan ikut tersenyum menambah indah ikatan persahabatan diantara klub belajar Kuliner Nusantara. 

Sementara mereka berjalan ke tempat makan Tika menyampaikan hasil kesepakatan mereka ke pak Ucec Tki pelatih di UCEC agar cerita tentang mereka ini bisa diposting di FB Mandiri Sahabatku.
“Pak Ucec Tki senang sekali mendengar akhir cerita kita ini..”Demikian Tika melaporkan
“Cerita kita ini akan di posting segera....di hari Sabtu...tapi hari Minggu pak Ucec Tki tak bisa posting namun minta cerita kita tetap berlanjut untuk di posting hari Senin” Tika melanjutkan laporannya sambil matanya tetap memandang layar smartphone karena sedang chatting dengan pak Ucec Tki.
“Lha...memangnya akan kemana pak Ucec itu....?” Bunda bertanya sambil memandang Tika. Bunda memang sangat bersemangat dia sadar bahwa kisah mereka harus terus berlanjut dan makin hari harus makin indah.
“Pak Ucec..akan ke Singapura menghadiri wisuda pelatihan entrepreneurhip di Singapura..” Sekarang Tika memberikan penjelasan.
“Oooh..begitu...titip salam ya buat teman-teman di Singapura..untuk kak Natalie Ha, untuk kak San San Development SG, semua tutor yang rajin mendidik dan teman-teman pembelajar entrepreneurship di Singapura..” Demikan Ati dan Cikal hampir berbarengan ikut memberikan komentar.

Malam makin larut ke empat sahabat saling berpisah tapi hati mereka menyatu erat. Masing-masing berjanji datang pagi-pagi di tempat pelatihan di Renaissance Hotel di Wanchai agar bisa belajar lebih awal dan duduk di bangku depan.

(bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar