Minggu 3: Kreativitas & Inovasi
Catatan Tika Lembar 16: Tika membangun Tim Sukses
Tika seorang BMI asal Jawa Timur, ia mudah bergaul dan memang senang bergaul dengan ragam BMI yang berasal dari seluruh Indonesia. Tidak heran ketika Bank Mandiri mengeluarkan program mudik bareng maka dia langsung bertekad untuk menang. Tika percaya diri sanggup mengajak banyak orang untuk bisa bergabung dengan Bank mandiri untuk itu memutuskan untuk fokus dan mempersiapkan diri. Sudah terbayang-bayang nati dia akan jadi salah seorang yang ada di penerbangan pertama mudik bareng dengan pesawat.
“Ini peristiwa bersejarah, aku mau ikut dan menang...”
“Aku harus membuat persiapan yang matang...”
Itulah tekad Tika dan sebagai pembelajar Mandiri Sahabatku, Tika tidak mau langsung tabrak sana dan tabrak sini. Ia ingin menyusun strategi yang mantap dan untuk itu ia harus menggali informasi dan belajar dari para penjual yang sukses.
“Menang atau tidak menang aku tak rugi”
“Kalau kalahpun aku akan tetap belajar bagaimana menjual lebih baik dan hitung-hitung berterima kasih kepada Bank Mandiri yang sudah menginspirasi dan mengajar aku entrepreneurship...”.
“Aku sekarang survey dulu ah....”
Tika berkata pada diri sendiri dan sejak itu mulai mencari info-info tambahan bagaimana caranya bisa jadi penjual yang hebat selain dari bahan-bahan yang ia terima di Minggu ke 2. Dasar Tika yang pandai gaul, dia ceritakan keinginannya pada Tia yang pernah ikut kelas MS tahun 2011 dan dari Tia ia mendaptkan copy kisah Janet Lim, Super Saleswoman dari Singapura. Inilah kisahnya:
-----------------------------------------------------------------
MENENTUKAN MASA DEPAN KITA (Kisah Janet Lim-Singapura)
“Aku membuka mata untuk melihat bagaimana kesuksesan itu bekerja’’
Dia Janet Lim anak yang kurang beruntung karena lahir di sebuah keluarga miskin, di usia 9 tahun, dia harus membantu ibunya membersihkan bandara Singapura. Pada usia 14 tahun, sambil pergi ke sekolah, dia bekerja di peternakan dan proyek konstruksi untuk mendapatkan bayaran $ 5 per hari. Sekarang di usia 29 tahun, tanpa gelar tetapi dengan visi, stamina dan kreativitas, dia menciptakan penghasilan untuk dirinya sendiri yang besarnya lima kali lebih besar dari lulusan perguruan tinggi.
BIARKAN DIRI ANDA MEMILIKI VISI/TUJUAN
Pengalaman masa kecil dapat membangun atau menghancurkan masa depan Anda. Suatu kali di masa lalu, pada pukul sembilan malam ketika Janet Lim Lay Yang sedang membantu ibunya membersihkan bandara pada shift tengah malam. "Aku melihat orang Amerika dan orang Australia membawa koper besar yang terlihat berat dan aku berkata kepada diri sendiri," Aku ingin memiliki koper dan perjalanan aku sendiri seperti mereka suatu hari nanti. " Saat itu, terlihat seperti sebuah imajinasi saja karena memang orangtuanya hanya seorang buruh tani dan sangat miskin. Pada saat Janet berusia 14 tahun, ia membantu ibunya merobek kantung semen di bagian konstruksi dengan gaji sebesar $ 5 per hari. Hari ini, 15 tahun kemudian, dia menghasilkan $ 80,000 Singapura per tahun. Jumlah tersebut merupakan lima kali pendapatan rata-rata lulusan perguruan tinggi. Dan juga $ 366 per hari, yang terjadi peningkatan yang cukup dari $ 5 per hari dalam 15 tahun.
Apa yang membuat hidup Janet berbeda? Wawasan, pergaulan dan pengalaman hidup yang lebih luas, itulah jawabannya. Memiliki tujuan hidup dan cara hidup yang berbeda. Moto Janet adalah membuka matanya lebar-lebar dan melihat bagaimana kesuksesan itu terjadi, lalu salin, copy, contek dari mereka yang sudah berhasil. Tidakkah ini masuk akal bagi kita semua? Dia menyadari sejak awal dalam kehidupannya bahwa dia harus belajar dari orang sukses dan belajar bagaimana membangun relasi dengan mereka yang memiliki status lebih tinggi. Pertama, ia belajar bagaimana mereka berkomunikasi. Dia mencari tahu bagaimana mereka melakukannya dan segera menirunya..
Janet bekerja di Borneo Motors dan berhasil jadi salah satu penjual dengan kemajuan karir tercepat selama 29 tahun sejarah perusahaan tersebut. Padahal di tahun pertamanya dia hanya mampu menjual tiga mobil sebulan. Lalu dia pergi ke Australia dan melihat mitranya yang bekerja di Toyota dapat menjual 15 kendaraan sebulan. 'Aku terkejut dan bertanya kepada diri sendiri: "Bagaimana aku bisa mencapai hal ini."' Lalu ia mengubah tujuannya dengan membuat target lebih tinggi. Tahun berikutnya ia mengalami peningkatan penjualan menjadi enam unit mobil per bulan, bahkan sampai sembilan. Tahun ini pun dia mengalami peningkatan antara 15, dan 21 hanya dalam kurun waktu kurang lebih tiga setengah tahun. Apa rahasianya?
JUJUR: KATAKAN KEBENARAN
Negosiasi Harga merupakan faktor penting dalam membeli mobil, terutama di Singapura. Janet menggunakan kejujuran. Dia percaya bahwa jika pelanggan mengetahui harga dasar. Ia berani beterus terang komisi yang ia peroleh: "Biaya dari mobil adalah $ 50.000. Komisi aku adalah $ 400.” Pelanggan biasanya tidak keberatan jika anda mendapat komisi karena mereka mengharapkan pelayanan untuk itu.
MELAYANI PELANGGAN UNTUK MENDAPATKAN LOYALITAS MEREKA LALU DAPATKAN REFERENSI.
Janet mengharapkan loyalitas dari kedua belah pihak. Dia tidak bertujuan untuk menjual satu mobil. Dia bertujuan untuk loyalitas pelanggan seumur hidup. Pertama, ia menunjukkan kesetiaannya kepada mereka. Lalu, ia mengharapkan kesetiaan dari mereka.
“ Ketika aku memberikan mobil kepada Anda, jika Anda merasakan pelayanan aku bagus, silahkan memperkenalkan bisnis aku….”
"Ketika Anda membeli mobil dari ku, TIdak berakhir disitu saja. Aku berharap dapat menjual mobil berikut kepada Anda, menjual ke teman-teman Anda dan mendapatkan rekomendasi dari Anda…”
“Aku akan menjual mobil ini kepada Anda murah, tetapi dapatkan anda membantu menawarkan bisnis ku pada yang lain? "
Itulah kalimat-kalimat yang ia katakan tentang pentingnya referensi dan untuk itu Janet sangat sadar bahwa pelayanan sangat penting. Ia berkata:
“Aku tidak pernah membiarkan diriku bosan dalam melakukan pelayanan”.
“Apapun permintaan mereka, ia berusaha keras untuk memenuhinya. "
TANGGAPAN YANG CEPAT
Janet berkomunikasi dengan pelanggannya sesering mungkin, dengan penjualan rata-rata 19 unit mobil perbulannya, 12 kali panggilan per klien, setidaknya 10 percakapan sehari dengan klien harus ia lakukan selain panggilan telepon untuk mencari pelanggan-pelanggan baru dan kunjungan kepada mereka. Dia menghabiskan waktu kurang lebih 3 sampai 4 jam untuk berkomunikasi dengan pelanggan baru atau lama via telepon ditambah satu jam setengah untuk mengerjakan berkas-berkas. Sekitar sepuluh setengah jam sehari, dari jam 10 pagi sampai 21:30 malam, enam hari per minggu.
BELAJAR DARI KELUHAN
Banyak penjual menarik diri dari menjaga relasi dengan pelanggan setelah transaksi selesai untuk menghindari keluhan. Itu bukan cara Janet. 'Jangan takut tentang keluhan, "saran dia. "Keluhan itu dapat membuat perbaikan, dan dari situ anda dapat mempelajari dan memperbaiki diri dan perusahan." Dia menemukan paling dua atau tiga pelanggan yang mengeluh dari beratus pelanggan yang ia hadapi.
Untuk Janet loyalitas tidak berhenti ketika transaksi selesai terjadi. Dia terus berhubungan dengan pelanggannya masing-masing dan mengetahui keluarga mereka. Jika seseorang pelanggannya sakit, dia menjenguknya. Ketika mereka ulang tahun, dia mengirimkan kartu ucapan, dan jika mereka menawarkan bisnis dengan nilai besar, dia memberikan sebotol XO Cognas. Dia mencari tahu ulang tahun mereka dan acara penting tertentu dari percakapan ringan dengan mereka. Lalu dia mencatatnya dan bertindak. Ketika pajak kendaraan mereka harus diperbaharui, ia menangani dan membantu mereka. Itu semua untuk menjaga relasi. Dia juga percaya bahwa penting untuk membangun kepercayaan diri kliennya. Ketika bisnis mereka sedang lesu, ia mendorong mereka untuk lebih keras berusaha dan melakukan yang terbaik. Ketika bisnis mereka dalam keadaan baik Janet mendorong mereka secara pro-aktif untuk beli mobil baru:
“Mengapa tidak memperbaharui mobil Anda?
"Kau layak mendapatkannya. Anda telah bekerja keras untuk itu”.
PELAYANAN DIATAS HARAPAN
Janet percaya pada kekuatan emosi oleh karena itu ia menggunakan seni menyentuh perasaan orang. Setelah semua terselesaikan maka Janet memberikan kesan yang tak terlupakan untuk terakhir kali kepada pelanggan. Pada saat mengirimkan mobil baru secara diam-diam ia menaruh bunga yang indah di bagasi mobil. Mereka tidak mengharapkan itu. “Aaah, bunga-bunga indah,..” mereka berseru ketika aroma bunga tersebut menyeruak.
“Ketika aku mengirimkan bunga dan mereka menemukan pelayanan ku baik, mereka menjadi sangat senang dan memperkenalkan aku kepada pembeli lain, "kata Janet.
STAMINA DAN DISIPLIN
"Pada awalnya aku bekerja tujuh hari seminggu, sekarang aku bekerja enam hari seminggu. Dulu aku harus berjalan 15 kali sehari di atas tanah bergelombang membawa air ke peternakan babi sejuah 50 meter, sementara itu aku juga bekerja di perkebunan tebu ketika masih muda, itu yang membuat aku kuat. " Jelas bahwa daya tahan dan tingkat energi merupakan bagian penting dari prestasinya. Jadi, dia tidak menyesali diri dengan latar belakang dirinya dari kerja pertanian. Sebaliknya, ia merasa bersykur karena itu semua membuatnya menjadi kuat.
TIGA MOTIVATOR
Janet mengatakan dirinya memiliki 3 motivasi:
- Mencintai apa yang dilakukan
- Memiliki rasa ingin tahu untuk belajar
- Memiliki hasrat untuk mendapatkan uang
Sangat menarik mengetahui bahwa uang merupakan urutan ketiga dalam daftar motivasinya. Memang survey membuktikan secara secara konsisten bahwa uang adalah motivator ketiga atau keempat bagi orang-orang yang sangat sukses. Mengapa? Yah, mari kita bahas. Dalam pekerjaan penjualan, dorongan untuk mendapatkan uang saja tanpa keahlian, tanpa komitmen untuk produk, tanpa komitmen untuk meningkatkan diri, tidak akan menghasilkan apapun. Keterampilan dan sikap perilaku yang hebat merupakan hal penting.
POSITIF DALAM SEGALA SESUATU
Janet tidak hanya bersikap positif terhadap pelanggannya. Dia memiliki sikap positif terhadap dirinya sendiri. Dia tidak fokus pada hal yang belum ia capai, tetapi lebih fokus pada hal yang ia dapat capai. Kita semua tahu orang yang kerap menarik diri dan beralasan tidak memiliki pendidikan yang cukup. Bandingkan dengan yang harus Janet bekerja di pertanian sebelum dan setelah sekolah, dari usia enam sampai 14, ia harus membawa ember air di bahu dengan menggunakan sebuah tongkat bambu. Pada saat dia sampai di sekolah dia selalu kecapaian. Akibatnya dia tidak mendapatkan nilai yang baik dan meninggalkan sekolah pada usia 18. Tapi apakah dia punya masalah tentang tidak memiliki gelar? Tidak sama sekali. Alih-alih merasa diremehkan, dia bangga dengan dirinya sendiri. "Aku tahu bahwa jika aku dengan bersungguh hati melakukan sesuatu maka aku akan belajar dan akhirnya aku akan mampu memilikinya." Sebagian besar lulusan perguruan tinggi mendapatkan pendapatan $ 12.000 sampai $ 18.000 dia mengatakan kepada aku. 'Aku mendapatkan $ 80.000 dan aku mengajarkan pada diri sendiri apa yang perlu aku ketahui untuk menjadi sukses. "
Seluruh jiwanya dipenuhi nilai positif.
----------------------------------------------------------------
“Hmm..hmm sungguh ini adalah inspirasi.., Janet bisa mengalahkan gaji rata rata sarjana hanya dengan kecakpan menjual. Bahkan 5X lebih besar...wah ini menunjukkan kecakapn menjual itu sungguh-sungguh hebat..”
“Rasanya aku banyak samanya dengan si Janet itu, sama-sama lahir dari keluarga miskin, dari daerah pertanian, terbatas dalam hal pendidikan dan sama-sama suka bekerja keras.....harusnya..harusnya aku juga bisa mencapai kesuksesan Janet.....Janet punya cita-cita.... aku juga punya cita-cita..hasrat Janet dalam bidang penjualan...aku juga suka pekerjaan menjual....Janet suka belajar..aku juga sekarang suka belajar.......hmmm sekarang apa yang belum ku punya ya...dibandingkan Janet? Tika melakukan perenungan yang mendalam terhadap kisah Janet.
“Aku rasa...aku rasa...yang belum ku miliki adalah kecakapan mendapatkan pelanggan sebanyak mungkin dan pengalaman melakukan pelayanan yang melampui harapan...”
Tika menyimpulkan sambil mengambil secarik kertas dan berpikir bagaimana caranya mendapatkan sebanyak mungkin pelanggan.
“Apa ya cara inovatifnya mendapatkan banyak pelanggan...padahal waktuku terbatas, padahal aku ingin sekali menang”. Tika mengerinyitkan dahinya dan ..eh tiba-tiba saja ia teringat kisah salah satu pelatih UCEC tentang bagaimana dia berhasil mendapatkan istri dengan cara membentuk “tim sukses” untuk membantu menemukan calon istri.
“Wah untuk inipun aku bisa membuat tim sukses sesungguhnya......sebuah tim yang membantu aku mendapatkan pelanggan untuk Bank Mandiri dan poin-nya nanti untuk aku..”
“Si Ati tidak akan pulang lebaran nanti, juga si Cikal .......selain itu kakak ku yang sekarang kerja di Hong Kong dan ...ya satu lagi teman dari jawa Timur si Ayu dia juga tidak pulang lebaran nanti...aku akan ajak mereka ah mendukung proyek Tika Mudik Bareng...”
“Aku akan latih mereka bagaimana caranya bergaul dan berkomunikasi memperluas jejaring..”
Tika terseyum lebar karena dia merasa mantap untuk dapat membangun tim yang akan membantu dia menjadi salah satu pemenang program Mudik Bareng Dengan Pesawat bersama Bank Mandiri.
(bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar