Senin, 16 Desember 2013

Minggu 5: PELUANG

Catatan Tika Lembar 27: Rencana Ati

Setelah Tika dan Bunda berbagi rencana masa depan sekarang tinggal Ati dan Cikal.
“Aku yang akan cerita sekarang.... aku duluan ya Cikal.” Ati langsung mengambil inisiatif, Cikal langsung mengiyakan dan dalam hatinya Cikal kagum pada perubahan-perubahan yang terjadi dalam diri Ati. Sekarang ia berani berkomunikasi dan tidak takut mengambil inisiatif.
“Aku akan membangun bisnis di kampung bersama dengan kakak dan aku akan mulai melibatkan diri walaupun aku masih ada di Hong Kong sekarang. Aku terinspirasi oleh mbak Richa Susan dan mbak Wartilah yang sudah memulai bisnis sejak mereka di Hong Kong dengan bekerja sama dengan keluarga. “Ini 5 anak tangga masa depan yang aku rencanakan..” Ternyata Ati sudah membawa selembar kertas dan ia menunjukkan itu kepada teman-temannya.

Anak Tangga 1 (2013-2015)
Membantu kakak mengembangkan usaha warung dan memanfaatkan halaman rumah dan warung supaya lebih produktif.

Kemudian Ati menjelaskan:“Aku punya seorang kakak dengan beda usia 12 tahun namanya Ami. Dia yang merawat aku waktu kecil...aku punya banyak kenangan manis dengan dia. Kak Ami sudah berkeluarga dan meneruskan tradisi kami bertani bersama suaminya. Sekitar 2 tahun lalu jalan di depan tanah kami diaspal dan mendadak menjadi lebih ramai. Kak Ami dan suaminya mendapatkan ide untuk buka warung.....sudah 1 tahun lebih tapi begitu-begitu saja. Setiap hari hanya sekitar Rp 100 ribu yang didapat....Kak Ami pernah berkata di kampung mencari Rp 100 ribu saja koq susah. ..” Ati diam sejenak lalu meneruskan.
“Setelah aku belajar di MS dan bertemu teman-teman pikiranku terbuka. Aku pikir kak Ati melakukan cara yang keliru.....kalau dalam memancing kak Ati dan suami sudah beli umpan dan dan alat pancing tapi ternyata itu semua tak cocok dengan ikan yang ingin ditangkap...untuk orang sekampung warung mereka ini kemahalan harganya sedangkan untuk orang kota yang lewat di depan warung....aku kira tampilan dan menunya juga tidak cocok. Serba tanggung begitu....jadi yang datang adalah orang-orang kepepet...penduduk kampung yang kehabisan makanan atau orang kota yang kepepet lapar sehingga berhenti warung kak Ati...hanya sedikit pelanggannya...” Ati rupanya terus menyimak sewaktu di kelas maupun selama mereka berdiskusi. Ia sekarang pandai menganalisa dan menghubungkan apa yang telah dipelajari dengan bisnis kakaknya.

“Aku akan mendiskusikan hal ini dengan keluarga kak Ati dan aku akan mengusulkan anak mereka Arman agar mulai dilibatkan. Aku juga minta mereka memanfaatkan kolam yang ada di belakang warung dan banyak pohon buah yang ada di belakang warung. Disana juga ada kandang-kandang binatang. Aku minta mereka pertimbangkan membuat kebun binatang mini. Orang kota kan jarang sekali lihat kambing...lihat sapi...lihat bebek dan angsa. Seharusnya dari kebun dan kolam yang di belakang warung ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk menarik pelanggan...khususnya pelanggan dari kota...” Ati sangat mantap menjelaskan dan kemudian ia menutup dengan kalimat.” Sebelum usaha warung kak Ati penjualannya dari Rp 100 ribu sehari naik sampai Rp 500 ribu perhari aku tidak akan pulang kampung.....Aku mau praktek bisnis dari jauh...aku akan jadi konsultan bisnis kak Ami membantu dia membesarkan usaha. Aku sengaja membuat target ini untuk membakar semangatku selain itu aku ingin memastikan pada saat pulang kampung aku sudah 50% sukses... Sudah ada yang dikerjakan.....tinggal melanjutkan dan meningkatkan supaya aku tak perlu bingung saat di kampung....” Teman-teman Ati kaget juga dengan pernyataan ini, Ati menunjukkan sebuah cara berpikir yang logis dan hati-hati. Ia bercita-cita sekaligus mengelola risiko dengan baik.

“Aku kira rencana Ati ini masuk akal dan cerdas...........aku kenal seorang teman yang begitu pulang langsung buka usaha dan mendapatkan banyak kesulitan...dia tidak paham situasi lapangan...siapa pelanggan dan siapa-siapa pesaing utama juga tak diketahui dengan baik. Selain itu ternyata menggalang kerja sama dengan keluarga juga perlu waktu...kalau tiba-tiba mereka bisa kaget. Kemudian ketika semua masalah terjadi mereka baru sadar bahwa mereka tidak punya teman diskusi di kampung. Akhirnya dia kembali ke Hong Kong.....Hmm..ini sebuah cara yang kreatif yaitu menggalang kerja sama dengan keluarga atau teman di Indonesia sementara masih kerja di Hong Kong. Boleh juga ya diceritakan kepada teman-teman lain barangkali saja cara ini cocok juga untuk mereka...” Tika mencoba menyimpulkan dan kemudian meminta Ati melanjutkan ke anak tangga yang ke 2.

Anak Tangga 2 (2015-2017)
Membuka warung Keluarga Bahagia 2 bekerja sama dengan keponakan atau teman yang memiliki visi dan semangat yang sama.

Ati menunjukkan Anak Tangga ke 2 sambil menjelaskan.
“Dengan ikut membesarkan usaha bisnis kak Ati maka aku akan mendapatkan 3 hal sekaligus. Pertama aku akan mendapatkan pengalaman membesarkan usaha bisnis. Yang kedua dengan dikembangkan maka nama warung itu akan makin terangkat ...jadi mereknya mulai dikenal. Ketiga aku sudah melatih keluarga kak Ati termasuk Arman keponakkannu. Inilah juga balas budiku kepada kak Ati.....” Pernyataan Ati ini juga sebuah pencerahan bagi para sahabatnya. Ternyata dengan melakukan bisnis bersama dengan keluarga juga ada manfaat yang lain yaitu melakukan pelatihan secara tidak langsung. Ke 4 sahabat ini makin asyik mendengarkan dari Ati.

“Langkah selanjutnya adalah membuka cabang dari warung tsb...oh ya sebelumnya aku akan beri nama warung itu...aku akan usulkan nama warung itu adalah Keluarga Bahagia.....artinya ini adalah warung dari orang-orang yang bahagia untuk membahagiakan pelanggan...bahagia melalui makanan yang enak dengan harga pantas ... serta tempat bermain anak yang alami dan bersih di belakang warung....”
“Sip....sip....kreativitas sudah mulai kelihatan...” Akhirnya Cikal tak tahan juga untuk berkomentar. Demikian juga Bunda tiba-tiba bertanya karena penasaran.
“Ati... aku dengar nih dari teman-teman.....katanya sulit mengatur saudara dalam bisnis...gimana tuh solusimu....?” Ati kemudian meneruskan dan menjelaskan.
“Aku kenal Arman...dia anak baik...namun sebelum aku ajak membuka usaha bisnis..aku akan katakan kepada dia beberapa syarat. Pertama bisnis perlu komitmen dan aku minta dia berdedikasi membangun usaha ini. Dia akan jadi pemilik bersama dengan aku jadi mental dan perilaku harus seperti entrepreneur. Kedua kalau di 2 tahun pertama dia juga tidak serius ikut mengembangkan warung yang pertama maka aku tidak akan mengajak dia bersama aku membuka warung yang ke 2...walau saudara dekat aku harus tegas...dan tegas itu harus di depan dan bukan di belakang...nanti banyak masalah kalau diurusnya dibelakang...” Ati kemudian menunjukkan anak tangga dia yang ke 3. Rencana ini membuat sahabat-sahabat Ati geleng kepala karena untuk para sahabatnya bisa memiliki sebuah usaha bisnis yang sukses sudah membuat mereka puas tapi Ati ternyata sudah punya impian dan upaya bagaimana mengembangkan warung Keluarga Bahagia dari satu hingga banyak...masing-masing warung akan punya nomor.
“Wah bagaimana caranya ya......?” Mereka semua bertanya dalam hati dan tak sabar mendengar rencana Ati berikutnya.

(bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar