Minggu 2: Kecakapan Komunikasi & Kecakapan Menjual
Lembar Catatan Tika Lembar 9: Belajar Berbicara di Depan Umum
Tika masih terus merasa penasaran dengan apa yang dicapai oleh Suti. Kemudian ia mengajak Suti melakukan chatting. Ia ingin mendengar kisah selanjutnya bagaimana Suti bisa jadi Sarjana dan juga jadi Direktur
“...Ah apa mungkin sih...” Itu yang ada di kepala Tika. Malam itu ketika semua sudah mulai isirahat Tika membuat janji untuk chatting dengan Suti.
------------------------------------------------------------
“Ini pasti ada anak tangga berikutnya yang kamu bangun Suti...” Itu yang pertanyaan pertama Tika.
“Anak tangga apa....? Emangnya aku tukang listrik ya...ha...ha”. Suti menyahut sambil tertawa.
“Wuah..aku lupa...menjelaskan. Itu pelajaran yang aku terima bahwa hidup kita bila ingin maju harus membuat anak-anak tangga menuju ke masa depan..” Tika dengan mantap menjawab
“Hmmm. ...betul juga ya...aku ternyata secara tak sengaja membuat anak tangga anak tangga dalam kehidupan ku. Nah anak tangga berikutnya adalah anak tangga masuk ke dunia penjualan...begini ceritanya....”. Suti berhenti sejenak sementara itu Tika makin semangat untuk membaca chatting dari Suti.
“Sekitar 3 tahun aku membantu pak Budi jadi OG di ruang pelatihan. Ternyata topik pelatihan pak Budi kebanyakan berkisar tentang Komunikasi dan Kecakapan Menjual. Coba kamu bayangkan Tika...bertahun-tahun mendengar topik-topik yang sama lama-lama hafal kan. Nah ..setelah hafal aku tertantang melakukannya....He..he..he yang ini aku agak malu ceritanya...jadi sebelum pelatihan itu dimulai aku pastikan 30 menit sebelumnya sudah beres lalu aku latihan berbica di depan umum...aku pakai tuh tip-tip bicara di depan umum di depan bangku-bangku kosong...Ha..ha..ha geli aku mengingat itu kembali. Aku belajar berbicara dengan menatap ke depan, menggerakkan anggota tubuh dan juga mengatur intonasi...begitu akan lakukan hampir setiap hari.....nah apa yang terjadi seterusnya...ternyata aku merasa makin lancar berkomunikasi, makin berani berbicara di depan orang baru dan orang banyak....”. Suti diam sejenak tampaknya sedang berpikir.
“Seru...seru...ayo terus..”. Sekarang Tika memberi semangat lagi.
“Seterusnya ...ini sebuah cerita lucu tapi hebat akibatnya....suatu kali ada seorang pelatih dari luar kota yang tidak kenal aku. Dia melihat aku sedang membereskan kertas foto copy untuk dibagikan ke peserta dan dia pikir aku ini asisten pelatih kali...ha ha..Pada saat dia akan mulai melatih dia minta aku maju ke depan untuk mengumumkan dimana lokasi WC, dimana tempat makan siang dan mushola kepada para peserta. Deg........jantung rasanya berhenti...tapi aku tak bisa menghindar jadi ya maju saja ke depan lalu menyampaikan pengumuman itu. Waduh...syukur aku sering berlatih...aku berhasil bicara di depan umum untuk pertama kali dengan cukup lancar. Rupanya cara aku berbicara membuat dia puas...eh tiba-tiba di tengah pelatihan dia minta aku maju lagi memperagakan sebuah teknik berbicara di depan umum. Untungnya...aku sudah sering latihan...jadi aku pede saja maju ke depan.....eh....tak dinyana....saat aku di depan itu pak Budi masuk ke kelas...dia tampak kaget namun aku tahu ada seyum kecil tersungging di bibirnya dia bangga...” Demikian Suti menggambarkan perjalanan hidupnya yang penuh warna. Warna-warna yang ia lukis sendiri dan tidak bergantung pada orang lain.
“Suti hidupmu penuh dinamika karena kamu aktif dan pro-aktif ya....kamu selalu memperbaharui hidupmu ... kamu bak seorang pelukis bagi hidupmu sendiri...yang melukis diatas kanvas kehidupan sendiri dan membuatnya lebih indah dari hari ke hari......aku sungguh terinspirasi...ayo..ayo teruskan ceritanya..” Tika makin tak sabar”.
“Sejak hari itu...pak Budi memberikan aku tugas-tugas baru...aku dimintanya ikut mengatur pendaftaran peserta, ini membuat aku punya banyak kawan, aku makin kenal peserta-peserta yang sering datang dari luar kota bahkan dari luar pulau. Aku juga diminta menjadi staff yang menyampaikan pengumuman-pengumuman kepada peserta dan kalau ada peragaan atau simulasi aku yang sering diminta memberi contoh pada para peserta. Aku tahu sih...pak Budi ini sedang memberi semangat kepada para peserta ...walau aku OG tapi bisa bicara di depan umum dengan lancar.....Inilah kisahku yang membuat aku jadi orang yang lancar berkomunikasi dan punya lebih banyak teman. Namun........bola terus bergulir... ... seperti yang kau Tika katakan tentang anak tangga itu maka aku menemukan bahwa bila kita berhasil membangun satu anak tangga maka kita terus tertantang untuk membangun lagi diatasnya.........dan ada saja yang terjadi dalam kehidupan ini...yaitu ketika TUHAN membuka pintu-pintu peluang yang baru...pada saat kita sudah berdiri di atas anak tangga yang lebih tinggi. Sebuah peluang yang hanya dapat kita lihat di tempat yang lebih tinggi yaitu diatas anak tangga yang telah kita bangun....Ceritaku selanjutnya adalah tentang bagaimana aku bisa mengusai kecakapan menjual...masih mau dengarkan...?
“Mau...mau..mau sekali ayo..ayo Suti cerita lagi..”.Demikian Tika membalas dengan cepat.
“Tapi jangan sekarang ya...tanganku sudah pegel nih...tuh..suami juga sudah menunggu untuk mengajak nonton TV bersama. Besok ya...nanti kita chatting atau aku email atau kita Skype ya...”. Suti mengakhiri percakapan malam ini dengan menciptakan rasa penasaran yang makin besar di dalam diri Tika.
-----------------------------------------------------------------
Malam itu menjadi malam penuh perenungan untuk Tika, perbincangan dengan Suti bukan saja menginspirasi tapi sesungguhnya telah mengguncang hati dan pikiran dia.
“Apakah artinya aku 12 tahun di Hong Kong ini?”.
“Apakah ini hanya kumpulan hari, bulan dan tahun dengan pengalaman kehidupan yang hampir sama sajakah...?”
“Untung di usia yang belum lanjut...sebelum aku masuk ke JAMAN NGGA BISA seperti para pelatih UCEC sampaikan ...aku berkesempatan belajar di Mandiri sahabatku dan berbincang dengan Suti...itu semua telah membuat aku membuat keputusan baru untuk hidupku. Masa depanku tidak boleh sama lagi. Aku harus perjuangkan semua anak tangga dan upaya-upaya yang sudah aku tulis. Aku harus berani berjerih, berjuang dan jika perlu menderita demi masa depan yang lebih baik...”.
Tika kemudian mengingat tugas-tugas yang diberikan para pelatih di Minggu 2 yaitu untuk berlatih untuk berkomunikasi dan berjualan. Tika memutuskan untuk melakukan itu dengan sepenuh hati. Kalau Suti saja berlatih bicara di depan umum di depan bangku-bangku kosong maka dia juga mau berlatih apakah itu di kamar, di taman atau dimana saja yang memungkinkan. Tika juga berjanji setiap hari akan berbicara dengan minimum dengan satu orang untuk mengajak mereka ikut Mandiri Sahabatku.
“Aku harus terus latihan...menambah teman, melancarkan komunikasi dan sanggup menjual..”Itu yang dikatakan pada dirinya sendiri sambil berharap esok malam bisa datang lebih segera supaya bisa bercakap dengan Suti lagi.
(bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar