Minggu 2: Kecakapan Komunikasi & Menjual
Catatan Tika Lembar 8: Menjadi OG (Office Girl)
Ternyata Suti mengirimkan kisahnya melalui sebuah email kepada Tika.
“Ah..untung aku punya laptop..kalau tidak ada laptop sukar sekali pengalaman seperti ini aku miliki...”Tika berkata kepada dirinya sendiri dan kemudian dengan tak membuang waktu ia mulai membaca kisah dari Suti.
--------------------------------------------------------------
CERITA SUTI: Sesudah SMP aku selesaikan ...Sama seperti kebanyakan gadis remaja di kampung kita aku juga merantau ke Surabaya untuk jadi Pembantu Rumah Tangga. Aku bekerja di keluarga pak Budi. Mereka memiliki seorang anak perempuan semata wayang, Diana namanya. Ia pas berusia 9 tahun atau kelas 3 SD ketika aku mulai bekerja. Pak Budi bekerja di sebuah perusahaan distribusi barang elektronik dan jabatan pak Budi saat itu adalah Sales Manager atau Manajer Penjualan. Dalam 3 bulan pertama aku masuk kerja aku sudah bisa menemukan bahwa Diana mendapat kesulitan belajar. Ibu Budi sering uring-uringan melihat hasi ulangan Diana. Demikian juga Diana setiap kali akan ulangan jadi gelisah, stress katanya. Sekolah kita dulu memang di kecamatan bukan di Surabaya tapi sekolah kita dulu kan termasuk sekolah yang bagus lagi pula aku kan lulusan SMP masa soal-soal kelas 3 tidak bisa? Jadi aku menawarkan diri kepada ibu Budi untuk setiap sore membantu Diana belajar. Nah ..itulah mula peristiwa aku menjadi dekat dengan keluarga pak Budi. Pekerjaanku yang resmi adalah pembantu rumah tangga tapi aku menawarkan diri untuk sekaligus jadi guru les yang tak resmi. .....
---------------------------------------------------------------
“Koq ceritanya mirip dengan pelajaran Minggu 1 di Kelas Dasar ya..” Tika berkata pada diri sendiri sambil mengingat-ingat pelajaran yang pertama. Pelatih UCEC mengajarkan ada 3 macam karyawan yaitu yang PASIF, AKTIF dan PRO-AKTIF. Pro-aktif artinya jemput bola, tidak tunggu diperintah, kalau ada masalah yang bisa diselesaikan berani menawarkan diri untuk kerja ekstra. “Hmmm... rupanya Suti adalah orang yang seperti ini di pekerjaannya..” Tika kemudian kembali teringat dulu masa SMP, Suti memang orang yang suka menolong. Ia tidak hitung-hitungan, gembira kalau bisa membantu sesama. “Ah...aku ingin tahu selanjutnya nih” Kemudia kembali Tika membaca email dari Suti.
-----------------------------------------------------------------
CERITA SUTI: Selama 3 tahun aku menemani Diana belajar. Ia tidak bodoh hanya perlu kesabaran dalam membimbingnya. Setiap kali awal tahun ajaran aku ikut memeriksa dan membaca buku-buku pelajarannya supaya waktu mengajar lancar menjelaskan. Setelah 3 bulan aku mengajar Diana gajiku dinaikkan..nah seja itu aku bisa menabung. 3 tahun aku menemani Diana untuk belajar sampai akhirnya dia lulus dari SD. Ketika Diana akan masuk SMP aku minta ijin ke pak Budi agar aku bisa ikut Kejar Paket C, alasanku supaya aku bisa menemani Diana belajar selama SMP. Tika tahukah kami bagaimana jawaban bpk dan ibu Budi......? Semua langsung setuju apalagi Diana sangat mendukung...dia nyaman belajar bersama dengan aku, Dia kan anak tunggal...sedangkan ayah dan ibu dua-dua bekerja. Kalau les di luar ...ibu Budi banyak kecemasannya. Dia takut anak semata wayangnya ada apa-apa di jalan.
----------------------------------------------------------------
Kembali Tika teringat pelajaran Minggu pertama, apa yang dikatakan mbah Einstein itu. Katanya “orang gila adalah orang yang melakukan hal yang sama berulang-ulang tapi mengharapkan hasil yang berbeda”. Suti adalah contoh orang waras, dia melakukan hal yang berbeda yaitu membantu anak majikan secara jemput bola (pro-aktif) setelah itu dia dapatkan hasil yang berbeda yaitu didukung untuk bisa ikut Kejar Paket C untuk dapatkan ijazah SMA.
“Benar-benar hebat si Suti ini...dia tidak pernah belajar tentang ilmu membangun Anak Tangga untuk naik ke atas itu....tapi diam-diam sudah memulai sejak 15 tahun yang lalu”. Sekarang Tika makin kagum kepada Suti.
“Sekarang aku sudah belajar bagaimana membangun anak tangga itu...wah sungguh kelewatan kalau sudah belajar tapi tidak melaksanakan..” Tika kemudian melanjutkan membaca email dari Suti.
-----------------------------------------------------------------
CERITA SUTI: Selama 2 tahun aku mengikuti program Kejar Paket C akhirnya aku bisa memperoleh ijazah SMA dan dengan berjalannya waktu Diana juga makin dewasa dan makin mandiri, Ia lalu lebih banyak belajar bersama teman dari pada dengan aku. Suatu hari tidak lama setelah aku berhasil mendapat ijazah SMA bpk dan ibu Budi memanggil aku. Mereka mengatakan sangat berterima kasih bahwa dalam 5 tahun terakhir aku berhasi mendampingi Diana sehingga sekarang bisa lebih lancar sekolah di SMP dan bisa belajar mandiri. Mereka mengatakan bahwa pak Budi baru mendapat kenaikan pangkat di pekerjaannya. Mulai bulan depan ia akan jadi General Manager (Manajer Umum) dari Training Center (Pusat Pelatihan) di perusahaan tempat kerjanya. Pengalaman pak Budi dalam bidang penjualan sangat banyak sehingga ia sekarang mendapat tugas untuk membangun pelatihan untuk tenaga penjualan yang masih muda. Nah..di posisi baru ini ada lowongan pekerjaan Office Girl (pelayan kantor perempuan) mereka menawarkan apakah aku mau jadi OG membantu pak Budi di kantor. Syaratnya,...aku harus membantu mereka mendapatkan pengganti aku bekerja di keluarga pak Budi. Tentu saja tawaran ini aku sambut............. Pekerjaanku di kantor pak Budi adalah mempersiapkan ruang pelatihan dan membereskan ruangan usai pelatihan di lakukan. Selain itu aku harus mempersiapkan makanan dan minuman untuk para peserta pelatihan yang rutin dilakukan di tempat tsb. Tugas mengfoto-copy pelatihan juga ada di tanganku. Aku senang sekali melakukan tugas itu....kalau aku membereskan ruangan pelatihan aku sering membaca dan merenungkan apa-apa yang ditulis di papan white board...ingin rasanya ikut belajar di dalam kelas. Aku juga jadi sering membaca bahan pelatihan sewaktu aku meng foto-copy bahan-bahan tsb.
Nah...setelah sekitar 1 tahun aku bekerja sebagai OG tiba-tiba aku aku “tertangkap basah” oleh pak Budi. Ya...aku tertangkap basah sedang membaca-baca materi pelatihan yang sedang aku foto copy di ruang foto copy. Aku kaget dan sungguh gemetar ketika aku asyik membaca tiba-tiba pak Budi masuk ke ruang foto-copy dan kemudian aku dipanggil menghadap beliau. Sampai hampir menangis aku menjelaskan bahwa aku tidak sedang mencuri waktu tapi aku ini haus ilmu, aku ingin belajar jadi bahan-bahan pelajaran sering aku baca. Syukur kepada TUHAN karena pak Budi orangnya memang baik budi dan penuh perhatian. Dia mengatakan:”Suti semangat belajarmu sangat luar biasa, mulai besok kamu boleh menunggu di dalam ruang pelatihan dan duduk di bangku kosong bagian belakang. Kamu boleh ikut mendengarkan tapi kalau ada permintaan dari pelatih atau peserta kamu harus sigap melayani. Walau kamu boleh ikut belajar namun pekerjaan-pekerjaan kamu harus tetap selesai..., kalau sampai tak beres kamu tidak boleh ikut belajar lagi......”. Aku tentu tidak perlu berpikir lama-lama, langsung ku jawab:”Siap-siap pak Budi, semua pasti beres, terima kasih sudah ijinkan aku ikut belajar...”
--------------------------------------------------------------
Tika membaca email Suti sambil berpikir keras: “Suti ini orang yang beruntung atau orang yang sukses karena selalu terus berusaha untuk maju.....?
“Mana dulu ya...beruntung dulu atau selalu berusaha untuk maju dulu...?”
“Ah pusing juga ya...kalau sudah berusaha maju tapi tak beruntung bagaimana?”
“Tapi kalau hanya menunggu juga bagaimana ya....jangan-jangan pas keberuntungan tiba kita nya yang tak siap..?’
Tika rupanya pusing juga memikirkan hal ini sehingga memutuskan untuk ber sms dengan teman-temannya yg belajar di Mandiri Sahabatku dan bertanya: Manakah yang lebih penting, Keberuntungan atau Kemampuan (Kesiapan)? “
Ayo teman-teman bantu Tika...bagaimana pendapat teman-teman mana yang lebih penting KEBERUNTUNGAN atau KESIAPAN (KEMAMPUAN)..?
(bersambung)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar