Minggu 2: Kecakapan Komunikasi & Kecakapan Menjual
Catatan Tika Lembar 12: Menjadi Direktur Perusahaan
Pukul 22.00 waktu Hong Kong grup belajar Kuliner Nusantara kembali saling berkumpul untuk Skype dengan Suti yang ada di Indonesia.
Suti langsung melanjutkan kisahnya:” Setelah 5 tahun aku bergabung sebagai tenaga penjual dan berhasil naik pangkat jadi Senior Sales Accociate tidak lama setelah aku selesaikan kuliah malam bidang studi bisnis manajemen maka pak Budi tiba pada masa pensiun beliau. Pak Budi sebagai seseorang dengan jiwa entrepreneur bukan tipe yang suka menganggur, ia telah mempersiapkan diri untuk mendirikan sebuah usaha dalam bidang pelatihan Penjualan dan Bisnis. Nama perusahaannya adalah PT. Bina Cemerlang Pemasaran (PT.BCP).... eh ternyata beliau mengajak aku bergabung...” Suti diam sejenak.
“Apakah kau terima tawaran itu...?”
“Kau kan sudah mapan di perusahaan lama...? Hampir berbareng grup Kuliner Nusantara bertanya.
“Hmmm...inilah hebatnya pak Budi dia menawarkan aku sesuatu yang tak bisa aku tolak walau di pekerjaan baru di tempat pak Budi gaji lebih sedikit dan juga fasilitas lebih sedikit...maklumkan ini perusahaan yang masih baru jadi masih tergolong usaha kecil...” Suti menjelaskan.
“Lha jadi apa yang ditawarkan itu...? Ati dengan cepat bertanya.
“Pak Budi memberikan aku jabatan Direktur, jadi di kartu manaku akan tertulis Suti Sumarni Direktur Pemasaran & Senior Coach.....ha..ha..ha keren kan. Aku memilih jadi kapten di kapal kecil dari pada jadi kelasi di kapal besar..” Suti menjawab dengan pasti sambil tertawa.
“Keren juga ya.....tapi omong-omong bagaimana kamu bisa ketemu jodoh Suti...sarajana juga kan suami mu itu...? Cikal yang sudah lama menunggu jodoh tidak dapat menahan diri untuk menanyakan hal ini.
“Hmmm. ......ini dia rahasianya.. suatu kali aku membaca sebuah kalimat bijaksana dalam bahasa Inggris yang bunyinya....don’t wait for someone to bring you flowers but plant your own garden and decorate your own soul....kalau di bahasa Indonesiakan adalah...jangan tunggu sampai seseorang datang membawa bunga untukmu tapi ciptakan taman bungamu sendiri dan perindahlah jiwamu sendiri....kalau dalam bahasanya Suti artinya begini....jangan menunggu jodoh datang tapi tingkatkan dirimu sendiri sedemikian rupa sehingga hanya orang bodoh yang tak mau menikah denganmu.....Itulah yang jadi prinsip aku selama ini...aku tidak mau pusing-pusing soal itu..tapi aku berusaha membangun diri jadi manusia yang makin bernilai....dan ketika aku makin bernilai lebih banyak pria koq yang melirik aku...Ketika aku mulai ikut mengajar ..eh aku lihat pria memandang aku dengan hormat yang lebih lho, aku tidak dipandang hanya sebagai OG, lalu waktu aku kuliah naik kelas lagi tuh...dan teman-teman juga makin banyak....lalu ketika aku terjun di penjualan teman makin banyak lagi...nah karena pergaulan yang makin luas akibat kita telah meningkatkan diri itu akhirnya suatu kali aku bertemu dengan mas Subur....ha...ha...ha Subur ketemu Suti kan cocok ya..” Suti bercerita dengan penuh kegembiraan yang terpancar di wajahnya.
“Subur dan Suti...seperti jodoh dari lahir ya...tapi omong-omong dimana kalian saling bertemu pertama kali...? Cikal yang romantis kembali bertanya.
“Believe it or not....percaya atau tidak.....mas Subur itu ternyata pernah jadi salah seorang peserta training tempat aku pernah mengajar...... he he kata dia lho.. mas Subur itu langsung jatuh hati ketika melihat aku dengan lancar dan percaya diri berdiri di depan kelas......coba kalau dulu aku hanya duduk, diam dan senyum-senyum tanpa pernah belajar berkomunikasi, belajar menjual dan belajar melatih mana mungkin ketemu mas Subur itu...? Kembali Suti menjawab dengan mantap dan ini tampaknya membuat Cikal terinspirasi karena memang sudah lama ia menanti cinta datang menyapa.
“Oh gitu yah...luar biasa kisahmu ini ...... penuh dengan aneka warna dan ragam pengalaman...tidak seperti aku selama ini ..koq mendatar terus....mudah-mudahan belum terlambat memulai lagi...”. Tika menyambut sambil ber-refleksi.
“Pasti...pasti belum terlambat Tika...kamu masih muda koq..peluang masih terbuka.., kamu punya hak dan kemampuan untuk berjuang melukis masa depan jadi penuh warna yang indah....” Suti terus memberi semangat.
“Masih ada satu pertanyaan lagi mba Suti...?” Ini dari Bunda yang bertanya.
“Silahkan mba Bunda yang penuh semangat...”.Demikian Suti menjawab.
“Bagaimana ceritanya sampai mba Suti bisa menulis buku...memang masih ada waktu untuk menulis buku...? Dengan lugas Bulan bertanya.
“Oh itu.....begini ceritanya....waktu aku di kelas malam kuliah S1 ada teman sekelas seorang wartawan. Kami pernah mengerjakan tugas proyek bersama-sama...nah karena berteman maka dia jadi tahu kisah hidup ku...mulanya dia tidak terlalu tertarik koq waktu berkenalan pertama kali...tapi ketika aku undang dia untuk hadir di acara selamatan pembukaan PT Bina Cemerlang Pemasaran ... dia kaget kalau aku di PT BCP dan jadi salah satu Direkturnya...wah ini pantas jadi bahan tulisan di korannya....jadilah ia menulis tentang aku. Dan...kalian tahu ngga gara-gara tulisan itu PT BCP jadi makin dikenal... tulisan itu jadi iklan gratis. Ternyata sambutan masyarakat sangat baik tentang kisahku.... ada yang sampai telepon ke redaksi ingin bertemu aku. Nah ..itulah yang jadi inspirasi kenapa tidak dijadikan buku saja....”Suti bercerita dengan lancar dan bangga tentunya.
“Jadi yang menulis itu Suti atau si reporter itu...?” Tika yang cukup kritis bertanya.
Suti terseyum sambil mengerlingkan mata “Ini pertanyaan bagus...... semula temanku yang reporter itu yang mengajukan diri untuk menulis....aku tidak mau..aku katakan aku mau ditulis kisahnya kalau kita berdua menulis bersama...hayo tahu tidak apa alasannya...?”
“Apa ya...................?” Anggota-anggota Grup Kuliner Nusantara menjawab bersama sambil bingung.
“Aku minta agar ditulis bersama agar kawanku ini mengajar aku bagaimana menulis.....aku jadi belajar hal baru lagi kan.....selain itu namaku juga ditulis sebagai salah satu penulis.....ha..ha...ha ...sekali dayung dua pulau terlampui..” Suti menjawab dengan mantap dan percaya diri.
“Dasar...dasar ..Suti yang selalu haus ilmu dan ingin terus belajar dan berubah....” Itulah yang dikatakan bersama-sama oleh Grup Kuliner Nusantara.
“Itulah manfaatnya kalau kita punya banyak ide...atau jadi orang kreatif....entrepreneurkan harus kreatif...” Suti menyahut komentar teman-teman dari Grup Kuliner Nusantara.
“Mau...mau dong.... belajar kreativitas Suti...ajarin aku”.Hampir serentak Tika, ati, Bunda dan Cikal memohon.
“Tidak perlu dari aku....coba lihat jadwal kalian di Kelas Dasar minggu ke 3..itukan tentang kreativitas dan inovasi....ayo datang ya Ke Mandiri Sahabatku...jangan absen..” Suti mengakhiri pembicaraan dengan memberikan semangat.
Malam itu mereka mengakhiri perbincangan dengan semangat baru, kisah Suti sungguh sangat menginspirasi Tika, Ati, Bunda dan Cikal. Mereka memutuskan untuk memiliki impian, membangun anak tangga naik ke atas, berupaya sebisa mungkin dan tentunya sambil berdoa kepada TUHAN YME untuk bimbingan dan pertolonganNya. Malam itu mereka tidur dengan membawa impian masing-masing dan menyiapkan diri untuk masuk ke Kelas Dasar untuk pembelajaran berikutnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar