Senin, 16 Desember 2013

Minggu 5: PELUANG

Catatan Tika Lembar 27: Rencana Ati

Setelah Tika dan Bunda berbagi rencana masa depan sekarang tinggal Ati dan Cikal.
“Aku yang akan cerita sekarang.... aku duluan ya Cikal.” Ati langsung mengambil inisiatif, Cikal langsung mengiyakan dan dalam hatinya Cikal kagum pada perubahan-perubahan yang terjadi dalam diri Ati. Sekarang ia berani berkomunikasi dan tidak takut mengambil inisiatif.
“Aku akan membangun bisnis di kampung bersama dengan kakak dan aku akan mulai melibatkan diri walaupun aku masih ada di Hong Kong sekarang. Aku terinspirasi oleh mbak Richa Susan dan mbak Wartilah yang sudah memulai bisnis sejak mereka di Hong Kong dengan bekerja sama dengan keluarga. “Ini 5 anak tangga masa depan yang aku rencanakan..” Ternyata Ati sudah membawa selembar kertas dan ia menunjukkan itu kepada teman-temannya.

Anak Tangga 1 (2013-2015)
Membantu kakak mengembangkan usaha warung dan memanfaatkan halaman rumah dan warung supaya lebih produktif.

Kemudian Ati menjelaskan:“Aku punya seorang kakak dengan beda usia 12 tahun namanya Ami. Dia yang merawat aku waktu kecil...aku punya banyak kenangan manis dengan dia. Kak Ami sudah berkeluarga dan meneruskan tradisi kami bertani bersama suaminya. Sekitar 2 tahun lalu jalan di depan tanah kami diaspal dan mendadak menjadi lebih ramai. Kak Ami dan suaminya mendapatkan ide untuk buka warung.....sudah 1 tahun lebih tapi begitu-begitu saja. Setiap hari hanya sekitar Rp 100 ribu yang didapat....Kak Ami pernah berkata di kampung mencari Rp 100 ribu saja koq susah. ..” Ati diam sejenak lalu meneruskan.
“Setelah aku belajar di MS dan bertemu teman-teman pikiranku terbuka. Aku pikir kak Ati melakukan cara yang keliru.....kalau dalam memancing kak Ati dan suami sudah beli umpan dan dan alat pancing tapi ternyata itu semua tak cocok dengan ikan yang ingin ditangkap...untuk orang sekampung warung mereka ini kemahalan harganya sedangkan untuk orang kota yang lewat di depan warung....aku kira tampilan dan menunya juga tidak cocok. Serba tanggung begitu....jadi yang datang adalah orang-orang kepepet...penduduk kampung yang kehabisan makanan atau orang kota yang kepepet lapar sehingga berhenti warung kak Ati...hanya sedikit pelanggannya...” Ati rupanya terus menyimak sewaktu di kelas maupun selama mereka berdiskusi. Ia sekarang pandai menganalisa dan menghubungkan apa yang telah dipelajari dengan bisnis kakaknya.

“Aku akan mendiskusikan hal ini dengan keluarga kak Ati dan aku akan mengusulkan anak mereka Arman agar mulai dilibatkan. Aku juga minta mereka memanfaatkan kolam yang ada di belakang warung dan banyak pohon buah yang ada di belakang warung. Disana juga ada kandang-kandang binatang. Aku minta mereka pertimbangkan membuat kebun binatang mini. Orang kota kan jarang sekali lihat kambing...lihat sapi...lihat bebek dan angsa. Seharusnya dari kebun dan kolam yang di belakang warung ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk menarik pelanggan...khususnya pelanggan dari kota...” Ati sangat mantap menjelaskan dan kemudian ia menutup dengan kalimat.” Sebelum usaha warung kak Ati penjualannya dari Rp 100 ribu sehari naik sampai Rp 500 ribu perhari aku tidak akan pulang kampung.....Aku mau praktek bisnis dari jauh...aku akan jadi konsultan bisnis kak Ami membantu dia membesarkan usaha. Aku sengaja membuat target ini untuk membakar semangatku selain itu aku ingin memastikan pada saat pulang kampung aku sudah 50% sukses... Sudah ada yang dikerjakan.....tinggal melanjutkan dan meningkatkan supaya aku tak perlu bingung saat di kampung....” Teman-teman Ati kaget juga dengan pernyataan ini, Ati menunjukkan sebuah cara berpikir yang logis dan hati-hati. Ia bercita-cita sekaligus mengelola risiko dengan baik.

“Aku kira rencana Ati ini masuk akal dan cerdas...........aku kenal seorang teman yang begitu pulang langsung buka usaha dan mendapatkan banyak kesulitan...dia tidak paham situasi lapangan...siapa pelanggan dan siapa-siapa pesaing utama juga tak diketahui dengan baik. Selain itu ternyata menggalang kerja sama dengan keluarga juga perlu waktu...kalau tiba-tiba mereka bisa kaget. Kemudian ketika semua masalah terjadi mereka baru sadar bahwa mereka tidak punya teman diskusi di kampung. Akhirnya dia kembali ke Hong Kong.....Hmm..ini sebuah cara yang kreatif yaitu menggalang kerja sama dengan keluarga atau teman di Indonesia sementara masih kerja di Hong Kong. Boleh juga ya diceritakan kepada teman-teman lain barangkali saja cara ini cocok juga untuk mereka...” Tika mencoba menyimpulkan dan kemudian meminta Ati melanjutkan ke anak tangga yang ke 2.

Anak Tangga 2 (2015-2017)
Membuka warung Keluarga Bahagia 2 bekerja sama dengan keponakan atau teman yang memiliki visi dan semangat yang sama.

Ati menunjukkan Anak Tangga ke 2 sambil menjelaskan.
“Dengan ikut membesarkan usaha bisnis kak Ati maka aku akan mendapatkan 3 hal sekaligus. Pertama aku akan mendapatkan pengalaman membesarkan usaha bisnis. Yang kedua dengan dikembangkan maka nama warung itu akan makin terangkat ...jadi mereknya mulai dikenal. Ketiga aku sudah melatih keluarga kak Ati termasuk Arman keponakkannu. Inilah juga balas budiku kepada kak Ati.....” Pernyataan Ati ini juga sebuah pencerahan bagi para sahabatnya. Ternyata dengan melakukan bisnis bersama dengan keluarga juga ada manfaat yang lain yaitu melakukan pelatihan secara tidak langsung. Ke 4 sahabat ini makin asyik mendengarkan dari Ati.

“Langkah selanjutnya adalah membuka cabang dari warung tsb...oh ya sebelumnya aku akan beri nama warung itu...aku akan usulkan nama warung itu adalah Keluarga Bahagia.....artinya ini adalah warung dari orang-orang yang bahagia untuk membahagiakan pelanggan...bahagia melalui makanan yang enak dengan harga pantas ... serta tempat bermain anak yang alami dan bersih di belakang warung....”
“Sip....sip....kreativitas sudah mulai kelihatan...” Akhirnya Cikal tak tahan juga untuk berkomentar. Demikian juga Bunda tiba-tiba bertanya karena penasaran.
“Ati... aku dengar nih dari teman-teman.....katanya sulit mengatur saudara dalam bisnis...gimana tuh solusimu....?” Ati kemudian meneruskan dan menjelaskan.
“Aku kenal Arman...dia anak baik...namun sebelum aku ajak membuka usaha bisnis..aku akan katakan kepada dia beberapa syarat. Pertama bisnis perlu komitmen dan aku minta dia berdedikasi membangun usaha ini. Dia akan jadi pemilik bersama dengan aku jadi mental dan perilaku harus seperti entrepreneur. Kedua kalau di 2 tahun pertama dia juga tidak serius ikut mengembangkan warung yang pertama maka aku tidak akan mengajak dia bersama aku membuka warung yang ke 2...walau saudara dekat aku harus tegas...dan tegas itu harus di depan dan bukan di belakang...nanti banyak masalah kalau diurusnya dibelakang...” Ati kemudian menunjukkan anak tangga dia yang ke 3. Rencana ini membuat sahabat-sahabat Ati geleng kepala karena untuk para sahabatnya bisa memiliki sebuah usaha bisnis yang sukses sudah membuat mereka puas tapi Ati ternyata sudah punya impian dan upaya bagaimana mengembangkan warung Keluarga Bahagia dari satu hingga banyak...masing-masing warung akan punya nomor.
“Wah bagaimana caranya ya......?” Mereka semua bertanya dalam hati dan tak sabar mendengar rencana Ati berikutnya.

(bersambung)

Minggu, 15 Desember 2013

Minggu 5: PELUANG

Catatan Tika Lembar 26: Rencana Bunda

Bunda sekarang mendapat giliran untuk menceritakan rencana hidup.
“Aku membagi kehidupan dalam beberapa anak tangga dengan tujuan akhir memiliki usaha katering sendiri. Anak tangga yang pertama adalah kerja magang di usaha katering yang ada di Hong Kong..aku akan belajar disana...aku ingin tegaskan bahwa aku bukan hanya belajar sampai bisa tapi harus ahli dan hebat dalam hal ini. Itu anak tangga yang kedua jadi seseorang yang hebat dalam memasak Chinese Food.....seandainya di Hong Kong ada lomba masak Chinese Food diantara orang asing....maka aku akan ikut dengan target juara. Untuk mencapai itu...masih ingatkan dengan Teresa teman dari Chen anak terkecil dari Bobo? Aku dikenalkan oleh Chen karena aku mencari informasi...dan Teresa memimpin sebuah usaha katering di Hong Kong...aku sudah bertemu Teresa aku katakan aku mau magang...kerja ngga digaji tidak apa..aku katakan setiap libur aku sanggup kerja 4 jam tanpa dibayar...untuk aku ini kursus gratis...untuk Teresa ya tenaga kerja gratis...tentu ia tak akan menolak. Aku akan kerjakan ini dalam waktu 1 tahun ke depan....melalui Teresa aku akan mencapai anak tangga pertama dan kedua”

“Seterusnya...?”Ati tak sabar mendengarkan.
“Hmmm...seterusnya adalah anak tangga ke 3 yaitu kerja perusahaan katering di Semarang supaya aku bisa serumah lagi dengan anakku dan aku targetkan jadi kepala koki masakan Chinese Food...aku tidak mau dari bawah lagi sebagai tukang cuci piring....aku akan buktikan bahwa aku sanggup jadi kepala koki...aku akan ceritakan bahwa aku magang di Hong Kong di perusahaan katering. Untuk sasaran ini upaya aku selama 1 tahun ini adalah membina hubungan dengan pengusaha katering di Semarang.....aku sudah berkomunikasi dengan mantan bossnya Tiara temanku dulu...boss ini punya usaha katering di Semarang dan akan dapat pesanan untuk pabrik milik orang Hong Kong...aku sudah kontak dia dan mengatakan dalam waktu 1 tahun aku akan bisa membantu dia...aku katakan paling sedikit 100 resep akan aku kuasi. ....aku benar-benar nekad deh....Jadi anak tangga yang ke dua adalah jadi kepala koki untuk katering khusus Chinese Food. Upayanya adalah magang di Teresa dan kumpulkan resep paling sedikit 100 resep dan terus berkomunikasi dengan pengusaha katering di Semarang...” Bunda tampak sekali memiliki rencana yang jelas.

“Jadi kau...kembali jadi pegawai...bagaimana cita-cita entrepreneur mu Bun...?” Tika bertanya dengan rasa heran.
“Cita-cita itu tetap ku pelihara dan tetap menyala...itu rencana berikutnya setelah nanti aku 3 tahun bekerja di tanah air....selama aku bekerja nanti aku akan bekerja bukan sekedar untuk gaji...aku bekerja untuk BELAJAR dan BERTUMBUH MAKIN SIAP...aku sengaja tidak mau langsung buka usaha katering.......aku harus jujur pada diri sendiri aku belum siap....aku masih perlu belajar....setiba aku di tanah air aku mau memiliki waktu dan perhatian yang cukup untuk anakku....aku mau prioritaskan anak dulu...aku tidak mau di tahun-tahun pertama di tanah air aku pontang panting mengurus usaha bisnis yang baru lahir sehingga anakku kembali tak mendapatkan perhatian....masih ingatkan pak Ucec mengatakan ada 3 jalur masa depan yaitu ENTREPRENEURSHIP (jadi entrepreneur), EMPLOYABILITY (jadi pekerja professional) & EDUCATION (meneruskan pendidkan). Aku mengambil dulu jalur employability atau karyawan sebagai sasaran pertama di tanah air namun pikiran jiwaku tetap menuju posisi entrepreneur...itu akan aku capai posisi entrepreneur secepatnya 3 tahun dan selambatnya 5 tahun setelah aku kerja di perusahaan katering. Inilah anak tangga ke 4 untuk aku.....”

“Wah..ternyata kau membuat sebuah jalinan anak tangga yang kreatif...mengkombinasikan berbagai hal tapi ujung-ujung nya menjadi entrepreneur....aku salut Bun..” Dengan tulus Ati memberikan pujian.
“Jadi jumlah anak tanggamu ada 4 ya Bun....” Demikian Cikal ingin memastikan.
“Tidak...tidak aku punya 5 dan barangkali tahun depan jadi 6 atau 7...hidup terus bergerak dan aku ingin terbang lebih tinggi....”Bunda menjawab dengan terseyum.
“Sekarang apa anak tangga ke 5 yang sudah kau pikirkan Bu...?” Tika bertanya dengan rasa ingin tahu.
“Anak tangga ke ...adalah membangun usaha bisnis bersama anakku semata wayang...sebuah usaha bisnis yang mengakar dari bakat dan talenta anakku....aku ingin memiliki usaha bisnis yang dibangun bersama dia...aku akan membantu dia bagaimana memulai dari nol dan kemudian menumbuhkan jadi besar.........aku ingin mewariskan ilmu entrepreneurship kepada anakku....bukan usaha bisnis yang aku wariskan tapi ilmunya......inilah hadiah terindah yang ingin aku berikan kepada anakku” Bunda menjawab dengan mata sedikit berkaca karena teringat pada anaknya.

(bersambung)
Minggu 5: PELUANG

Catatan Tika Lembar 26: Rencana Bunda 

Bunda sekarang mendapat giliran untuk menceritakan rencana hidup.
“Aku membagi kehidupan dalam beberapa anak tangga dengan tujuan akhir memiliki usaha katering sendiri. Anak tangga yang pertama adalah kerja magang di usaha katering yang ada di Hong Kong..aku akan belajar disana...aku ingin tegaskan bahwa aku bukan hanya belajar sampai bisa tapi harus ahli dan hebat dalam hal ini.  Itu anak tangga yang kedua jadi seseorang yang hebat dalam memasak Chinese Food.....seandainya di Hong Kong ada lomba masak Chinese Food diantara orang asing....maka aku akan ikut dengan target juara. Untuk mencapai itu...masih ingatkan dengan Teresa teman dari Chen anak terkecil dari Bobo? Aku dikenalkan oleh Chen karena aku mencari informasi...dan Teresa memimpin sebuah usaha katering di Hong Kong...aku sudah bertemu Teresa aku katakan aku mau magang...kerja ngga digaji tidak apa..aku katakan setiap libur aku sanggup kerja 4 jam tanpa dibayar...untuk aku ini kursus gratis...untuk Teresa ya tenaga kerja gratis...tentu ia tak akan menolak. Aku akan kerjakan ini dalam waktu 1 tahun ke depan....melalui Teresa aku akan mencapai anak tangga pertama dan kedua”

“Seterusnya...?”Ati tak sabar mendengarkan.
“Hmmm...seterusnya adalah anak tangga ke 3 yaitu kerja perusahaan katering di Semarang supaya aku bisa serumah lagi dengan anakku dan aku targetkan jadi kepala koki masakan Chinese Food...aku tidak mau dari bawah lagi sebagai tukang cuci piring....aku akan buktikan bahwa aku sanggup jadi kepala koki...aku akan ceritakan bahwa aku magang di Hong Kong di perusahaan katering. Untuk sasaran ini upaya aku selama 1 tahun ini adalah membina hubungan dengan pengusaha katering di Semarang.....aku sudah berkomunikasi dengan mantan bossnya Tiara temanku dulu...boss ini punya usaha katering di Semarang dan akan dapat pesanan untuk pabrik milik orang Hong Kong...aku sudah kontak dia dan mengatakan dalam waktu 1 tahun aku akan bisa membantu dia...aku katakan paling sedikit 100 resep akan aku kuasi. ....aku benar-benar nekad deh....Jadi anak tangga yang ke dua adalah jadi kepala koki untuk katering khusus Chinese Food. Upayanya adalah magang di Teresa dan kumpulkan resep paling sedikit 100 resep dan terus berkomunikasi dengan pengusaha katering di Semarang...” Bunda tampak sekali memiliki rencana yang jelas.

“Jadi kau...kembali jadi pegawai...bagaimana cita-cita entrepreneur mu Bun...?” Tika bertanya dengan rasa heran.
“Cita-cita itu tetap ku pelihara dan tetap menyala...itu rencana berikutnya setelah nanti aku 3 tahun bekerja di tanah air....selama aku bekerja nanti aku akan bekerja bukan sekedar untuk gaji...aku bekerja untuk BELAJAR dan BERTUMBUH MAKIN SIAP...aku sengaja tidak mau langsung buka usaha katering.......aku harus jujur pada diri sendiri aku belum siap....aku masih perlu belajar....setiba aku di tanah air aku mau memiliki waktu dan perhatian yang cukup untuk anakku....aku mau prioritaskan anak dulu...aku tidak mau di tahun-tahun pertama di tanah air aku pontang panting mengurus usaha bisnis yang baru lahir sehingga anakku kembali tak mendapatkan perhatian....masih ingatkan pak Ucec mengatakan ada 3 jalur masa depan yaitu ENTREPRENEURSHIP (jadi entrepreneur), EMPLOYABILITY (jadi pekerja professional) & EDUCATION (meneruskan pendidkan). Aku mengambil dulu jalur employability atau karyawan sebagai sasaran pertama di tanah air namun pikiran jiwaku tetap menuju posisi entrepreneur...itu akan aku capai posisi entrepreneur secepatnya 3 tahun dan selambatnya 5 tahun setelah aku kerja di perusahaan katering. Inilah anak tangga ke 4 untuk aku.....”

“Wah..ternyata kau membuat sebuah jalinan anak tangga yang kreatif...mengkombinasikan berbagai hal tapi ujung-ujung nya menjadi entrepreneur....aku salut Bun..” Dengan tulus Ati memberikan pujian.
“Jadi jumlah anak tanggamu ada 4 ya Bun....” Demikian Cikal ingin memastikan.
“Tidak...tidak  aku punya 5 dan barangkali tahun depan jadi 6 atau 7...hidup terus bergerak dan aku ingin terbang lebih tinggi....”Bunda menjawab dengan terseyum.
“Sekarang apa anak tangga ke 5 yang sudah kau pikirkan Bu...?” Tika bertanya dengan rasa ingin tahu.
“Anak tangga ke ...adalah membangun usaha bisnis bersama anakku semata wayang...sebuah usaha bisnis yang mengakar dari bakat dan talenta anakku....aku ingin memiliki usaha bisnis yang dibangun bersama dia...aku akan membantu dia bagaimana memulai dari nol dan kemudian menumbuhkan jadi besar.........aku ingin mewariskan ilmu entrepreneurship kepada anakku....bukan usaha bisnis yang aku wariskan tapi ilmunya......inilah hadiah terindah yang ingin aku berikan kepada anakku” Bunda menjawab dengan mata sedikit berkaca karena teringat pada anaknya.

(bersambung)

Jumat, 13 Desember 2013

Catatan Tika di Kelas Dasar Mandiri Sahabatku

MINGGU 1: Tema Road Map & Anak Tangga Masa Depan

Catatan Lembar 2: Menjadi Pahlawan Untuk Diri Sendiri.

Diskusi dengan teman-teman di Kelas Dasar membuat Tika mulai memikirkan dirinya sendiri. “Kata mereka di tanah air kami ini pahlawan devisa..... itu bagus tapi sekarang tiba saatnya aku jadi pahlawan untuk diriku sendiri...”. Demikian pikiran itu seketika muncul di dalam benak Tika. Pelajaran sepanjang pagi sampai sore memberikan pencerahan dan juga kejutan-kejutan. Ia membuka kembali catatan-catatan yang dibuatnya ketika mendengar dan menyimak apa yang dibagi oleh pelatih/mentor dari UCEC (Universitas Ciputra Entrepreneurship Center), antara lain:
• Kita semua pasti akan jadi tua dan jangan jadi orang tua yang miskin, tidak punya teman, sakit-sakitan lalu masuk neraka pula.
• Kita semua akan masuk ke masa depan dan kelak di masa depan sana akan ada “jaman gak bisa”. Mulai dari ngga bisa lihat jauh, nga bisa lihat dekat, ngga bisa makan sembarangan, ngga bisa jalan cepat terus setiap tahun bertambah ngga bisa nya sampai akhirnya ngga bisa nafas lagi. Jangan sampai nanti di jaman ngga bisa kerja kita tidak punya uang sedikitpun untuk membiayai kehidupan.
• Orang gila adalah orang yang melakukan hal yang sama berulang-ulang tapi mengharapkan hasil yang berbeda. Ini kata mbah Einstein.
• Saya adalah orang yang paling bertanggung jawab terhadap masa depan saya.
• Saya dapat mengubah masa depan bila belajar, berubah dan berinovasi dengan melakukan ilmu entrepreneurship.
• Ilmu entrepreneur adalah mengubah kotoran dan rongsokan jadi emas. Atau yang tak berharga diubah jadi berharga.
• Caranya adalah mengembangkan kreativitas dan inovasi.
• Cita-cita yang tinggi bisa dicicil jadi sasaran-sasaran yang lebih sederhana dan dilakukan berurutan sehingga jadi anak tangga menuju sasaran yang jauh lebih tinggi.
• Setiap sasaran harus dicapai melalui upaya-upaya.

“Hmm...pikiran tanpa tindakan tidak membawa kemana-mana..” Tika kembali bertekad. Ia harus berani membangun impian besar kemudian menjadikan impian itu sebuah sasaran besar yang terukur selanjutnya mengembangkan sasaran-sasaran kecil berdasar sasaran besar itu dan akhirnya dengan bergerak dan bertindaklah yang akan membawanya ke impian tsb. Sebagai seorang anak petani miskin tidak pernah ada dalam impian Tika memiliki sebuah usaha sendiri. Menjadi majikan demikian banyak orang mengatakan, menjadi pengusaha atau entrepreneur itu yang disebut-sebut di Kelas Dasar adalah sesuatu yang terlalu besar untuk Tika yang berijazah SMP. Namun hari Minggu tgl 17 November 2013 menjadi hari yang berbeda karena adalah kali pertama dia berani mengatakan kepada dirinya “kenapa tidak..?” Ya kenapa tidak menjadi majikan dan meninggalkan status buruh dengan sengaja. Dengan hasrat meluap ia menuliskan dalam lembar Road Map bahwa 5 tahun lagi ia akan ada di Yogyakarta, berkumpul bersama adik dan sepupunya, menjadi entrepreneur yang mengelola warung lesehan, punya penghasilan sama seperti di Hong Kong. Lalu apa ya berikutnya...? Bagaimanakah sasaran besar ini dibagi jadi sasaran-sasaran kecil? Tika yang sudah lama meninggalkan bangku sekolah memang tidak mudah menganalisa dan berpikir seperti mengerjakan PR di masa lalu. “Kalau ngga sekarang kapan lagi..” Itulah suara yang berteriak dari kedalaman hatinya dan itulah yang membuat Tika meneruskan menulis dan tiba di lembar yang ke 3.
Catatan Tika di Kelas Dasar Mandiri Sahabatku

MINGGU 1: Tema Road Map & Anak Tangga Masa Depan

Catatan Lembar 1

Tika akhirnya memutuskan untuk ikut Kelas Dasar Mandiri Sahabatku berkat ajakan yang gigih dari seorang teman sekampung yang pernah ikut kelas sebelumnya. “Pelatihan seperti apa lagi sih.....”. Demikian ia berpikir namun setelah mempertimbangkan kegigihan temannya dan pelatihan Mandiri Sahabatku itu gratis akhirnya tgl 17 November 2013 lalu ia datang juga ke Hotel Reinesance di Wanchai. Begitu ia datang rasanya Tika disambar geledek karena pertanyaan-pertanyaan dari para pelatih membuat dia berpikir ulang apa arti pengalaman hidupnya selama bekerja di Hong Kong selama 12 tahun terakhir ini. Begitu banyak pikiran baru yang membuat dia jadi terhenyak dan menanyakan kembali apa yang ia sudah terbiasa lakukan selama ini selama bertahun-tahun dan begitu lama.

“Apakah aku akan mengakhiri karir hidupku yang begitu berharga sebagai pensiunan BMI...?”.
“Kalau ada pilihan lain yang bisa aku perjuangkan apakah aku akan tetap memilih jadi BMI..?”
“Kenapa aku membiarkan hidupku selama 12 tahun melakukan hal yang sama berulang-ulang...?”
“Bisakah aku memiliki ijazah STM (Sanggup tidak Miskin)...?”
“Apakah aku bisa...?”

Hari Minggu itu Tika belajar bagaimana mengungkapkan impian dalam bentuk sasaran. Berbeda dengan sekedar impian yang indah sasaran adalah tujuan yang dapat kita ukur secara waktu maupun besaran angka yang lain. Contoh sasaran adalah sbb:

• Tahun 2018 saya ingin buka Warung Lesehan dengan kapasitas 50 tempat duduk.
• 5 tahun lagi saya ingin punya toko sembako dengan penjualan perhari mencapai Rp 2 juta.
• Akhir tahun 2018 saya akan buka katering dengan penjualan minimum Rp 10 juta per bulan.
• Di akhir kontrak yang ke 2 atau 4 tahun lagi saya akan buka usaha kolam gurame dengan 2 kolam untuk 500 ekor bibit.

Tika juga belajar bahwa kita tidak perlu takut membuat sasaran yang besar karena sasaran yang besar dapat kita bagi jadi sasaran-sasaran yang lebih kecil yang saling tersambung dan makan lama makin meningkat mendekati yang besar. Bukankah sasaran yang besar itu bila kita merintisnya tahap per tahap dengan setia maka akan mungkin tercapai, nah itulah yang sekarang jadi kesadaran baru Tika. Sebagai contoh seorang anak umur 6 tahun ingin jadi sarjana. Bisakah? Pasti bisa asalkan sasaran-sasaran lebih kecil berikut ini ia dapat capai yaitu dapatkan ijazah SD, lalu ijazah SMP, lalu ijazah SMA dan terakhir ijazah Perguruan Tinggi. Tika mengakhiri lembar pertama catatan belajarnya setelah menyelesaikan pelatihan minggu pertama di Kelas Dasar Mandiri Sahabatku dengan mengatakan kepada dirinya sendiri:”Tiba saatnya aku jadi tour leader untuk hidupku sendiri, aku ingin memiliki pilihan-pilihan dalam hidup ini, merancang hidup seindah mungkin dan berani membayar harga dengan kerja keras atau belajar keras sekalipun....” . Sekarang lembar 2 sudah ada di tangannya. Tika merenung sejenak ada banyak hal yang ada di kepalanya. Sekarang apa yang harus aku tulis berikutnya...? Ia kemudian menghubungi teman-teman sekelasnya di Kelas Dasar itu dan bertanya apa saja yang mereka dapatkan di hari pertama.


Catatan Tika di Kelas Dasar Mandiri Sahabatku

MINGGU 1: Tema Road Map & Anak Tangga Masa Depan

Catatan Lembar 3: Mengembangkan Sasaran-Sasaran yang Lebih Kecil

Sekarang Tika sudah memiliki sebuah sasaran besar untuk hidupnya yaitu memiliki dan mengelola sebuah warung lesehan di Yogyakarta, di kota tempat dimana adiknya tinggal kelak 5 tahun lagi. Tika mencatat apa saja yang ia butuhkan untuk bisa sukses memiliki dan mengelola warung lesehan itu. Ia memikirkan sasaran-sasaran lebih kecil apa yang harus ia capai untuk pada akhirnya bisa memilki sebuah warung lesehan, ia kemudian membuat catatan di buku hariannya sebagai berikut:

• Untuk ada warung lesehan harus ada lokasi yang tepat yaitu lokasi yang banyak dilewati orang atau dekat dengan tempat keramaian. Jadi punya lokasi yang tepat adalah salah satu sasarannya.
• Untuk sukses perlu paham dan mengerti dunia bisnis. Harus belajar dari orang-orang yang sudah sukses menjalankan usaha bisnis. Tika kemudian mencatat bahwa dia harus ikut MS (Mandiri Sahabatku) sampai selesai.
• Tika juga menyadari bahwa selain unsur bisnis secara umum dia juga harus paham bagaimana mengelola warung lesehan dengan baik. Ia perlu tahu tentang jam operasional, cara mengatur menu, cara melayani pelanggan, dimana saja bahan baku dibeli, bagaimana mengeloa karyawan, bagaimana berpromosi, apa saja kebiasaan pelanggan di Yogya dll. Untuk itu Tika memutuskan untuk jadi orang yang sangat paham bisnis kuliner sama seperti orang yang pernah mengerjakan bisnis itu selama 1 tahun.
• Tika kemudian mulai membayangkan warung lesehannya seperti apa ya? Ternyata tidak gampang juga nah sekarang dia berpikir bahwa dia perlu ada yang membantu dalam merancang warung lesehan itu. Tika kemudian mencatat bahwa dia harus memiliki sebuah rancangan warung lesehan yang indah, asri namun murah sebagai sasaran. Harus ada yang menggambar tapi siapa yang akan menggambar ini semua..?
• Sekarang ada banyak hal yang ternyata harus dilakukan. Tika mulai memikirkan berapa modal yang harus ia keluarkan. Ternyata secara kasar dia harus punya Rp 200 juta untuk bangunan, peralatan dan modal kerja. Tapi itu belum termasuk harga tanahnya. Dia bisa menabung mengumpulkan Rp 200 juta tapi bagaimana dengan biaya untuk lahannya? Tika kemudian memutuskan bahwa dia harus bisa menabung selama 5 tahun ke depan sampai sebesar Rp 200 juta dan mendapatkan mitra usaha yang dapat menyediakan tanah.

Sekarang sudah ada daftar sasaran berikutnya bagaimana daftar sasaran ini menjadi sebuah urutan sasaran. Mana yang harus didahulukan mana yang harus berada paling belakang? Ini membutuhkan waktu cukup lama untuk Tika memikirkannya dan ia diam sejenak sebelum masuk ke lembar yang ke 4.
Catatan Tika di Kelas Dasar Mandiri Sahabatku

MINGGU 1: Tema Road Map & Anak Tangga Masa Depan

Catatan Lembar 4: Menyusun Sasaran Menjadi anak Tangga Masa Depan

Sekarang Tika punya ke 5 hal tsb dan memikirkan bagaimana mengurut sasaran-sasaran ini. Tika berpikir sungguh-sungguh dengan menyediakan waktu dan juga berdiskusi dengan teman-temannya. Inilah yang jadi pertimbangan-pertimbangan Tika dalam membuat urutan:

1. Membangun diri jadi entrepreneur adalah sebuah peristiwa besar dalam hidupnya. Ia akan dan harus membuat keputusan-keputusan penting dalam hidupnya yang memiliki dampak besar dan juga risiko tersendiri. Tika sadar ia harus mampu membuat keputusan dengan sebaik mungkin untuk itu ia membutuhkan informasi-informasi tambahan supaya ia dapat mengambil keptusan dengan tepat. Ia sadar ia lahir bukan dari keluarga entrepreneur, ia sadar ia masih miskin pengetahuan tentang bisnis jadi mendapatkan ilmu dan informasi sebanyak mungkin adalah sasaran-sasaran awal yang ia harus lakukan.
2. Ia harus mendisplin diri untuk menabung.
3. Tika akan mengambil keputusan-keputusan yang berisiko setelah ilmu bisnis warung lesehan ia kuasai dan ia akan memanfaatkan nasehat dan masukan dari orang-orang yang ahli. Supaya waktu tidak berlalu begitu saja Tika harus membuat target waktu kapan masa membangun kecakapan dan mengumpulkan informasi akan selesai dan kapan keputusan-keputusan penting harus diambil.

Dari 2 pertimbangan diatas akhirnya Tika mengambil keputusan-keptusan berikut ini:

• Langkah yang paling gampang adalah ikut Mandiri Sahabatku sebagai usaha memahami bisnis dengan beinovasi. Tika menyebut ini sebagai Sasaran 1, yaitu sasaran yang ia bisa lakukan segera.
• Setelah Sasaran 1 nanti selesai yang mana yang harus ia selesaikan? Setelah berpikir sejenak Tika memutuskan bahwa ia harus tahu lebih banyak tentang bisnis kuliner dan ini ada 2 cara. Pertama belajar dari buku, pengamatan dan cerita teman dan berikutnya adalah belajar praktek langsung di lapangan. Nah untuk praktek lapangan ia pikir tidak bisa dilakukan sekarang selama di Hong Kong. Sekarang ini di Hong Kong ia akan belajar dari buku, pengamatan dan dari teman. Itulah Sasaran 2 dari Tika.
• Sembari melakukan Sasaran 1 dan Sasaran 2 maka Tika memutuskan untuk menyisihkan Rp 2,5 juta perbulan supaya dalam waktu 5 tahun atau 60 bulan sedikitnya ia akan mendapatkan uang Rp 150 juta dan kalau ditambah bunga tabungan serta tabungan saat ini akan dicapai uang sejumlah Rp.200 juta. Inilah Sasaran 3 dari Tika.
• Sasaran 4 untuk Tika adalah magang di warung lesehan di Yogyakarta atau di sekitar Yogyakarta. Ini akan dilakukan setelah selesai kontrak kerja di Hong Kong. Untuk Tika hal ini penting sebab ia sesungguhnya bukan orang yang berani mengambil risiko. Orang bilang dia terlalu hati-hati. Nah untuk jalan amannya maka Tika memutuskan strategi “biar lambat asal selamat” yaitu belajar sebanyak mungkin sambil bergerak terus ke muka.
• Sembari melakukan Sasaran 4 maka Tika berpikir inilah saatnya mulai mencari-cari lokasi yang tepat dan murah. Ia berpikir kalau pengetahuanku makin banyak maka aku akan makin cermat dan tepat dalam memilih lokasi. Inilah Sasaran 5 dari Tika.
• Setelah Sasaran 5 apa sasaran berikutnya? Tika mulai membayang-bayangkan masa depannya kembali dan ia memutuskan bahwa dia harus bisa memperoleh gambaran sederhana bagaimana bentuk dari warung lesehan itu. Ia menutuskan untuk mencari gambar arsitektur yang bagus, asri namun murah.
• Setelah Sasaran 5 maka Tika berpikir inilah saatnya mencari mitra. Ia menuliskan bahwa Sasaran 6 adalah mencari mitra yang mau bekerja sama. Apakah menyediakan dana atau menyediakan tanah serta bangunan. Tika berpikir kalau dia datang ke calon mitra dengan pengetahuan yang banyak tentang bisnis kuliner, ada pengalaman magang dan ada gambar bangunan yang bagus tapi sederhana maka itu akan lebih meyakinkan calon mitra. Akan lebih mudah bagi mitra untuk tertarik pada gagasan Tika dari pada hanya membawa segepok “proposal”. Tika berkata pada diri sendiri:”Syukurlah, aku belajar membuat sasaran dan membaginya jadi sasaran-sasaran yang bertahap..”.

Sore itu Tika dengan wajah sumringah menulis dengan mantap satu persatu sasaran-sasaran kehidupan yang ingin dia capai dalam waktu 5 tahun ke depan. “Oh,..ternyata untuk aku ada 6 sasaran lebih kecil yang aku harus selesaikan satu persatu sebelum menyentuh sasaran besar punya warung lesehan yaitu di sasaran yang ke 7..” Itulah yang Tika katakan kepada dirinya sendiri. ‘Untung aku tidak buru-buru mengambil kesimpulan bahwa buka usaha itu yang paling penting modal, ternyata niat, nabung dan nekad tidak cukup, harus tahu dulu ilmunya supaya bisa mengambil keputusan-keputusan yang tepat...”. Sekarang Tika makin sadar betapa pentingnya belajar entrepreneurship sebelum membuka usaha. Tika mengakhiri tulisan catatan dia di lembar 4 dengan hati yang main mantap dan bersemangat.
Suka ·  ·  · Ikuti Kirim
Catatan Tika di Kelas Dasar Mandiri Sahabatku

MINGGU 1: Tema Road Map & Anak Tangga Masa Depan

Catatan Lembar 5: Mengembangkan Upaya-Upaya untuk Tiap Sasaran

Tika memulai lembar 5 catatannya dengan merenungkan kembali apa saja yang telah ia lihat dan ia dengar di hari Minggu tgl 17 November 2013 itu. Kembali ia bergumam:”Oh..baru aku mengerti apa artinya hidup yang naik keatas dan bukan dibiarkan seperti air mengalir. Dengan membuat sasaran-sasaran dalam kehidupan aku sedang naik keatas...”. Ia juga sadar sekarang apa itu yang dimaksud dengan SMA atau Semangat Masuk Akal. Bukan sekedar semangat-semangat saja untuk mengubah masa depan tapi harus ada cara yang masuk akal untuk meraih impian walau itu bertahap. Tika berkata kepada dirinya sendiri:” Asal tekun dilakukan dan dilakukan tiap hari maka aku sedikit demi sedikit akan bergerak makin dekat dengan impian itu”.

Sekarang dia melihat dan mencoba mengisi lembar kedua yang diberikan trainer UCEC di pelatihan, disana terdapat kolom UPAYA yaitu upaya-upaya apa saja yang harus dilakukan untuk mencapai sasaran-sasaran yang ingin dicapainya.

SASARAN & UPAYA

Sasaran 7: Membuka usaha bisnis warung lesehan.

UPAYA
• Untuk saat ini sungguh-sungguh mendoakan cita-cita ini dulu setiap hari dan meminta keluarga untuk ikut mendoakan.

Sasaran 6: Mendapatkan mitra untuk membangun usaha bisnis bersama.

UPAYA
• Akan menggunakan waktu selama kerja magang untuk memperluas jejaring kenalan untuk mencari calon-calon mitra untuk membuka usaha.

Sasaran 5: Mendapatkan gambar rancangan warung lesehan yang indah, asri tapi murah.

UPAYA
• Mencari informasi apakah ada teman masa SMP, teman adik, tetangga atau keluarga yang memiliki keahlian merancang bangunan.
• Mengumpulkan gambar-gambar warung lesehan.

Sasaran 4: Magang kerja di warung lesehan di Yogyakarta sambil survey lokasi warung lesehan.

UPAYA
• Komunikasi dengan adik di Yogya untuk mencari informasi warung lesehan mana yang pantas jadi tempat magang. Minta adik mencari warung lesehan yang sudah sukses.

Sasaran 3: Menabung untuk mencapai Rp 200 juta di 5 tahun lagi.

UPAYA
• Buka tabungan di Bank Mandiri.
• Ikut program Mandiri Tabungan Rencana

Sasaran 2: Memanfaatkan waktu luang di HK untuk mengumpulkan informasi sebanyak mungkin tentang bisnis kuliner

UPAYA
• Mencari teman-teman yang memiliki cita-cita yang sama dan membentuk group FB tersendiri.
• Membaca buku-buku dan berita tentang bisnis kuliner.
• Ikut bantu teman yang bisnis kuliner di Hong Kong.

Sasaran 1: Menyelesaikan Kelas Dasar dan Kelas Lanjutan dari MS (Mandiri Sahabatku) dan setelah itu ikut PEK (Pengantar Entrepreneur Kuliner) melalui online

UPAYA
• Menyampaikan ke majikan jadwal pelatihan MS supaya dapat cuti di hari-hari tsb
• Selalu datang sebelum waktu dan tidak akan absen
• Selalu membuat catatan dan melaksnakan tugas.
• Selalu memantau kegiatan kelas di FB Mandiri Sahabatku.

“Wah ...ternyata tidak terlalu sukar juga ya menulis upaya-upaya selama sudah ada sasarannya dan disertai semangat yang besar untuk mencapai cita-cita”. Kini Tika makin mantap saja memandang lembar catatan belajarnya. “Tapi bagaimana ya kalau ada yang tak terduga bolehkah diubah...?”. Kali ini Tika teringat akan pelajaran kemarin disana dikatakan bahwa lembar Road Map dan Sasaran-Upaya itu adalah rencana pribadi setiap peserta yang bisa berbeda satu sama lain dan boleh diubah kapan saja asalkan tetap naik ke atas dan menuju sasaran besar mencapai impian kehidupan.

“Seperti pesan para trainer, aku akan fokus dulu di Sasaran 1, setelah itu Sasaran 2 demikian seterusnya, lambat tapi mantap, alon-alon asal kelakon, tidak selalu jelek. Yang penting tiap hari harus bergerak menuju cita-cita...”. Tika terus memotivasi dirinya dan di akhir lembaran ke 5 catatan belajarnya kembali ia merenung. “Ah..betul juga ya ilmu entrepreneurship itu ilmu kehidupan...”Demikian Tika berkata pada diri sendiri. “Untuk membuat kehidupan kita lebih baik dengan cara ber-inovasi..” Demikian ia mencoba menduga isi pelajaran minggu 2. Malam sudah larut Tika menutup buku catatannya, hatinya lega dan nyala semangat hidupnya makin membara rasanya. Rasanya ia ingin segera mencapai minggu 2 untuk belajar lagi namun tokh itu tetap harus ditunggu jadi Tika tentunya harus segera tidur malam ini. Malam itu Tika tidur nyenyak dengan hati lega dan membiarkan pikirannya dipenuhi oleh sasaran-sasaran yang ingin dia capai sampai terbawa mimpi sampai beberapa hari kemudian.
Suka ·  ·  · Ikuti Kiriman · 22 November pukul 5:06 di sekitar Daerah Khusus Ibukota Jakarta


Catatan Tika di Kelas Dasar Mandiri Sahabatku

MINGGU 1: Tema Road Map & Anak Tangga Masa Depan

Catatan Lembar 6: Membeli Laptop

Hari Sabtu majikan Tika libur dan ada di rumah…..jadi sangat sibuk mulai pagi sampai malam. Hari ini Tika memutuskan untuk membeli laptop dan ia minta nasehat majikan dimana sebaiknya beli laptop dan laptop seperti apa yang tepat untuknya. Tika percaya laptop akan jadi jendela dunia untuk membuka wawasan hidupnya. Ia berkata kepada dirinya sendiri:

“Hidup adalah sekumpulan keputusan-keputusan .... hidupku hari ini adalah hasil keputusan-keputusan di masa lalu dan hidupku nanti akan merupakan hasil keputusan-keputusan sekarang...”
“Informasi-informasi yg banyak dan tepat akan menolong aku membuat keputusan-keputusan yang lebih tepat...”
“Di jaman informasi ini aku tidak mau jadi orang yang ketinggalan informasi...”

Ketika ada waktu yang senggang walau sedikit. Tika mencoba mengingat-ingat lembali pelajaran yang ia terima minggu lalu. Tika kemudian melihat lagi sebuah gambar yang diperlihatkan oleh pelatih UCEC saat Kelas Dasar tgl 17 November 2013 yang lalu. Gambar itu memperlihatkan berbagai upaya yang dilakukan seseorang yang ingin maju untuk naik ke tingkat yang lebih tinggi. Apapun yang bisa dilakukan untuk maju dan ia dapat lakukan pada saat itu maka ia akan melakukannya. Misalnya untuk mencapai tingkat pertama yang ada adalah bangku-bangku untuk dinaiki sehingga bisa berada di anak tangga berikut maka sekarang manfaatkan bangku-bangku tsb. “Betul juga ya ...sekarangkan mumpung ada Mandiri Sahabatku,...aku harus manfaatkan ini untuk belajar dan cari teman sebanyak mungkin, ......aku tidak mau di kelas hanya datang untuk duduk, diam dan seyum-seyum saja, ...aku harus aktif, aku harus berani maju ke depan, aku harus cari kenalan baru....itulah bangku-bangku yang ada di depan mata saat ini” Demikian Tika berkata pada dirinya sendiri dan bertekad untuk datang esok hari ke pelatihan berikut dengan semangat yang lebih berkobar.

Gambar tsb juga menjelaskan bahwa untuk mencapai tingkat-tingkat berikutnya tidak selalu tersedia bangku-bangku itu lagi. Nah..jangan putus asa dan jangan sampai berhenti..! Carilah alat-alat dan bantuan lain. Apakah itu tangga, apakah itu galah untuk melompat, apakah itu timbunan pasir dan batu bahkan kita bisa minta bantuan teman agar pundaknya bisa kita naiki untuk mencapai tempat yang tinggi bukan?
“Hmm..memang kehidupan itu jangan dibiarkan mengalir begitu saja rupanya...Aku harus terus berusaha mendaki dan mendaki. Dibiarkan berarti mengalir ke bawah, mendaki berarti bergerak maju ke depan dan makin tinggi...”. Inilah yang menjadi kesimpulan Tika di hari Sabtu yang sibuk karena majikan ada di rumah. Ia berharap jam di hari Sabtu bisa berputar lebih cepat saja supaya esok hari Minggu bisa datang dengan segera dan ia bisa belajar lagi di Kelas Dasar MS.
MINGGU 2: Komunikasi & Kecakapan Menjual

Catatan Tika Lembar 7: Bertemu Suti di Dunia Maya

Tika baru saja menyelesaikan kelas Mandiri Sahabatku minggu yang ke 2. Pelajaran hari Minggu tadi adalah tentang Komunikasi dan Kecakapan Menjual. “Hmmm rasanya aku ngga berbakat deh....”
“Masih untung tadi berani maju ke depan bicara 1 menit...panas dingin rasanya. Itu prestasi tertinggi untuk Tika...aku payah untuk bicara depan umum..”
“Apalagi harus jualan...wah pasti payah..”
“Jualan hanya untuk yang punya bakat..”
Itu semua yang ada di kepala Tika setiba di rumah.

Sementara ia beristirahat Tika bermain-main dengan laptop
Sebuah alat baru yang menjadi kesukaannya di kala senggang.
Sekarang Tika sudah memiliki sebuah FB Account, alamat email dan sedang belajar bagaimana melakukan percakapan lewat Skype atau Google Hangout.
Sementara ia menjelajah Facebook mencari-cari teman masa lalunya
Tiba-tiba ia menemukan sebuah nama yang pernah akrab dengannya Suti Sumarni nama itu.......
“Tapi koq Suti ini jadi pengarang buku ya, apa tak salah.....? Suti Sumarni yang kukenal sama-sama hanya lulusan SMP..”Demikian Tika berkata dalam hati.
“Coba ku telusuri lagi...” Tika makin penasaran.
Rasa penasaran Tika bukannya makin menggebu karena Suti yang ia temukan berasal dari SMP yang sama sekarang adalah seorang sarjana, Direktur sebuah perusahaan training dan ya itu dia....menikah dengan seorang sarjana. “Apakah itu cerita palsu atau seseorang membajak nama Suti teman ku itu...” Rasa penasaran Tika makin melambung.

Tika terus menjelajah dunia maya mencari tahu tentang Suti dan akhirnya ia bisa menemukan alamat emailnya dari website perusahaan training itu. Dengan sedikit ragu Tika mengirimkan email, menyapa dan menanyakan kabar sambil memastikan dulu apakah itu Suti yang pernah sebangku dengannya di masa SMP, sekitar 15 tahun yang lalu. Rasa penasaran Tika perlahan mulai terjawab dengan kegembiraan bertemu kembali dengan sahabat lama. Kemudian mereka saling berjanji untuk melakukan chatting untuk mengobrol lebih intim.

Tika:”Wah..luar biasa sekali ya prestasimu itu Suti, apa betul itu gara-gara kecakapan menjual...”
Suti:”Terima kasih Tika...ya itu rahmat Ilahi...namun kalau ada bagianku maka aku bersyukur sudah belajar berkomunikasi dan menjual...”
Tika:”15 tahun terakhir kita tak saling bertemu dan kau sudah berubah banyak...kalau aku...sedikit perubahan ...12 tahun aku jadi BMI di Hong Kong..”
Suti:”Tak ada yang perlu disesali Tika...12 tahun itupun sebuah sekolah kehidupan untukmu...masih ada peluang....kau masih muda...masih bisa berjalan mendaki dengan cepat untuk mencapai cita-cita....”.
Tika:”Ada 4 perbedaan besar antara kau dan aku sekarang....kau sudah jadi penulis buku, kau sudah jadi Direktur Perusahaan, kau sudah jadi seorang Sarjana dan kau jga sudah punya keluarga...........kalau aku.?
“Padahal kita dulu sebangku dan senasib ya Suti...sama-sama tak dapat meneruskan sampai jenjang SMA atau SMK...”
Suti:”Tika...ayo jangan putus asa...Aku juga melalui sebuah perjalanan kehidupan yang tak gampang, namun bersyukur aku berhasil mengelola kehidupan untuk naik terus dari satu anak tangga ke anak tangga lain yang lebih tinggi. Aku dengan sengaja dan dengan segala daya berusaha terus membangun impian dan memperbaiki kehidupan. Mau dengar ceritaku...?
Tika:”Mau..mau...ayo cerita dong Suti..”
Suti:”Besok ya Tika kita teruska. Aku akan cerita bagaiamana anak tangga kehidupan aku berhasil bangun dan bagaimana kecakapan komunikasi dan menjual telah mengangkat aku ke tempat yang lebih tinggi....Besok ya
Minggu 2: Kecakapan Komunikasi & Menjual
Catatan Tika Lembar 8: Menjadi OG (Office Girl)

Ternyata Suti mengirimkan kisahnya melalui sebuah email kepada Tika.
“Ah..untung aku punya laptop..kalau tidak ada laptop sukar sekali pengalaman seperti ini aku miliki...”Tika berkata kepada dirinya sendiri dan kemudian dengan tak membuang waktu ia mulai membaca kisah dari Suti.
--------------------------------------------------------------

CERITA SUTI: Sesudah SMP aku selesaikan ...Sama seperti kebanyakan gadis remaja di kampung kita aku juga merantau ke Surabaya untuk jadi Pembantu Rumah Tangga. Aku bekerja di keluarga pak Budi. Mereka memiliki seorang anak perempuan semata wayang, Diana namanya. Ia pas berusia 9 tahun atau kelas 3 SD ketika aku mulai bekerja. Pak Budi bekerja di sebuah perusahaan distribusi barang elektronik dan jabatan pak Budi saat itu adalah Sales Manager atau Manajer Penjualan. Dalam 3 bulan pertama aku masuk kerja aku sudah bisa menemukan bahwa Diana mendapat kesulitan belajar. Ibu Budi sering uring-uringan melihat hasi ulangan Diana. Demikian juga Diana setiap kali akan ulangan jadi gelisah, stress katanya. Sekolah kita dulu memang di kecamatan bukan di Surabaya tapi sekolah kita dulu kan termasuk sekolah yang bagus lagi pula aku kan lulusan SMP masa soal-soal kelas 3 tidak bisa? Jadi aku menawarkan diri kepada ibu Budi untuk setiap sore membantu Diana belajar. Nah ..itulah mula peristiwa aku menjadi dekat dengan keluarga pak Budi. Pekerjaanku yang resmi adalah pembantu rumah tangga tapi aku menawarkan diri untuk sekaligus jadi guru les yang tak resmi. .....
---------------------------------------------------------------

“Koq ceritanya mirip dengan pelajaran Minggu 1 di Kelas Dasar ya..” Tika berkata pada diri sendiri sambil mengingat-ingat pelajaran yang pertama. Pelatih UCEC mengajarkan ada 3 macam karyawan yaitu yang PASIF, AKTIF dan PRO-AKTIF. Pro-aktif artinya jemput bola, tidak tunggu diperintah, kalau ada masalah yang bisa diselesaikan berani menawarkan diri untuk kerja ekstra. “Hmmm... rupanya Suti adalah orang yang seperti ini di pekerjaannya..” Tika kemudian kembali teringat dulu masa SMP, Suti memang orang yang suka menolong. Ia tidak hitung-hitungan, gembira kalau bisa membantu sesama. “Ah...aku ingin tahu selanjutnya nih” Kemudia kembali Tika membaca email dari Suti.

-----------------------------------------------------------------

CERITA SUTI: Selama 3 tahun aku menemani Diana belajar. Ia tidak bodoh hanya perlu kesabaran dalam membimbingnya. Setiap kali awal tahun ajaran aku ikut memeriksa dan membaca buku-buku pelajarannya supaya waktu mengajar lancar menjelaskan. Setelah 3 bulan aku mengajar Diana gajiku dinaikkan..nah seja itu aku bisa menabung. 3 tahun aku menemani Diana untuk belajar sampai akhirnya dia lulus dari SD. Ketika Diana akan masuk SMP aku minta ijin ke pak Budi agar aku bisa ikut Kejar Paket C, alasanku supaya aku bisa menemani Diana belajar selama SMP. Tika tahukah kami bagaimana jawaban bpk dan ibu Budi......? Semua langsung setuju apalagi Diana sangat mendukung...dia nyaman belajar bersama dengan aku, Dia kan anak tunggal...sedangkan ayah dan ibu dua-dua bekerja. Kalau les di luar ...ibu Budi banyak kecemasannya. Dia takut anak semata wayangnya ada apa-apa di jalan.

----------------------------------------------------------------

Kembali Tika teringat pelajaran Minggu pertama, apa yang dikatakan mbah Einstein itu. Katanya “orang gila adalah orang yang melakukan hal yang sama berulang-ulang tapi mengharapkan hasil yang berbeda”. Suti adalah contoh orang waras, dia melakukan hal yang berbeda yaitu membantu anak majikan secara jemput bola (pro-aktif) setelah itu dia dapatkan hasil yang berbeda yaitu didukung untuk bisa ikut Kejar Paket C untuk dapatkan ijazah SMA.
“Benar-benar hebat si Suti ini...dia tidak pernah belajar tentang ilmu membangun Anak Tangga untuk naik ke atas itu....tapi diam-diam sudah memulai sejak 15 tahun yang lalu”. Sekarang Tika makin kagum kepada Suti.
“Sekarang aku sudah belajar bagaimana membangun anak tangga itu...wah sungguh kelewatan kalau sudah belajar tapi tidak melaksanakan..” Tika kemudian melanjutkan membaca email dari Suti.
-----------------------------------------------------------------
CERITA SUTI: Selama 2 tahun aku mengikuti program Kejar Paket C akhirnya aku bisa memperoleh ijazah SMA dan dengan berjalannya waktu Diana juga makin dewasa dan makin mandiri, Ia lalu lebih banyak belajar bersama teman dari pada dengan aku. Suatu hari tidak lama setelah aku berhasil mendapat ijazah SMA bpk dan ibu Budi memanggil aku. Mereka mengatakan sangat berterima kasih bahwa dalam 5 tahun terakhir aku berhasi mendampingi Diana sehingga sekarang bisa lebih lancar sekolah di SMP dan bisa belajar mandiri. Mereka mengatakan bahwa pak Budi baru mendapat kenaikan pangkat di pekerjaannya. Mulai bulan depan ia akan jadi General Manager (Manajer Umum) dari Training Center (Pusat Pelatihan) di perusahaan tempat kerjanya. Pengalaman pak Budi dalam bidang penjualan sangat banyak sehingga ia sekarang mendapat tugas untuk membangun pelatihan untuk tenaga penjualan yang masih muda. Nah..di posisi baru ini ada lowongan pekerjaan Office Girl (pelayan kantor perempuan) mereka menawarkan apakah aku mau jadi OG membantu pak Budi di kantor. Syaratnya,...aku harus membantu mereka mendapatkan pengganti aku bekerja di keluarga pak Budi. Tentu saja tawaran ini aku sambut............. Pekerjaanku di kantor pak Budi adalah mempersiapkan ruang pelatihan dan membereskan ruangan usai pelatihan di lakukan. Selain itu aku harus mempersiapkan makanan dan minuman untuk para peserta pelatihan yang rutin dilakukan di tempat tsb. Tugas mengfoto-copy pelatihan juga ada di tanganku. Aku senang sekali melakukan tugas itu....kalau aku membereskan ruangan pelatihan aku sering membaca dan merenungkan apa-apa yang ditulis di papan white board...ingin rasanya ikut belajar di dalam kelas. Aku juga jadi sering membaca bahan pelatihan sewaktu aku meng foto-copy bahan-bahan tsb.

Nah...setelah sekitar 1 tahun aku bekerja sebagai OG tiba-tiba aku aku “tertangkap basah” oleh pak Budi. Ya...aku tertangkap basah sedang membaca-baca materi pelatihan yang sedang aku foto copy di ruang foto copy. Aku kaget dan sungguh gemetar ketika aku asyik membaca tiba-tiba pak Budi masuk ke ruang foto-copy dan kemudian aku dipanggil menghadap beliau. Sampai hampir menangis aku menjelaskan bahwa aku tidak sedang mencuri waktu tapi aku ini haus ilmu, aku ingin belajar jadi bahan-bahan pelajaran sering aku baca. Syukur kepada TUHAN karena pak Budi orangnya memang baik budi dan penuh perhatian. Dia mengatakan:”Suti semangat belajarmu sangat luar biasa, mulai besok kamu boleh menunggu di dalam ruang pelatihan dan duduk di bangku kosong bagian belakang. Kamu boleh ikut mendengarkan tapi kalau ada permintaan dari pelatih atau peserta kamu harus sigap melayani. Walau kamu boleh ikut belajar namun pekerjaan-pekerjaan kamu harus tetap selesai..., kalau sampai tak beres kamu tidak boleh ikut belajar lagi......”. Aku tentu tidak perlu berpikir lama-lama, langsung ku jawab:”Siap-siap pak Budi, semua pasti beres, terima kasih sudah ijinkan aku ikut belajar...”

--------------------------------------------------------------

Tika membaca email Suti sambil berpikir keras: “Suti ini orang yang beruntung atau orang yang sukses karena selalu terus berusaha untuk maju.....?
“Mana dulu ya...beruntung dulu atau selalu berusaha untuk maju dulu...?”
“Ah pusing juga ya...kalau sudah berusaha maju tapi tak beruntung bagaimana?”
“Tapi kalau hanya menunggu juga bagaimana ya....jangan-jangan pas keberuntungan tiba kita nya yang tak siap..?’
Tika rupanya pusing juga memikirkan hal ini sehingga memutuskan untuk ber sms dengan teman-temannya yg belajar di Mandiri Sahabatku dan bertanya: Manakah yang lebih penting, Keberuntungan atau Kemampuan (Kesiapan)? “

Ayo teman-teman bantu Tika...bagaimana pendapat teman-teman mana yang lebih penting KEBERUNTUNGAN atau KESIAPAN (KEMAMPUAN)..?

(bersambung)
Minggu 2: Kecakapan Komunikasi & Menjual
Catatan Tika Lembar 8: Menjadi OG (Office Girl)

Ternyata Suti mengirimkan kisahnya melalui sebuah email kepada Tika.
“Ah..untung aku punya laptop..kalau tidak ada laptop sukar sekali pengalaman seperti ini aku miliki...”Tika berkata kepada dirinya sendiri dan kemudian dengan tak membuang waktu ia mulai membaca kisah dari Suti.
--------------------------------------------------------------

CERITA SUTI: Sesudah SMP aku selesaikan ...Sama seperti kebanyakan gadis remaja di kampung kita aku juga merantau ke Surabaya untuk jadi Pembantu Rumah Tangga. Aku bekerja di keluarga pak Budi. Mereka memiliki seorang anak perempuan semata wayang, Diana namanya. Ia pas berusia 9 tahun atau kelas 3 SD ketika aku mulai bekerja. Pak Budi bekerja di sebuah perusahaan distribusi barang elektronik dan jabatan pak Budi saat itu adalah Sales Manager atau Manajer Penjualan. Dalam 3 bulan pertama aku masuk kerja aku sudah bisa menemukan bahwa Diana mendapat kesulitan belajar. Ibu Budi sering uring-uringan melihat hasi ulangan Diana. Demikian juga Diana setiap kali akan ulangan jadi gelisah, stress katanya. Sekolah kita dulu memang di kecamatan bukan di Surabaya tapi sekolah kita dulu kan termasuk sekolah yang bagus lagi pula aku kan lulusan SMP masa soal-soal kelas 3 tidak bisa? Jadi aku menawarkan diri kepada ibu Budi untuk setiap sore membantu Diana belajar. Nah ..itulah mula peristiwa aku menjadi dekat dengan keluarga pak Budi. Pekerjaanku yang resmi adalah pembantu rumah tangga tapi aku menawarkan diri untuk sekaligus jadi guru les yang tak resmi. .....
---------------------------------------------------------------

“Koq ceritanya mirip dengan pelajaran Minggu 1 di Kelas Dasar ya..” Tika berkata pada diri sendiri sambil mengingat-ingat pelajaran yang pertama. Pelatih UCEC mengajarkan ada 3 macam karyawan yaitu yang PASIF, AKTIF dan PRO-AKTIF. Pro-aktif artinya jemput bola, tidak tunggu diperintah, kalau ada masalah yang bisa diselesaikan berani menawarkan diri untuk kerja ekstra. “Hmmm... rupanya Suti adalah orang yang seperti ini di pekerjaannya..” Tika kemudian kembali teringat dulu masa SMP, Suti memang orang yang suka menolong. Ia tidak hitung-hitungan, gembira kalau bisa membantu sesama.  “Ah...aku ingin tahu selanjutnya nih” Kemudia kembali Tika membaca email dari Suti.

-----------------------------------------------------------------

CERITA SUTI: Selama 3 tahun aku menemani Diana belajar. Ia tidak bodoh hanya perlu kesabaran dalam membimbingnya. Setiap kali awal tahun ajaran aku ikut memeriksa dan membaca buku-buku pelajarannya supaya waktu mengajar lancar menjelaskan. Setelah 3 bulan aku mengajar Diana gajiku dinaikkan..nah seja itu aku bisa menabung. 3 tahun aku menemani Diana untuk belajar sampai akhirnya dia lulus dari SD. Ketika Diana akan masuk SMP aku minta ijin ke pak Budi agar aku bisa ikut Kejar Paket C, alasanku supaya aku bisa menemani Diana belajar selama SMP. Tika tahukah kami bagaimana jawaban bpk dan ibu Budi......? Semua langsung setuju apalagi Diana sangat mendukung...dia nyaman belajar bersama dengan aku, Dia kan anak tunggal...sedangkan ayah dan ibu dua-dua bekerja. Kalau les di luar ...ibu Budi banyak kecemasannya. Dia takut anak semata wayangnya ada apa-apa di jalan.

----------------------------------------------------------------   

Kembali Tika teringat pelajaran Minggu pertama, apa yang dikatakan mbah Einstein itu. Katanya “orang gila adalah orang yang melakukan hal yang sama berulang-ulang tapi mengharapkan hasil yang berbeda”. Suti adalah contoh orang waras, dia melakukan hal yang berbeda yaitu membantu anak majikan secara jemput bola (pro-aktif) setelah itu dia dapatkan hasil yang berbeda yaitu didukung untuk bisa ikut Kejar Paket C untuk dapatkan ijazah SMA. 
“Benar-benar hebat si Suti ini...dia tidak pernah belajar tentang ilmu membangun Anak Tangga untuk naik ke atas itu....tapi diam-diam sudah memulai sejak 15 tahun yang lalu”. Sekarang Tika makin kagum kepada Suti. 
“Sekarang aku sudah belajar bagaimana membangun anak tangga itu...wah sungguh kelewatan kalau sudah belajar tapi tidak melaksanakan..” Tika kemudian melanjutkan membaca email dari Suti.
----------------------------------------------------------------- 
CERITA SUTI: Selama 2 tahun aku mengikuti program Kejar Paket C akhirnya aku bisa memperoleh ijazah SMA dan dengan berjalannya waktu Diana juga makin dewasa dan makin mandiri, Ia lalu lebih banyak belajar bersama teman dari pada dengan aku. Suatu hari tidak lama setelah aku berhasil mendapat ijazah SMA bpk dan ibu Budi memanggil aku. Mereka mengatakan sangat berterima kasih bahwa dalam 5 tahun terakhir aku berhasi mendampingi Diana sehingga sekarang bisa lebih lancar sekolah di SMP dan bisa belajar mandiri. Mereka mengatakan bahwa pak Budi baru mendapat kenaikan pangkat di pekerjaannya. Mulai bulan depan ia akan jadi General Manager (Manajer Umum) dari Training Center (Pusat Pelatihan) di perusahaan tempat kerjanya.  Pengalaman pak Budi dalam bidang penjualan sangat banyak sehingga ia sekarang mendapat tugas untuk membangun pelatihan untuk tenaga penjualan yang masih muda. Nah..di posisi baru ini ada lowongan pekerjaan Office Girl (pelayan kantor perempuan) mereka menawarkan apakah aku mau jadi OG membantu pak Budi di kantor. Syaratnya,...aku harus membantu mereka mendapatkan pengganti aku bekerja di keluarga pak Budi. Tentu saja tawaran ini aku sambut............. Pekerjaanku di kantor pak Budi adalah mempersiapkan ruang pelatihan dan membereskan ruangan usai pelatihan di lakukan. Selain itu aku harus mempersiapkan makanan dan minuman untuk para peserta pelatihan yang rutin dilakukan di tempat tsb. Tugas mengfoto-copy pelatihan juga ada di tanganku. Aku senang sekali melakukan tugas itu....kalau aku membereskan ruangan pelatihan aku sering membaca dan merenungkan apa-apa yang ditulis di papan white board...ingin rasanya ikut belajar di dalam kelas. Aku juga jadi sering membaca bahan pelatihan sewaktu aku meng foto-copy bahan-bahan tsb. 

Nah...setelah sekitar 1 tahun aku bekerja sebagai OG tiba-tiba aku aku “tertangkap basah” oleh pak Budi. Ya...aku tertangkap basah sedang membaca-baca materi pelatihan yang sedang aku foto copy di ruang foto copy. Aku kaget dan sungguh gemetar ketika aku  asyik membaca tiba-tiba pak Budi masuk ke ruang foto-copy dan kemudian aku dipanggil menghadap beliau. Sampai hampir menangis aku menjelaskan bahwa aku tidak sedang mencuri waktu tapi aku ini haus ilmu, aku ingin belajar jadi bahan-bahan pelajaran sering aku baca. Syukur kepada TUHAN karena pak Budi orangnya memang baik budi dan penuh perhatian. Dia mengatakan:”Suti semangat belajarmu sangat luar biasa, mulai besok kamu boleh menunggu di dalam ruang pelatihan dan duduk di bangku kosong bagian belakang. Kamu boleh ikut mendengarkan tapi kalau ada permintaan dari pelatih atau peserta kamu harus sigap melayani. Walau kamu boleh ikut belajar namun pekerjaan-pekerjaan kamu harus tetap selesai..., kalau sampai tak beres kamu tidak boleh ikut belajar lagi......”. Aku tentu tidak perlu berpikir lama-lama, langsung ku jawab:”Siap-siap pak Budi, semua pasti beres, terima kasih sudah ijinkan aku ikut belajar...”
 
-------------------------------------------------------------- 

Tika membaca email Suti sambil berpikir keras: “Suti ini orang yang beruntung atau orang yang sukses karena selalu terus berusaha untuk maju.....?
“Mana dulu ya...beruntung dulu atau selalu berusaha untuk maju dulu...?”
“Ah pusing juga ya...kalau sudah berusaha maju tapi tak beruntung bagaimana?”
“Tapi kalau hanya menunggu juga bagaimana ya....jangan-jangan pas keberuntungan tiba kita nya yang tak siap..?’
Tika rupanya pusing juga memikirkan hal ini sehingga memutuskan untuk ber sms dengan teman-temannya yg belajar di Mandiri Sahabatku dan bertanya: Manakah yang lebih penting, Keberuntungan atau Kemampuan (Kesiapan)? “

Ayo teman-teman bantu Tika...bagaimana pendapat teman-teman mana yang lebih penting KEBERUNTUNGAN atau KESIAPAN (KEMAMPUAN)..?

(bersambung)
Minggu 2: Kecakapan Komunikasi & Kecakapan Menjual

Lembar Catatan Tika Lembar 9: Belajar Berbicara di Depan Umum

Tika masih terus merasa penasaran dengan apa yang dicapai oleh Suti. Kemudian ia mengajak Suti melakukan chatting. Ia ingin mendengar kisah selanjutnya bagaimana Suti bisa jadi Sarjana dan juga jadi Direktur
“...Ah apa mungkin sih...” Itu yang ada di kepala Tika. Malam itu ketika semua sudah mulai isirahat Tika membuat janji untuk chatting dengan Suti.
------------------------------------------------------------

“Ini pasti ada anak tangga berikutnya yang kamu bangun Suti...” Itu yang pertanyaan pertama Tika.
“Anak tangga apa....? Emangnya aku tukang listrik ya...ha...ha”. Suti menyahut sambil tertawa.
“Wuah..aku lupa...menjelaskan. Itu pelajaran yang aku terima bahwa hidup kita bila ingin maju harus membuat anak-anak tangga menuju ke masa depan..” Tika dengan mantap menjawab
“Hmmm. ...betul juga ya...aku ternyata secara tak sengaja membuat anak tangga anak tangga dalam kehidupan ku. Nah anak tangga berikutnya adalah anak tangga masuk ke dunia penjualan...begini ceritanya....”. Suti berhenti sejenak sementara itu Tika makin semangat untuk membaca chatting dari Suti.

“Sekitar 3 tahun aku membantu pak Budi jadi OG di ruang pelatihan. Ternyata topik pelatihan pak Budi kebanyakan berkisar tentang Komunikasi dan Kecakapan Menjual. Coba kamu bayangkan Tika...bertahun-tahun mendengar topik-topik yang sama lama-lama hafal kan. Nah ..setelah hafal aku tertantang melakukannya....He..he..he yang ini aku agak malu ceritanya...jadi sebelum pelatihan itu dimulai aku pastikan 30 menit sebelumnya sudah beres lalu aku latihan berbica di depan umum...aku pakai tuh tip-tip bicara di depan umum di depan bangku-bangku kosong...Ha..ha..ha geli aku mengingat itu kembali. Aku belajar berbicara dengan menatap ke depan, menggerakkan anggota tubuh dan juga mengatur intonasi...begitu akan lakukan hampir setiap hari.....nah apa yang terjadi seterusnya...ternyata aku merasa makin lancar berkomunikasi, makin berani berbicara di depan orang baru dan orang banyak....”. Suti diam sejenak tampaknya sedang berpikir.
“Seru...seru...ayo terus..”. Sekarang Tika memberi semangat lagi.

“Seterusnya ...ini sebuah cerita lucu tapi hebat akibatnya....suatu kali ada seorang pelatih dari luar kota yang tidak kenal aku. Dia melihat aku sedang membereskan kertas foto copy untuk dibagikan ke peserta dan dia pikir aku ini asisten pelatih kali...ha ha..Pada saat dia akan mulai melatih dia minta aku maju ke depan untuk mengumumkan dimana lokasi WC, dimana tempat makan siang dan mushola kepada para peserta. Deg........jantung rasanya berhenti...tapi aku tak bisa menghindar jadi ya maju saja ke depan lalu menyampaikan pengumuman itu. Waduh...syukur aku sering berlatih...aku berhasil bicara di depan umum untuk pertama kali dengan cukup lancar. Rupanya cara aku berbicara membuat dia puas...eh tiba-tiba di tengah pelatihan dia minta aku maju lagi memperagakan sebuah teknik berbicara di depan umum. Untungnya...aku sudah sering latihan...jadi aku pede saja maju ke depan.....eh....tak dinyana....saat aku di depan itu pak Budi masuk ke kelas...dia tampak kaget namun aku tahu ada seyum kecil tersungging di bibirnya dia bangga...” Demikian Suti menggambarkan perjalanan hidupnya yang penuh warna. Warna-warna yang ia lukis sendiri dan tidak bergantung pada orang lain.

“Suti hidupmu penuh dinamika karena kamu aktif dan pro-aktif ya....kamu selalu memperbaharui hidupmu ... kamu bak seorang pelukis bagi hidupmu sendiri...yang melukis diatas kanvas kehidupan sendiri dan membuatnya lebih indah dari hari ke hari......aku sungguh terinspirasi...ayo..ayo teruskan ceritanya..” Tika makin tak sabar”.
“Sejak hari itu...pak Budi memberikan aku tugas-tugas baru...aku dimintanya ikut mengatur pendaftaran peserta, ini membuat aku punya banyak kawan, aku makin kenal peserta-peserta yang sering datang dari luar kota bahkan dari luar pulau. Aku juga diminta menjadi staff yang menyampaikan pengumuman-pengumuman kepada peserta dan kalau ada peragaan atau simulasi aku yang sering diminta memberi contoh pada para peserta. Aku tahu sih...pak Budi ini sedang memberi semangat kepada para peserta ...walau aku OG tapi bisa bicara di depan umum dengan lancar.....Inilah kisahku yang membuat aku jadi orang yang lancar berkomunikasi dan punya lebih banyak teman. Namun........bola terus bergulir... ... seperti yang kau Tika katakan tentang anak tangga itu maka aku menemukan bahwa bila kita berhasil membangun satu anak tangga maka kita terus tertantang untuk membangun lagi diatasnya.........dan ada saja yang terjadi dalam kehidupan ini...yaitu ketika TUHAN membuka pintu-pintu peluang yang baru...pada saat kita sudah berdiri di atas anak tangga yang lebih tinggi. Sebuah peluang yang hanya dapat kita lihat di tempat yang lebih tinggi yaitu diatas anak tangga yang telah kita bangun....Ceritaku selanjutnya adalah tentang bagaimana aku bisa mengusai kecakapan menjual...masih mau dengarkan...?
“Mau...mau..mau sekali ayo..ayo Suti cerita lagi..”.Demikian Tika membalas dengan cepat.
“Tapi jangan sekarang ya...tanganku sudah pegel nih...tuh..suami juga sudah menunggu untuk mengajak nonton TV bersama. Besok ya...nanti kita chatting atau aku email atau kita Skype ya...”. Suti mengakhiri percakapan malam ini dengan menciptakan rasa penasaran yang makin besar di dalam diri Tika.

-----------------------------------------------------------------
Malam itu menjadi malam penuh perenungan untuk Tika, perbincangan dengan Suti bukan saja menginspirasi tapi sesungguhnya telah mengguncang hati dan pikiran dia.
“Apakah artinya aku 12 tahun di Hong Kong ini?”.
“Apakah ini hanya kumpulan hari, bulan dan tahun dengan pengalaman kehidupan yang hampir sama sajakah...?”
“Untung di usia yang belum lanjut...sebelum aku masuk ke JAMAN NGGA BISA seperti para pelatih UCEC sampaikan ...aku berkesempatan belajar di Mandiri sahabatku dan berbincang dengan Suti...itu semua telah membuat aku membuat keputusan baru untuk hidupku. Masa depanku tidak boleh sama lagi. Aku harus perjuangkan semua anak tangga dan upaya-upaya yang sudah aku tulis. Aku harus berani berjerih, berjuang dan jika perlu menderita demi masa depan yang lebih baik...”.

Tika kemudian mengingat tugas-tugas yang diberikan para pelatih di Minggu 2 yaitu untuk berlatih untuk berkomunikasi dan berjualan. Tika memutuskan untuk melakukan itu dengan sepenuh hati. Kalau Suti saja berlatih bicara di depan umum di depan bangku-bangku kosong maka dia juga mau berlatih apakah itu di kamar, di taman atau dimana saja yang memungkinkan. Tika juga berjanji setiap hari akan berbicara dengan minimum dengan satu orang untuk mengajak mereka ikut Mandiri Sahabatku.
“Aku harus terus latihan...menambah teman, melancarkan komunikasi dan sanggup menjual..”Itu yang dikatakan pada dirinya sendiri sambil berharap esok malam bisa datang lebih segera supaya bisa bercakap dengan Suti lagi.

(bersambung)
Minggu 2: Kecakapan Komunikasi & Kecakapan Menjual

Lembar Catatan Lembar 10: Menjadi Penjual Yang Piawai

Kali ini Tika dan Suti berbicara lewat Skype dan karena ceritanya bakal seru maka Tika minta ijin agar group belajarnya yang terdiri dari Ati, Bunda dan Cikal juga ikut mendengar.

------------------------------------------------------------
“Halo..semua sekarang aku mau cerita bagaimana aku akhirnya bisa mengusai kecakapan menjual...kalau dipikir-pikir memang terasa berat pada awalnya ...tapi percayalah kalau sudah dikerjakan lama-lama terbiasa..” Begitulah Suti memulai percakapan lewat Skype.
“Aku suka merasa malu...” Ati menyambut
“Kalau aku rasanya canggung...” Bunda menambah
“Aku...sih sudah agak bisa...betul kata mba Suti yang susah itu hanya awalnya saja...” Cikal yang sudah lebih berpengalaman memberikan semangat.
“Yuk...sekarang kita dengar cerita mba Suti...aku sudah tidak sabar nih”. Sekarang Tika yang berbica dan meminta Suti segera memulai.

“Teman-teman...aku menjalani pekerjaan sebagai OG dan juga asisten kecil-kecilan di tempat pelatihan perusahaan pak Budi selama 3 tahun. Begitu sering ikut menyaksikan latihan...sampai aku banyak hafal rumus-rumus ilmu menjual yang diajarkan misalnya itu lho....PETASAN atau Kalimat Pertama Yang Mengesankan lalu PIKAT atau Perhatian, Keinginan, Keputusan & Tindakan lalu PAKEM atau Penggunaan, Keunggulan dan Manfaat. Untuk PAKEM ini mungkin kalian belajar dengan menggunakan kata FAB atau Feature Advantage dan Benefit....karena aku susah menyebut bahasa Inggrisnya aku pakai saja PAKEM kan sama artinya. Dan untuk menjaga pelanggan tetap setia aku belajar yang namanya PESANAN atau Pelayanan Diatas Harapan Pelanggan....Yah itu yang berkali-kali aku dengar dan aku coba lakukan sedikit-demi sedikit. Masa sudah hafal tidak dilakukan sih...Nah...tak disangka sebuah kejadian tak terduga terjadi. Sebuah peluang kecil memanfaatkan hasil pelatihan menjual tiba-tiba terbuka...aku sungguh tak menduga namun peristiwa itu sungguh mengubah masa depanku.....”

“Opps apa yang terjadi...mba Suti”. Ati, Bunda, Cikal dan Tika seakan berbareng berbicara dengan rasa ingin tahu yang membesar.
“Ha..ha...ha penasaran kan....”. Suti tertawa sambil mengerlingkan matanya.
“Tapi...sebelum aku lanjut ... aku mau test sedikit nih kepada kawan-kawan..apa betul-betul belajar tentang FAB (Features, Advantages & Benefits) hari minggu lalu. Kalau aku sih mengingatnya PAKEM. Penggunaan kan sama dengan fitur juga, lalu advantages adalah keunggulan dan benefits itu manfaat...sekarang aku berikan contoh dan kawan-kawan coba sebut mana yang jadi Feature atau Penggunaan, mana yang Advantage atau Keunggulan dan mana yang Benefit atau Manfaat....Kalimat nya adalah ..sepeda motor ini menggunakan mesin buatan Jepang sehingga dipertanggung jawabkan garansi ketahanannya yang tentunya pada akhirnya akan menghemat uang dan waktu anda…..Sekarang mana F nya, mana A nya dan mana B nya.
“Mesin buatan Jepang itu fitur atau penggunaan…”Ati cepat menjawab
“Dapat dipertanggung jawabkan garansi ketahanan..itu adalah advantage atau keunggulan…”Bulan langsung menyambar.
“Ya..aku paling gampang sekarang…karena menghemat uang dan waktu itu jadi benefit atau keuntungan..”Demikian yang dikatakan Cikal.
“Bagus..bagus…begitu dong teman-teman..menjual itu ternyata ada tekniknya dan kalau kita kuasai tekniknya akan lebih mudah untuk kita dan lebih meyakinkan untuk pelanggan...aku juga belajar teknik-teknik itu supaya waktu bicara tidak hanya menceritakan daftar fitur padahal pelanggan membeli karena punya manfaat terhadap mereka..”. Suti menjelaskan dengan semangat kemudian melanjutkan lagi.

“Nah setelah 3 tahun aku berada di bagian pelatihan suatu hari menjelang 17 Agustus perusahaan melakukan lomba menjual di kalangan karyawan. Siapa saja boleh ikut lomba ini asalkan bukan karyawan penjualan. Kalau karyawan penjualan kan kerja nya jualan jadi tak perlu lagi ikut lomba, kalau mereka ikut lomba kita semua kalah oleh dia. Masa lomba itu selama 1 bulan dan ada hadiah uang untuk pemenangnya. Untuk aku..... ini seperti pucuk dicinta ulam tiba... .. inilah medan perang untuk membuktikan bahwa aku adalah tentara yang sudah terlatih...Dalam satu bulan itu aku sungguh-sungguh mengerjakan tantangan ini. Aku manfaatkan waktu luang sebaik mungkin, aku memanfaatkan semua kenalan dan jaringan yang aku tahu, aku gunakan ilmu-ilmu yang aku pelajari untuk menjual peralatan elektronik yang memang jadi produk jualan perusahaan tempat ku bekerja.......targetku jelas jual sebanyak mungkin dan menjadi pemenang.., tahukah kalian apa yang terjadi...?”

“Kamu menangkan....?” Tika langsung menduga.
“Tidak hanya itu...”. Suti langsung menjawab.
“Apa lagi......???” Ati, Bunda dan Cikal berbareng bertanya.
“Aku menang jadi juara 1, aku dapat hadiah uang dan aku dipromosikan dari OCG di bagian pelatihan karyawan menjadi seorang tenaga penjual. Aku punya jabatan baru namanya Sales Associate, aku punya seragam baru, meja kerja sendiri, diberi HP dan laptop dan tentunya gaji yang baru.... ... luar biasa kan? Itu semua hanya gara-gara aku dianggap pandai menjual...”.

“Hebaaat... Suti..aku makin sadar bahwa segala sesuatu yang engkau telah capai sekarang merupakan perjuangan secara bertahap..dan kau selalu berusaha maju terus..., aku sungguh belajar darimu..”Tika langsung berkomentar.
“Tika..terima kasih....namun kita harus selalu ingat bahwa setiap peluang baru adalah pintu yang lebih lebar untuk sesuatu yang lebih besar lagi. Kemenangan itu bukan akhir...itu awal untuk perubahan lebih besar lagi karena melalui uang hadiah itu aku bisa membayar uang masuk untuk kuliah S1...aku mengambil kuliah jurusan bisnis di sebuah Perguruan Tinggi yang membuka kelas sore dan akhir pekan. Tidak gampang bagiku mengatur waktu kerja dan belajar sekarang...namun kita semua harus ingat bahwa yang indah di masa depan harus dibayar dengan keberanian berkorban di masa sekarang...”

Ati, Bunda, Cikal dan Tika hanya bisa mengangguk-angguk dengan kagum. Mereka ingin sekali belajar dari keberhasilan Suti.
“Suti..sungguh menginspirasi ya...akhirnya kau bisa kuliah juga..aku ingin belajar resep-resep keberhasilanmu dalam menjual. Kebetulan sedang ada tugas menjual nih di kelas Mandiri Sahabatku...” Sekarang Ati yang gemar belajar memohon sesuatu kepada Suti.
“Pasti..pasti nanti aku ceritakan...” Suti langsung menjawab.
“ Eh ..omong-omong mba Suti berapa lama sih jadi tenaga penjual...koq sekarang katanya sudah Direktur, bagaimana caranya ya..? Bunda yang penuh ambisi juga ingin tahu.
“Sabar-sabar teman-teman...sekarang kan sudah malam...kita berpisah dulu besok kita teruskan ya....kasihan suami tuh dia sedang menunggu untuk ngobrol menjelang tidur. ......kita sambung besok ya..”Demikian Suti mengakhiri percakapan malam itu.

(bersambung)
Minggu 2: Kecakapan Komunikasi & Kecakapan Menjual

Lembar Catatan Lembar 10: Menjadi Penjual Yang Piawai 

Kali ini Tika dan Suti berbicara lewat Skype dan karena ceritanya bakal seru maka Tika minta ijin agar group belajarnya yang terdiri dari Ati, Bunda dan Cikal  juga ikut mendengar.

------------------------------------------------------------  
“Halo..semua sekarang aku mau cerita bagaimana aku akhirnya bisa mengusai kecakapan menjual...kalau dipikir-pikir memang terasa berat pada awalnya ...tapi percayalah kalau sudah dikerjakan lama-lama terbiasa..” Begitulah Suti memulai percakapan lewat Skype.
“Aku suka merasa malu...” Ati menyambut
“Kalau aku rasanya canggung...” Bunda menambah
“Aku...sih sudah agak bisa...betul kata mba Suti yang susah itu hanya awalnya saja...” Cikal yang sudah lebih berpengalaman memberikan semangat.
“Yuk...sekarang kita dengar cerita mba Suti...aku sudah tidak sabar nih”. Sekarang Tika yang berbica dan meminta Suti segera memulai.

“Teman-teman...aku menjalani pekerjaan sebagai OG dan juga asisten kecil-kecilan di tempat pelatihan perusahaan pak Budi selama 3 tahun. Begitu sering ikut menyaksikan latihan...sampai aku banyak hafal rumus-rumus ilmu menjual yang diajarkan misalnya itu lho....PETASAN atau Kalimat Pertama Yang Mengesankan lalu PIKAT atau Perhatian, Keinginan, Keputusan & Tindakan lalu PAKEM atau Penggunaan, Keunggulan dan Manfaat. Untuk PAKEM ini mungkin kalian belajar dengan menggunakan kata FAB atau Feature Advantage dan Benefit....karena aku susah menyebut bahasa Inggrisnya aku pakai saja PAKEM kan sama artinya. Dan untuk menjaga pelanggan tetap setia aku belajar yang namanya PESANAN atau Pelayanan Diatas Harapan Pelanggan....Yah itu yang berkali-kali aku dengar dan aku coba lakukan sedikit-demi sedikit. Masa sudah hafal tidak dilakukan sih...Nah...tak disangka sebuah kejadian tak terduga terjadi. Sebuah peluang kecil memanfaatkan hasil pelatihan menjual tiba-tiba terbuka...aku sungguh tak menduga namun peristiwa itu sungguh mengubah masa depanku.....”

“Opps apa  yang terjadi...mba Suti”. Ati, Bunda, Cikal dan Tika seakan berbareng berbicara dengan rasa ingin tahu yang membesar.
 “Ha..ha...ha penasaran kan....”. Suti tertawa sambil mengerlingkan matanya.
“Tapi...sebelum aku lanjut ... aku mau test sedikit nih kepada kawan-kawan..apa betul-betul belajar tentang FAB (Features, Advantages & Benefits) hari minggu lalu. Kalau aku sih mengingatnya PAKEM. Penggunaan kan sama dengan fitur juga, lalu advantages adalah keunggulan dan benefits itu manfaat...sekarang aku berikan contoh dan kawan-kawan coba sebut mana yang jadi Feature atau Penggunaan, mana yang Advantage atau Keunggulan dan mana yang Benefit atau Manfaat....Kalimat nya adalah ..sepeda motor ini menggunakan mesin buatan Jepang sehingga dipertanggung jawabkan garansi ketahanannya yang tentunya pada akhirnya akan menghemat uang dan waktu anda…..Sekarang mana F nya, mana A nya dan mana B nya.
“Mesin buatan Jepang itu fitur atau penggunaan…”Ati cepat menjawab
“Dapat dipertanggung jawabkan garansi ketahanan..itu adalah advantage atau keunggulan…”Bulan langsung menyambar.
“Ya..aku paling gampang sekarang…karena menghemat uang dan waktu itu jadi benefit atau keuntungan..”Demikian yang dikatakan Cikal.
“Bagus..bagus…begitu dong teman-teman..menjual itu ternyata ada tekniknya dan kalau kita kuasai tekniknya akan lebih mudah untuk kita dan lebih meyakinkan untuk pelanggan...aku juga belajar teknik-teknik itu supaya waktu bicara tidak hanya menceritakan daftar fitur padahal pelanggan membeli karena punya manfaat terhadap mereka..”. Suti menjelaskan dengan semangat kemudian melanjutkan lagi.

“Nah setelah 3 tahun aku berada di bagian pelatihan suatu hari menjelang 17 Agustus perusahaan melakukan lomba menjual di kalangan karyawan. Siapa saja boleh ikut lomba ini asalkan bukan karyawan penjualan. Kalau karyawan penjualan kan kerja nya jualan jadi tak perlu lagi ikut lomba, kalau mereka ikut lomba kita semua kalah oleh dia. Masa lomba itu selama 1 bulan dan ada hadiah uang untuk pemenangnya. Untuk aku..... ini seperti pucuk dicinta ulam tiba... .. inilah medan perang untuk membuktikan bahwa aku adalah tentara yang sudah terlatih...Dalam satu bulan itu aku sungguh-sungguh mengerjakan tantangan ini. Aku manfaatkan waktu luang sebaik mungkin, aku memanfaatkan semua kenalan dan jaringan yang aku tahu, aku gunakan ilmu-ilmu yang aku pelajari untuk menjual peralatan elektronik yang memang jadi produk jualan perusahaan tempat ku bekerja.......targetku jelas jual sebanyak mungkin dan menjadi pemenang.., tahukah kalian apa yang terjadi...?”

“Kamu menangkan....?” Tika langsung menduga.
“Tidak hanya itu...”. Suti langsung menjawab.
“Apa lagi......???” Ati, Bunda dan Cikal berbareng bertanya.
“Aku menang jadi juara 1, aku dapat hadiah uang dan aku dipromosikan dari OCG di bagian pelatihan karyawan menjadi seorang tenaga penjual. Aku punya jabatan baru namanya Sales Associate, aku punya seragam baru, meja kerja sendiri, diberi HP dan laptop dan tentunya gaji yang baru.... ... luar biasa kan? Itu semua hanya gara-gara aku dianggap pandai menjual...”.

“Hebaaat... Suti..aku makin sadar bahwa segala sesuatu yang engkau telah capai sekarang merupakan perjuangan secara bertahap..dan kau selalu berusaha maju terus..., aku sungguh belajar darimu..”Tika langsung berkomentar. 
“Tika..terima kasih....namun kita harus selalu ingat bahwa setiap peluang baru adalah pintu yang lebih lebar untuk sesuatu yang lebih besar lagi. Kemenangan itu bukan akhir...itu awal untuk perubahan lebih besar lagi karena melalui uang hadiah itu aku bisa membayar uang masuk untuk kuliah S1...aku mengambil kuliah jurusan bisnis di sebuah Perguruan Tinggi yang membuka kelas sore dan akhir pekan. Tidak gampang bagiku mengatur waktu kerja dan belajar sekarang...namun kita semua harus ingat bahwa yang indah di masa depan harus dibayar dengan keberanian berkorban di masa sekarang...”

Ati, Bunda, Cikal dan Tika hanya bisa mengangguk-angguk dengan kagum. Mereka ingin sekali belajar dari keberhasilan Suti.
“Suti..sungguh menginspirasi ya...akhirnya kau bisa kuliah juga..aku ingin belajar resep-resep keberhasilanmu dalam menjual. Kebetulan sedang ada tugas menjual nih di kelas Mandiri Sahabatku...” Sekarang Ati yang gemar belajar memohon sesuatu kepada Suti.
“Pasti..pasti nanti aku ceritakan...” Suti langsung menjawab.
“ Eh ..omong-omong mba Suti berapa lama sih jadi tenaga penjual...koq sekarang katanya sudah Direktur, bagaimana caranya ya..? Bunda yang penuh ambisi juga ingin tahu. 
“Sabar-sabar teman-teman...sekarang kan sudah malam...kita berpisah dulu besok kita teruskan ya....kasihan suami tuh dia sedang menunggu untuk ngobrol menjelang tidur. ......kita sambung besok ya..”Demikian Suti mengakhiri percakapan malam itu.

(bersambung)